POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pemerintah diwakili oleh Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman membeberkan alasan kenapa anggaran program MBG mendompleng di Pos Pendidikan APBN 2026.
Sidang gugatan atau uji program MBG di gedung MK ini dipimpin oleh Ketua MK Suhartoyo, Selasa (14/4).
Luky menegaskan bahwa secara filosofis, pembentukan UU APBN 2026 dan UU Sistem Pendidikan Nasional berpijak pada amanat konstitusi.
“Secara filosofis, Pembentukan UU APBN 2026 dan UU Sisdiknas berpijak pada amanat alinea keempat Pembukaan UUD NRI Tahun 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan kesejahteraan umum. APBN merupakan instrumen kedaulatan rakyat yang dikelola secara terencana untuk mencapai tujuan bernegara tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: Di Sidang MK, Komisi III DPR Jelaskan Alasan MBG Mendompleng ke Pos Pendidikan APBN 2026
Luky juga menambahkan bahwa pendidikan tidak hanya terbatas pada proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi mencakup pembangunan manusia secara menyeluruh.
“Pendidikan merupakan mandat konstitusional yang mencakup kesiapan kognitif, afektif, dan fisik peserta didik,” katanya.
Pemerintah menegaskan penganggaran intervensi gizi melalui program makan bergizi gratis (MBG) merupakan bagian integral dari kebijakan pendidikan nasional.
“Kecukupan gizi merupakan prasyarat fundamental bagi optimalisasi proses belajar dan perkembangan kecerdasan peserta didik,” jelasnya.
Baca Juga: Sidang Gugatan MBG di MK, Kenapa Program Prioritas Prabowo Mendompleng ke Anggaran Pendidikan 2026
Kemudian, Luky juga menegaskan bahwa program MBG merupakan investasi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Program MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar-mengajar,” ujarnya.
Luky pun mencontohkan praktik di berbagai negara seperti Jepang, Finlandia, dan Brasil yang telah mengintegrasikan program makan di sekolah sebagai bagian dari sistem pendidikan.
Selain itu, berdasarkan kajian global, investasi pada program makan sekolah memiliki dampak ekonomi yang signifikan.
“Setiap satu dolar yang diinvestasikan dapat menghasilkan manfaat hingga tujuh hingga tiga puluh lima dolar dalam jangka panjang,” ungkapnya.***




