POJOKSATU.ID - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perbincangan hangat setelah Yasika Group meresmikan 10 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru di Kabupaten Bone.

Bukan hanya karena ekspansi masifnya, tetapi juga karena sosok di balik pengelolaannya Yasika Aulia Ramadhani, putri sulung Wakil Ketua DPRD Sulsel Yasir Machmud yang kembali menyita perhatian publik.

Sebagai Pembina Yayasan Yasika Group, Yasika kini menaungi total 41 dapur SPPG yang tersebar di berbagai wilayah Sulawesi Selatan.

Baca Juga: 50 Contoh Soal UTS-PTS IPA Kelas X Semester Ganjil, Pengukuran Ilmiah, Keanekaragaman Hayati hingga Energi

Dengan peresmian 10 dapur baru di Kabupaten Bone, pengaruh yayasan yang dibawahi Yasika semakin meluas.

Namun, di luar capaian tersebut, publik justru lebih ramai memperbincangkan posisi Yasika yang dinilai menonjol dalam program sosial berskala provinsi ini.

Peresmian dapur MBG di Jalan Merdeka, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang, pada Jumat (14/11/2025), berlangsung meriah.

Baca Juga: 50 Contoh Soal UTS-PTS Matematika Kelas X SMA Semester Ganjil, Pahami Fungsi dan Grafik, Trigonometri Dasar, Geometri Analitik

Sejumlah pejabat hadir, mulai dari Wakil Gubernur Sulsel Fatmawati Rusdi hingga Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi.

Kehadiran para tokoh politik ini semakin mempertebal kesan bahwa program MBG tidak hanya soal pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga berkaitan dengan dinamika kekuasaan lokal.

Publik mempertanyakan apakah pengelolaan puluhan dapur SPPG oleh Yayasan Yasika Group murni soal kapasitas, atau bagian dari pola lama di mana program publik berjalan seiring dengan penguatan citra keluarga pejabat.

Meski tidak ada pelanggaran aturan yang ditunjukkan, sorotan terhadap potensi konflik kepentingan menjadi pembahasan tersendiri di ruang publik.

Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Mahasiswa Hukum UMA Medan Bonio Raja Gadja Ditangkap, Diduga Teman Korban Sendiri

Program MBG sejatinya bertujuan mulia: memastikan warga Sulsel, terutama anak-anak sekolah, mendapatkan asupan bergizi.

Namun dalam perkembangannya, perhatian publik tampak lebih terarah pada siapa yang berada di balik yayasan pengelola, bukan pada efektivitas distribusi gizi itu sendiri.

Ini bukan pertama kalinya program sosial berskala besar dikaitkan dengan figur politik dan keluarganya.

Baca Juga: Jangan Salah! Tidak Semua Keluarga PNS Bisa Terima Pensiun. Ini Syarat Ahli Waris yang Diakui Negara

Kehadiran pejabat penting dalam peresmian dapur MBG di Bone menambah ramai pembahasan tersebut.

Bagi sebagian masyarakat, momentum ini seolah menjadi panggung politik yang menghadirkan citra bahwa program publik juga dapat memperkuat eksistensi keluarga elite.

Di media sosial, warganet mempertanyakan transparansi, mekanisme kemitraan yayasan, serta akuntabilitas pendistribusian MBG di lapangan.

Baca Juga: Heboh! Warga Temukan Bayi yang Hampir Membeku di Tempat Sampah Cipayung

Di sisi lain, Yayasan Yasika Group menegaskan bahwa mereka bekerja sepenuhnya untuk masyarakat, memastikan setiap dapur SPPG berfungsi maksimal.

Pembukaan dapur di Bone diklaim sebagai langkah mempercepat pemerataan akses gizi di wilayah-wilayah yang membutuhkan perhatian serius.

Meski demikian, dinamika komentar publik menunjukkan bahwa program sebesar MBG tidak bisa lepas dari pengawasan.

Apalagi ketika figur yang terlibat memiliki latar belakang keluarga politik yang kuat.

Baca Juga: Keberanian Alumni Bongkar Luka Lama, Korban Asusila Oknum Guru Surade Akhirnya Bicara Setelah Bertahun Tahun

Publik menilai agar program ini tidak sekadar sukses secara seremonial, tetapi juga terbukti secara nyata menurunkan angka malnutrisi dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Perluasan dapur MBG di Bone ini menjadi momentum evaluasi apakah program ini berjalan sebagai layanan publik murni, atau sekaligus panggung penguatan citra keluarga tertentu?

Masyarakat kini menunggu jawaban dari kinerja lapangan, bukan hanya dari acara peresmian.***