POJOKSATU.id - Aktivitas Gunung Anak Krakatau memang mulai menurun.
Namun, pemerintah masih menghadapi sejumlah pekerjaan penting sebelum situasi benar-benar dinilai aman untuk kembali normal.
Setidaknya ada tiga hal yang masih menjadi perhatian, yakni pergerakan abu vulkanik, keamanan penerbangan, serta kondisi perairan Selat Sunda.
Kepala BNPB Suharyanto menyebut aktivitas erupsi saat ini lebih rendah dibandingkan kejadian pada 2018.
Baca Juga: Said Iqbal Sebut IQ Prabkwo 170 Setara Einstein, Klaim Baca 50 Buku Sehari
“Menurut kami BNPB per hari ini, untuk kondisi erupsinya ini sudah menurun. Kami membandingkan kondisi 2026 ini dengan erupsi 2018, di mana di 2018 itu terjadi sama, hampir sama, tetapi tingkat erupsinya lebih tinggi daripada 2026,” ujar Kepala BNPB.
Meski begitu, abu vulkanik sebelumnya telah memengaruhi DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, dan Sumatra Selatan.
Dampaknya bahkan membuat delapan bandara terdampak penutupan.
Kondisi penerbangan kini mulai menunjukkan perkembangan positif.
Baca Juga: Puisi 'Sontoloyo' Fadli Zon 2018 Kembali Disorot, Kini Ia Justru Duduk di Kabinet Prabowo
Hasil paper test di Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, dan Budiarto Curug menunjukkan hasil negatif terhadap debu vulkanik.
Di Soekarno-Hatta, pengujian tersebut bahkan sudah empat kali berturut-turut menunjukkan hasil negatif.
“Untuk Soekarno-Hatta ini empat kali berturut-turut paper test-nya telah menunjukkan hasil negatif, artinya tidak ada debu vulkanik yang terpantau dari paper test ini. Hal ini terus kami komunikasikan dengan VAAC yang ada di Darwin agar sigmetnya (significant meteorological information) dapat dipulihkan,” ungkap Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Baca Juga: Bandara Soetta dan 4 Bandara Lainnya Dibuka Lagi Usai Ditutup Imbas Erupsi Anak Krakatau
Namun, hasil tersebut tetap harus dibaca bersama kondisi atmosfer.
BMKG masih berkoordinasi dengan Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin untuk memantau pergerakan abu dan menyesuaikan informasi meteorologi penerbangan.
Pemerintah juga berupaya membantu mempercepat luruhnya abu dari atmosfer.
BNPB bersama BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan memanfaatkan potensi awan hujan.
Baca Juga: Febiona Purban Korban Keracunan MBG Bolak-balik Rumah Sakit, BGN Belum Yakin Hilang Ingatan
BMKG memperkirakan terdapat peluang hujan ringan hingga sedang pada 9–12 September 2026 di wilayah terdampak.
“Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini akan ada potensi awan dan juga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Untuk itu nanti akan kami pertebal dengan OMC bersama dengan BNPB,” ujar Teuku Faisal.
Dari sisi angin, situasi juga mulai memberikan harapan.
Arah angin di berbagai lapisan ketinggian telah bergeser ke barat, barat laut, dan barat daya sehingga tidak lagi mengarah ke tenggara seperti sebelumnya.
Baca Juga: Tiga Bandara Kembali Beroperasi, Apa yang Berubah Setelah Abu Vulkanik Anak Gunung Krakatau?
Sementara di laut, kewaspadaan tetap dijaga. Sebanyak 20 perangkat pemantauan tsunami di sekitar Selat Sunda terus digunakan untuk mendeteksi kemungkinan perubahan muka air laut.
Hingga laporan disampaikan, belum ditemukan anomali kenaikan muka air laut yang berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau.
Pemantauan tersebut diperkuat dengan sensor seismograf dan high frequency radar.
Untuk sektor pelayaran, aktivitas kapal juga dibatasi dalam radius tiga kilometer dari kawah selama status Anak Krakatau masih Level III atau Siaga.
Baca Juga: Jangan Anggap Sepele Abu Vulkanik, Mata dan Pernapasan Harus Dilindungi
Di tengah berbagai langkah tersebut, pemerintah mencatat belum ada korban jiwa, kerusakan, maupun daerah yang menetapkan status kedaruratan akibat kejadian ini.***




