POJOKSATU.ID - Insiden ledakan di area masjid sekolah SMA Negeri 72 Jakarta, Kelapa Gading, pada Jumat 7 November 2025.
Menarik sorotan khusus sebab modus yang muncul mengungkap sisi baru ancaman radikalisasi digital.
Densus 88 menyebut terduga pelaku mempelajari cara membuat bom sendiri melalui tutorial daring dan aktif mengunjungi forum di dunia maya yang memuat konten kekerasan ekstrem.
Berdasarkan keterangan polisi, ditemukan bahwa terduga pelaku menyiapkan bahan peledak secara mandiri.
Baca Juga: Bensin Ajaib dari Jonggol? Fakta di Balik Viral BOBIBOS yang Diklaim Tanpa Emisi
Juru Bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka, menyatakan, dirakit sendiri dan pelaku mengakses melalui internet cara cara merakit bom.
Polisi juga mencatat bahwa pelaku kerap mengakses komunitas daring termasuk situs atau forum gelap “dark web”.
Yang menampilkan video atau foto terkait perang, pembunuhan, hingga aksi sadis.
Temuan ini memperkuat dugaan bahwa proses peradiksian tidak hanya melalui jaringan fisik, melainkan aliran konten digital yang mempengaruhi perilaku.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Tim ke China Bahas Utang Whoosh, Purbaya Yudhi Sadewa Turut Dilibatkan
Insiden di SMA 72 terjadi di ruang suci sekolah, yang semestinya menjadi zona aman bagi pelajar.
Namun fakta bahwa bom rakitan berhasil diledakkan di dua titik area masjid dan kantin sekolah.
Menggambarkan kelemahan deteksi dini terhadap ancaman radikalisme di lingkungan pendidikan.
Lebih lanjut, rekaman CCTV menunjukkan terduga pelaku membawa tas jinjing dan tas sekolah menuju lokasi ledakan.
Kombes Bhudi Hermanto dari Polda Metro Jaya menegaskan bahwa tas membawa benda mencurigakan telah diamati oleh petugas.
Fakta ini menambah urgensi bagi sekolah untuk memperkuat sistem monitoring internal dan memeriksa perilaku siswa yang mungkin terpapar konten ideologis ekstrem.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan, orang tua, dan pembuat kebijakan.
Tentang betapa seriusnya ancaman paparan konten kekerasan serta ideologi ekstrem di dunia maya.
Baca Juga: Benarkah Guru Honorer Swasta Bisa Diangkat Jadi PPPK Paruh Waktu? Ini Penjelasan Resmi Pemerintah
Internet kini bukan hanya ruang informasi, tetapi juga arena rekrutmen ideologis dan penyebaran narasi kebencian yang dapat memengaruhi perilaku remaja secara nyata.
Dampaknya tidak lagi bersifat virtual, sejumlah kasus menunjukkan bahwa paparan ideologi ekstrem.
Secara berulang dapat memicu tindakan destruktif, bahkan kekerasan di lingkungan sekolah.
Para ahli literasi digital menilai bahwa pendidikan literasi media harus menjadi bagian integral dari kurikulum nasional.
Siswa tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana memahami, mengkritisi, dan menyaring informasi secara etis dan rasional.
Dengan bekal literasi digital yang kuat, peserta didik diharapkan mampu mengenali tanda-tanda manipulasi.
Menolak ajakan radikal, dan berani melaporkan konten berbahaya yang mereka temui di internet.
Namun, upaya pencegahan tidak bisa berhenti di ruang kelas.
Diperlukan sistem pendampingan psikologis dan sosial yang responsif bagi siswa yang menunjukkan gejala keterasingan, stres, atau perundungan.
Banyak pelaku tindakan ekstrem berawal dari perasaan terpinggirkan dan kehilangan dukungan emosional.
Yang kemudian mencari pelarian dalam komunitas daring yang menawarkan penerimaan semu namun berideologi keras.
Oleh karena itu, sekolah perlu menyediakan jalur konseling yang aman dan mudah diakses, serta mendorong guru dan orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak.
Lebih luas lagi, sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan platform digital sangat dibutuhkan untuk menciptakan ekosistem daring yang sehat.
Baca Juga: Pesan Kepala BKN di Pelantikan 6.596 PPPK Paruh Waktu, 'Instrumen Ekonomi Daerah'
Pemantauan algoritma, pelaporan konten berbahaya, hingga kerja sama lintas instansi untuk membendung penyebaran narasi ekstrem harus dijalankan secara berkelanjutan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa keamanan digital adalah bagian dari keamanan nasional, dan bahwa pendidikan karakter serta literasi digital bukan sekadar pelengkap.
Tetapi benteng utama dalam melindungi generasi muda dari infiltrasi ideologi berbahaya yang bisa merusak masa depan bangsa.
Penyelidikan masih terus berlangsung, Densus 88 bekerja sama dengan tim forensik dari Polda Metro Jaya dan satuan Gegana.
Baca Juga: Bahlil Lahadalia, Dulu Benci Pejabat, Sekarang Tahu Nikmatnya Jadi Pejabat
Untuk menelusuri asal bahan peledak, mekanisme perakitan, hingga keterkaitan dengan komunitas daring ekstrem.
Hingga saat ini belum dipastikan kelompok mana yang membimbing pelaku secara online.
Yang jelas, sistem daring telah menjadi medium peradiksian baru yang menghubungkan individu ke aksi nyata.
Ledakan di SMA 72 menunjukkan bahwa bahaya radikalisasi tak hanya datang dari jaringan fisik dan ideologi terselubung.
Namun juga dari internet yang mudah diakses oleh generasi muda.
Ketika tutorial bom dan forum kekerasan tersedia secara daring, maka perlindungan terhadap siswa dan kontrol lingkungan sekolah menjadi sangat krusial.
Sekolah, orang tua, dan seluruh pemangku kepentingan harus sadar bahwa idealisme keamanan.
Dan pendidikan tak cukup bila tanpa literasi digital dan deteksi dini terhadap perubahan perilaku siswa.
Di era di mana radikalisasi bisa dipelajari lewat klik, maka kewaspadaan kita wajib diperkuat.***




