Oleh: Sugeng Budiharsono

Kondisi dunia saat ini penuh ketidakpastian. Akibat adanya perubahan iklim drastis, dan perang di berbagai belahan dunia. Hal ini akan berpengaruh terhadap pangan dan energi pada suatu negara  Dengan kondisi seperti ini, maka setiap negara akan lebih mementingkan kebutuhan negaranya sendiri. Maka amat tepat ketika Presiden Prabowo untuk meningkatkan ketersediaan pangan dan energi dalam negeri. 

Peningkatan penyediaan pangan dan energi dalam waktu segera tidak dapat dilakukan dengan membangun baru food estate, tapi mengembangkan sentra-sentra produksi pangan yang sudah ada dengan ditingkatkan produktivitasnya dan diperlakukan sebagai food estate. 

Sentra-sentra produksi pangan ada di Jawa, Bali, NTB dan Sulawesi. Pengembangan food estate di daerah tersebut dapat dilakukan dengan berbasis daerah irigasi. Sedangkan di luar Jawa dapat dilakukan di Kawasan Transmigrasi (KTrans), yang tersebar dari Sumatera sampai Papua 

Kawasan Transmigrasi memiliki lahan untuk budidaya padi seluas 3,3 juta hektar, lahan untuk jagung 310 ribu hektar, dan perkebunan kelapa sawit 1,14 juta hektar. Dengan produktivitas yang ada saat ini, maka dengan intensifikasi dan perlakuan sebagai food estate, produktivitas dapat ditingkatkan antara 20-40 %. Belum lagi ada tambahan nilai tambah apabila produk tersebut diolah.

Pengembangan food estate di KTrans memiliki beberapa kelebihan antara: (1) tidak melanggar EUDR, karena sebagian besar perkebunan sawit dikembangkan sebelum 31 Desember 2020: (2) tidak dimulai dari nol, dan lahan padi sawah sudah stabil. Sehingga produksi tanaman pangan langsung dapat dilskukan dabln ditingkatkan, (3) tersrbar di suruh Indonesia, sehingga memudahkan untuk pendistribudian hasil pertaniannya ke lokasi-lokasi terdekat dengan KTrans yang rawan pangan; (4) melibatkan petani langsung, sehingga pengembangan food estate berdampak langsung kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat; (5) sudah ada kelembagaan di aras petani. Namun perlu ada rekayasa sosial ulang, karena selama ini petani melakukan dalam kelompok kecil; dan (6) sudah tersedia infrastruktur walau belum optimal.

Pengembangan food estate dapat belajar dari pengembangan food cluster atau agrifood ckuster di Belanda. Belanda dalam hal ini Wageningen University and Research (WUR) telah berhasil Metropolitan Food Cluster (MFC) atau Klaster Pangan Kota Metropolitan (KPKM). KPKM dikembangkan di pinggiran kota besar, sebagian produsen pangan, dan dipasarkan di kota besar tersebut.

Pengembangan KPKM di Belanda dilakukan di kota kecil Venlo. Hasil pangan di kota Venlo inibuntuk mendukung pangan di Ruhr Area, di Jerman yang jumlah penduduknya mencapai 7 juta jiwa.

Menurut Peter Smeets (2012) ada tiga faktor penentu keberhasilan KPKM, yaitu Hardware, Orgware dan Software. Namun kalau mau diterapkan di Indonesia dalam kaitannya dengan pengembangan  food estare  di KTrans, perlu ditambahkan faktor brainware, atau sumber daya manusia berpikir  (intelectual  capital).  Bahkan sumber daya manusia berpikir ini faktor penting dalam pengembangan food estate di KTrans. Setelah itu faktor Orgware, Software dan Hardware atau BOSH. Secara rinci uraian tentang BOSH.

Brainware

Brainware merupakan faktor yang sangat penting, yaitu faktor pertama dan utama. Dalam hal ini adalah petani di KTrans. Petani tersebut baik dari asal transmigran maupun penduduk lokal. Para petani saat ini terdiri dari berbagai kohort generasi, ada sedikit Baby boomer, sebagian Gen X, dan sebagian besar Gen Y (milenial), dan sebagian Gen Z. Seluruh kohort generasi tersebut perlu ditingkatkan kapasitas dan kapabilitasnya dalam rangka untuk meningkatkan produktivitas pangan dan energi.

Peningkatan kapasitas dan kapabilitas brainware disesuaikan dengan target yang akan dicapai pada jangka waktu tertentu. Sebagai contoh bahwa dalam dua puluh sampai dua puluh lima tahun mendatang sudah menggunakan pertanian digital (digital agriculture). Tentu saja peningkatan kapasitas dan kapabilitas untuk setiap kohort generasi berbeda caranya untuk dapat mencapai pertanian digital 

Cara peningkatan kapasitas dan kapabilitas petani dapat melalui pendidikan formal, pelatihan, maupun pendampingsn. Untuk Gen Z dan Alfa (generasi pasca Gen Z), dan Gen Y akhir dapat melalui pendidikan sampai perguruan tinggi.  Tidak harus ke luar negeri, karena banyak perguruan tinggi di Indonesia seperti IPB University, sudah mengembangkan pendidikan pertanian digital. Sedangkan untuk petani Gen Y, X, dab Baby boomer dapat ditingkatkan kapasitas dan kapabilitasnya melalui pelatihan dan pendampingan.

Peningkatan kapasitas dan kapabilitas ini bukan hanya teknis budidaya tanaman. Tetapi juga pasca panen, pengolahan menjadi bahan jadi. Sampai promosi dan pemasaran dan distribusinya. Peningkatan kapasitas dan kapabilitas untuk setiap KTrans perlu dibuat peta jalannya (road map), mengingat rentang waktunya panjang antara dua puluh sampai dua puluh lima tahun. 

Pendamping sebaiknya berasal dari lokasi KTrans ysng bersangkutan. Karena mereka mampu memahami kondisi masyarakatnya dan dapat berkomunikasi dengan baik sesuai bahasanya. Jadi calon pendamping yang sesuai dengan kriteria yang  ditetapkan, kemudian dididik dan dilatih, agar memahami betul tentang substansi pengembangan pangan dan energi di lokasinya. Pendamping juga dapat berasal dari dosen pertanian perguruan tinggi terdekat. Mereka juga dididik dan dilatih. Kemudian mereka mendampingi dalam waktu yang telah ditentukan.

Orgware

Orgware atau kelembagaan merupakan faktor penting lainnya. Karena pengelolaan lahan pertanian tidak lagi bersifat individual luas lahan pertaniannya juga tidak hanya berapa hektar tapi dari belasan ribu hektar sampai puluhan ribu hektar. Jadi KTrans tersebut  dikelola oleh suatu manajemen, dari, oleh, dan untuk petani di KTrans tersebut. Manajemen KTrans ini merupakan local champion yang mau membangun KTransnya dengan ikhlas. 

Perubahan pengelolaan dari individual ke sebuah pengelolaan yang besar ini perlu ada pengubahan pola pikir dari para petaninya, yaitu dari petani kecil menjadi pengusaha. Agar petani tidak hanya memproduksi lalu menjualnya. Petani harus dapat memproduksi, lalu kalau dapat mengolahnya terlebih dahulu, baru menjualnya. Untuk wadah usaha, manajemen pengelola KTrans dapat membentuk koperasi atau perseroan terbatas, yang dikelola secara profesional.

Software

Pada masa mendatang software merupakan hal yang penting. Apalagi kalau yang dikembangkannya adalah pertanian digital. Software ini meliputi kreativitas, dan penelitian dan pengembangan dalam rangka pengembangsn inovasi. Kreativitas dan inovasi ini merupakan hal yang sangat penting dalam rangka peningkatan produktivitas, dan efisiensi. Sehingga dapat meningkatkan daya saing. 

Pengembangan inovasi dapat dilakukan dengsn adanya kolaborasi antara perguruan tinggi bidang pertanian, pemerintah dan pelaku usaha dalam triple helix of innovation. Di Belanda kolaborasi triple helix ini disebut golden triangle. Karena dengan hanya triple helix saja dapat mendorong Belanda menjadi eksportir  pertanian nomor dua di dunia. Jadi tidak perlu dengan menggunakan istilah yang aneh-aneh agar terlihat mentereng, tapi hasilnya bukan inovasi, hanya dokumen kerjasama. 

Bentuk nyata dari peran perguruan tinggi, misalnya adalah meneliti benih unggul. Kemudian perguruan tinggi tersebut dapat membuat kebun benih di lokasi KTrans dengan skala bisnis, untuk kebutuhan KTrans  maupun daerah sekitar KTrans tersebut. Sehingga perguruan tinggi tersebut dapat mengimplementasikan hasil penelitian, menguntungkan dari sisi bisnis, bermanfaat bagi masyarakat, dan menjadi laboratorium  sosial bagi perguruan tinggi tersebut.

Hardware

Hardware atau ada juga yang menyebutnya technoware berkaitan dengan pengembangan mulai dari benih unggul, pupuk, irigasi, penggunaan rumah kaca modern, pemeliharaan, pemberantasan hama dan penyakit, pemeliharaan, pengolahan pasca panen, pengolahan hasil pertanian, promosi dan pemasaran, sampai kepada pengangkutan untuk pendistribudian. Apalagi kalau sampai pada pertanian digital, tentu akan menggunakan teknologi digital baik dari hasil Revolusi Industri 4.0 , maupun 5.0. 

Di sinilah pentingnya brainware petani yang memiliki kapasitas dan kapabilita yang tinggi, karena teknologi yang digunakan tinggi. Pengetahuan petani harus terus menerus, karena perkembangan teknologi tidak lagi linier, tapi eksponensial.

Silve de Wilde (2016) dari STT Netherlanda Study Center for Techlogy Trends dalam bukunya The Future of Technology in Agricukture menyatakan bahwa banyak teknologi dari Revolusi Industri 4 0 yang dapat digunakan untuk pertanian.

Teknologi tersebut antara lain robot, sensor, modifikasi cuaca, material cerdas dan lain sebagsinnya. Belum lagi dari teknologi produk Revolusi Industri 4.0 dan 5 0 seperti kecerdasan buatan. Internet, drone, augmented reality, dan virtual reality, dan lainnya. Tidak mustahil dalam beberapa tahun lagi sudah ada Revolusi Industri 6.0 atau bahkan 7.0 yang dapat dimanfaatkan teknologinya untuk pertanian.

Semoga dengan penerapan BOSH yang baik, pengembangan food estate di KTrans akan berhasil seperti pengembangan KPKM di Belanda. ***

Penulisa adalah Pengamat sosial ekonomi dan politik dari Komunitas Berbagi Ilmu