POJOKSATU.ID - Ucapan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat kunjungan ke Pengukuhan Pengurus Pimpinan.
Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah Masa Khidmat 2025–2029 di Pondok Pesantren As Shodiqiyah, Minggu 2 November 2025.
menggambarkan pandangan visioner tentang masa depan dunia pendidikan pesantren di Indonesia.
Ia menekankan pentingnya membentuk generasi santri yang tidak hanya menguasai ilmu agama dan kitab kuning.
Baca Juga: Menambal Luka Merapi, Upaya Pemulihan 300 Hektare Hutan Konservasi yang Rusak Akibat Tambang Ilegal
Tetapi juga memahami teknologi modern seperti blockchain dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Gagasan tersebut langsung menarik perhatian publik karena menawarkan cara pandang baru terhadap peran pesantren di era digital.
Selama ini, pesantren identik dengan pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman dan tradisi keilmuan klasik.
Namun, melalui inisiatif ini, Gibran ingin mendorong lembaga pendidikan keagamaan agar tidak tertinggal dari perkembangan teknologi global.
Baca Juga: BAZNAS Buka Pendaftaran Beasiswa Cendekia Timur Tengah 2025, Simak Syarat dan Jadwal Lengkapnya
Pesantren diharapkan menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Santri bukan hanya diasah dalam bidang moral dan spiritual, tetapi juga dibekali kemampuan teknologi dan literasi digital agar mampu berkontribusi dalam ekonomi modern.
Konsep ini menandai perubahan besar dalam arah pembinaan pendidikan pesantren.
Dari yang sebelumnya berfokus pada pembentukan karakter religius, kini diperluas menjadi ruang bagi lahirnya talenta digital berwawasan etika.
Yang mampu menjembatani nilai-nilai keislaman dengan inovasi teknologi masa depan.
Gibran menegaskan pemerintah berkomitmen menjadikan santri sebagai bagian dari revolusi teknologi nasional.
Menurutnya, generasi muda pesantren memiliki potensi besar karena dikenal tekun, disiplin, dan memiliki dasar moral kuat.
Tiga modal utama untuk belajar teknologi yang cepat berubah.
Baca Juga: Anies Seperti Tak Percaya! 20 Persen Janji Prabowo-Gibran Disebut Sudah Terealisasi
Visi ini bukan sekadar retorika.
Kementerian Agama dan Kementerian Komunikasi & Informatika dikabarkan tengah menyiapkan program “Santri Digital Academy”.
Tempat santri dari berbagai daerah akan mendapat pelatihan dasar coding, data science, hingga pemahaman etika digital.
Di banyak pesantren, perubahan ini mulai terasa. Di Pesantren Tebuireng, Jombang.
Baca Juga: Bukan Cuma Warung, Supermarket di Depok Ikut Tumbang Digerus Minimarket
Misalnya, beberapa santri sudah mempelajari machine learning dasar lewat workshop daring.
Sementara di Bandung, Pesantren Al-Masthuriyah menggandeng startup lokal untuk mengajarkan literasi digital berbasis syariah.
KH Abdul Kadir mengatakan teknologi bukan sesuatu yang bertentangan dengan agama. Justru bisa jadi alat dakwah yang efektif.
"Langkah pemerintah mendorong santri melek AI merupakan “ikhtiar baik untuk menjembatani ilmu dunia dan akhirat.” ujarnya, dikutip beritasatu.com, Senin 3 November 2025.
Transformasi ini memang tidak mudah.
Sebagian pesantren masih menghadapi keterbatasan fasilitas internet dan tenaga pengajar digital.
Namun semangat untuk beradaptasi sudah mulai tumbuh.
Banyak pesantren kini membuka diri terhadap pelatihan daring dan kolaborasi dengan kampus teknologi.
Langkah Gibran tak lepas dari visi besar pemerintah menuju Indonesia Emas 2045, negara maju dengan sumber daya manusia unggul.
Baca Juga: SK PPPK Paruh Waktu Mulai Dicetak Massal! Cek Daftar Instansi yang Sudah Siap Serahkan
Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa pemerataan literasi teknologi menjadi kunci.
Tidak hanya di kota besar, tapi juga di pesantren, madrasah, dan sekolah keagamaan.
Menurut Gibran, dunia masa depan tidak lagi membedakan antara “lulusan pesantren” atau “lulusan universitas teknologi”.
Semua akan dinilai dari kemampuan adaptasi, kreativitas, dan inovasi.
Baca Juga: BPBD Depok Baru Terbentuk 2027, Wali Kota Supian Suri Minta Aparat Wilayah Tingkatkan Mitigasi
Meski gagasan ini disambut positif, sejumlah pengamat menilai perlu strategi matang agar mimpi tersebut tidak berhenti di wacana.
Pemerintah sendiri menyebut akan menggandeng sejumlah perguruan tinggi dan mitra industri teknologi untuk mempercepat program pelatihan santri digital.
Langkah ini diharapkan mampu mencetak ribuan “santri developer”.
Yang kelak bisa bersaing di pasar kerja global, tanpa meninggalkan akar spiritual mereka.
Perubahan zaman tidak menunggu.
Dan dunia pesantren tampaknya mulai menjawab tantangan itu.
Dari langgar kecil di desa hingga kampus pesantren modern, semangat baru sedang tumbuh, santri yang tak hanya bisa mengaji, tapi juga menginspirasi dunia lewat teknologi.
Mimpi Gibran mungkin terdengar besar, santri Indonesia menuju Silicon Valley.
Baca Juga: Viral Dugaan Pungli ASN Deliserdang, Gubernur Bobby Nasution Panggil Bupati, Ini Hasilnya
Namun, sebagaimana pesan moral dalam banyak kitab klasik, “Setiap niat baik, bila diiringi usaha dan ilmu, akan sampai pada tujuan”.
Barangkali inilah awal dari perjalanan panjang itu.***




