POJOKSATU.ID - Badan Gizi Nasional (BGN) resmi meluncurkan layanan aduan terpadu Sahabat Sentra Aduan Gizi Interaktif (SAGI) 127.
Sebuah call center yang beroperasi 24 jam untuk menampung laporan masyarakat terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperkuat transparansi, pengawasan, dan kualitas layanan gizi yang kini berjalan di ribuan dapur MBG di seluruh Indonesia.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan bahwa hadirnya layanan 127 merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan hak anak atas makanan bergizi terpenuhi tanpa hambatan.
Dengan lebih dari 15.267 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di 38 provinsi, kanal aduan yang mudah diakses dinilai krusial untuk memonitor kualitas menu, distribusi, hingga potensi penyimpangan di lapangan.
Melalui SAGI 127, publik kini bisa melaporkan berbagai masalah, mulai dari makanan yang dianggap kurang layak, distribusi yang tidak tepat waktu, insiden keracunan, hingga dugaan penyimpangan oleh pengelola dapur.
Baca Juga: Update Terbaru! Langkah Praktis Membuat SKP dan RHK 2025 Lewat e-Kinerja BKN
BGN menyiapkan 127 petugas khusus yang berjaga penuh selama 24 jam untuk menerima laporan dan melakukan tindak lanjut secara terstruktur.
Layanan ini tidak hanya diperuntukkan bagi siswa penerima MBG, tetapi juga orang tua, sekolah, penyedia layanan makanan, hingga masyarakat umum.
Sebelum adanya SAGI 127, BGN hanya memiliki dua nomor hotline yang beroperasi pada jam tertentu, sehingga banyak laporan tidak bisa masuk atau sulit ditangani dengan cepat.
Peluncuran call center baru ini dianggap sebagai peningkatan besar dalam mekanisme pengawasan program MBG yang kini menjangkau lebih dari 44 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Meski demikian, efektivitas layanan ini akan diuji dari kecepatan BGN dalam menindaklanjuti setiap laporan yang masuk.
Banyak kasus di lapangan seperti menu yang tidak sesuai standar, dapur yang belum bersertifikat higienis, hingga dugaan penyimpangan dana operasional menjadi perhatian publik dan memerlukan penanganan cepat.
SAGI 127 diharapkan dapat memangkas rantai birokrasi agar penyelesaian masalah berlangsung lebih responsif dan akurat.
Selain untuk menerima pengaduan, BGN juga mengarahkan SAGI 127 sebagai pusat konsultasi gizi.
Orang tua atau sekolah dapat menanyakan standar menu, pola penyajian yang benar, hingga kebutuhan gizi ideal sesuai usia.
Dengan begitu, layanan ini bukan hanya kanal kritik, tetapi juga ruang edukasi yang bisa memperbaiki pemahaman publik tentang gizi seimbang.
Meskipun langkah ini mendapat apresiasi dari banyak pihak, sebagian masyarakat mengingatkan agar BGN tidak berhenti pada peluncuran layanan saja.
Mereka menuntut adanya jaminan bahwa setiap aduan benar-benar ditindaklanjuti hingga tuntas, bukan hanya dicatat tanpa hasil.
Transparansi laporan, publikasi tindak lanjut, serta evaluasi rutin menjadi kunci agar SAGI 127 tidak sekadar formalitas.
Baca Juga: Daur Ulang Jadi Cuan! Inovasi RVM BRI di KOPLING 2025 Dipuji Menteri UMKM dan Raffi Ahmad
Dengan peluncuran call center ini, BGN berharap program MBG semakin akuntabel dan terbebas dari penyimpangan.
Layanan SAGI 127 menjadi pintu baru bagi masyarakat untuk terlibat aktif menjaga kualitas makanan bergizi di seluruh Indonesia.***




