POJOKSATU.id – Ramadan tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga waktu ketika peran sosial organisasi keagamaan terlihat begitu menonjol.
Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, kembali menjadi sorotan publik karena besarnya kontribusi sosial mereka didukung oleh aset yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah.
Dikutip PojokSatu.id dari laporan CNBC Indonesia, total aset tanah dan bangunan Muhammadiyah diperkirakan berada di kisaran Rp 400 triliun.
Angka ini disusun berdasarkan data kepemilikan tanah, gedung pendidikan, fasilitas kesehatan, dan jaringan lembaga sosial yang tersebar di berbagai wilayah.
Sementara itu, laporan statistik yang dirilis Goodstats memperkirakan kekayaan Muhammadiyah mencapai Rp 454–460 triliun.
Menjadikannya salah satu organisasi keagamaan dengan aset terbesar di dunia.
Baca Juga: Mengapa Indonesia Kerap Berbeda Awal Puasa dan Lebaran? Inilah Sebabnya!
Aset raksasa itu tidak muncul begitu saja. Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah membangun jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang meliputi ribuan sekolah.
Ratusan rumah sakit dan klinik, universitas, serta lembaga sosial. Pada bulan Ramadan, infrastruktur besar inilah yang menjadi tulang punggung berbagai layanan umat.
Laporan CNBC Indonesia mencatat bahwa rumah sakit Muhammadiyah ‘Aisyiyah rutin membuka layanan kesehatan gratis atau diskon untuk jamaah selama Ramadan.
Baca Juga: VIRAL Tabungan Siswa SD Rp2,5 Miliar Hilang, KDM Siap Turun Tangan Bongkar Dalangnya!
Termasuk program donasi darah dan edukasi kesehatan untuk masyarakat.
Di sektor pendidikan, sekolah dan kampus Muhammadiyah menjadi pusat berbagai kegiatan keagamaan seperti pesantren kilat, kajian Ramadan, hingga distribusi paket sembako.
Meski nilainya fantastis, aset Muhammadiyah dikelola bukan untuk kepentingan individu, melainkan sepenuhnya untuk pelayanan umat.
Struktur kepemilikan terletak pada organisasi dan amal usaha, bukan perorangan.
Inilah yang membuat aset besar Muhammadiyah dianggap sebagai model ekonomi sosial unik yang terus relevan, terutama saat Ramadan.***




