POJOKSATU.ID- Markas Polda Metro Jaya digeruduk ratusan Massa berasal dari mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UTA '45) Jakarta pada Kamis (7/3/2024).
Dalam aksi ini mereka menuntut proses hukum terhadap civitas akademika dari kampus itu dihentikan. Sebab diduga sarat kriminalisasi.
"Kami hadir ke sini untuk mendukung salah satu aset bangsa dalam memperjuangkan perguruan tinggi di republik ini," kata koordinator aksi, Ahmad Robertus Rusmiarso di lokasi.
Diketahui civitas akademika kampus itu yang merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Jakarta, Rudyono Darsono dilaporkan ke Polda Metro Jaya terkait keterangan palsu di pengadilan.
Pelapor TW, disebut merupakan pihak yang kalah dalam sengketa kepemilikan atas lahan perguruan tinggi tersebut.
Menurut Ahmad, sebelum Rudyono ada di UTA '45 Jakarta tanah kampus itu kerap diperjualbelikan. Bahkan, kata dia, jika tak ada Rudyono kampus itu sudah bubar sejak lama.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan Temukan Korban Tenggelam di Danau Toba dalam Kondisi Meninggal Dunia
"Kalau tidak ada dia, kampus sudah bubar dari dulu. Program-programnya sudah dihapus di Kopertis," ujarnya.
Rudyono, kata Ahmad membantu mengelola perguruan tinggi dengan tujuannya mulia.
Ia ingin memperjuangkan keberadaan lembaga pendidikan seperti UTA '45 Jakarta, demi lebih banyak anak bangsa yang tercerdaskan.
Bukan demi mencari materi. Sebab Rudyono merupakan sosok yang telah berkecukupan.
"Dia rela berkorban untuk UTA '45 Jakarta. Dia orang kaya usahanya di dalam dan luar negeri. Nggak butuh uang lagi, tapi dia masih concern sama pendidikan," tandas Ahmad.
"Karena itu kami mahasiswa 17 Agustus 1945 Jakarta mendukung perjuangan Bapak Rudyono Darsono untuk terus memperjuangkan keberadaan Universitas," sambung Ahmad.
Sementara itu, Rektor UTA '45 Jakarta Rajes Khana mengungkapkan bahwa apa yang disampaikan Rudyono di pengadilan dan saat ini dipermasalahkan dan sudah disumpah kebenarannya.
Apalagi saat itu, terdakwa yang kini menjadi pelapor, tak keberatan dengan keterangan Rudyono.
Baca Juga: Penetapan Awal Ramadan 2024 Berpotensi Berbeda, Menag Yaqut: Tetap Jaga Toleransi
"Saat itu tidak ada keberatan dari terdakwa," ungkap Rajesh.
Rajes pun merasa aneh dengan kasus ini. Sebab pihak yang jelas-jelas tak memiliki hak atas lahan justru memproses hukum pemilik sah. Apalagi, kata dia, pelapor sudah dijatuhi pidana penjara selama dua tahun.
"Orang yang sudah diputus pengadilan sebagai pemalsu akta tanah, kok malah diduga kriminalisasi pemilik tanah," tutur Rajes.
Hal yang sama juga disampaikan, Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945, Bambang Sulistomo. Ia mengungkapkan dirinya merasa aneh dengan proses hukum yang menjerat Rudyono.
Pasalnya jika Rudyono diproses hukum apalagi hingga ke tahap selanjutnya, sama saja mengabaikan putusan pengadilan yang menyatakan bahwa keterangan Rudyono benar dalam perkara sengketa lahan.
"Apakah kepolisian akan menisbikan keputusan hakim, yang waktu itu sudah mengadili soal itu?," tandasnya.
"Kami meminta kasus ini dihentikan karena sarat kriminalisasi dan melukai hati civitas akademika yang selama ini berjuang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa," tegasnya. ***



