Oleh: Dahlan Iskan
Lihatlah sirkuit Mandalika. Ketika lagi tidak ada MotoGP. Lihatlah dari dalam. Jangan dari luar.
Saya ke sirkuit Mandalika, Lombok, hari Minggu pagi kemarin. Awalnya sekadar ingin tahu.
Dua kali diselenggarakan MotoGP di Mandalika saya tidak ikut nonton. Saya hanya mengikutinya dari media.
Baca Juga: Apresiasi Aksi Barber di Medan Peduli Palestina, Bobby Nasution Ikut Pangkas Rambut Amal
Maka ketika harus ke Lombok saya pilih bermalam di hotel baru dekat sirkuit: Hotel Pullman.
Indah. Menghadap pantai Kuta. Persis di sebelah Novotel –hotel perintis di Mandalika: dibangun sekitar 30 tahun lalu –ketika Kuta belum punya nama Mandalika.
Tentu saya juga pernah bermalam di Novotel. Di salah satu cottage-nya yang sangat nyaman.
Baca Juga: Berharap Bisa Pecahkan Rekor Wali Kota Medan, Kaesang Minta Bobby Nasution Tak Kena Penjara
Pagi-pagi saya senam di pantai Pullman. Sendirian. Satu jam. Sambil menunggu penerbangan siang saya minta diantar ke sirkuit.
Dari luar sirkuit ini sangat tidak menarik. Pagar kelilingnya itu lho! Seperti pagar untuk tanah yang tidak kunjung dibangun.
Terbuat dari lempengan-lempengan beton kusam. Saya pikir di dalam pagar itu tanah yang akan dibangun suatu proyek yang tertunda.
Baca Juga: Manuver Gibran ke Prabowo Dianggap Bukan Penghianatan Jokowi ke PDIP, Tapi Soal Ini
Bagaimana bisa pagar jenis ini yang dipilih untuk menyembunyikan sirkuit dari jalan raya. Padahal ini sirkuit kelas dunia.
Ini seperti daging wagyu yang dibungkus kertas koran bekas.
Mungkin supaya murah. Pengerjaannya cepat. Atau itu memang pagar proyek. Ketika proyeknya sudah jadi pagarnya lupa diganti.
Pagar kusam ini begitu panjang. Mencolok –jeleknya. Tidak cocok dengan nama besar sirkuit Mandalika.
Tentu bukan karena lupa. Tidak mungkin lupa selama dua tahun.
Mungkin soal biaya.
Baca Juga: Nusron Wahid Heran Pernyataan Megawati Sebut Ada Penyelewengan di Putusan Mahkamah Konstitusi
Sirkuit ini tidak punya penghasilan yang cukup. Acara besar MotoGP hanya sekali setahun. Itu pun tidak bisa untung.
Ini memang proyek prestisius. Bukan proyek komersial. Dan pagar keliling itu membuat prestisiusnya Mandalika jatuh.
Di saat balapan mungkin pagar kusam itu tidak terlihat. Bisa saja tertutup dengan hiruk pikuk. Tapi bagi turis sepanjang tahun pagar itu bisa disebut anti-pariwisata.
Baca Juga: Mempersiapkan Lulusan Terbaik, Ini Yang Sekolah SMK Metland
Saya memasuki pagar itu. Lewat gerbang yang dijaga. Saya ingin tahu sirkuit Mandalika. Ternyata di dalamnya cukup ramai.
Saya bergabung ke keramaian itu. Ups...agen Toyota di Lombok lagi mengadakan acara Minggu pagi bersama para pembeli Toyota.
Saya diminta gabung. Bahkan diminta ikut mengendarai Toyota keliling sirkuit. Tiga putaran.
Baca Juga: Demi Perdamaian di Gaza, Besok Jokowi akan Temui Presiden AS Joe Biden di Washington DC
Teman dari Beijing saya ajak naik mobil yang saya kemudikan: Yaris hybrid. Saya yang paling depan.
Maka di belakang saya bajurut berbagai macam Toyota. Aturannya: tidak boleh saling salip. Juga tidak boleh pura-pura terpelintir masuk gravel.
Kecepatan maksimal: 80 km/jam. Intinya: ini memang untuk pengalaman saja: "pernah mengendarai mobil di sirkuit Mandalika".
Yang lebih penting: kapan lagi orang Lombok punya kesempatan masuk Mandalika.
Tidak hanya masuk. Sekalian mencoba sirkuitnya.
Tahun ini Toyota akan lima kali mengadakan acara seperti itu untuk customer-nya.
Baca Juga: Dua Pelaku Pembunuhan Pelajar STM di Kendari Berhasil Ditangkap
Sekali acara bayar Rp125 juta. BMW juga sudah sekali. Porsche segera menyusul.
Kalau Porsche seperti itu yang mengadakan komunitas. Bukan agennya.
Komunitas Ferrari juga sudah booking.
Baca Juga: Maraknya Penipuan di Medsos, Polres Makassar Imbau Masyarakat Lebih Waspada
Rasanya acara seperti itu perlu diperbanyak. Termasuk untuk pemilik sepeda motor.
Sirkuit Mandalika punya 300-an marshal. Mereka adalah petugas balapan.
Mereka perlu kesibukan untuk terus melatih keterampilan di arena sirkuit.
Baca Juga: Klasemen Terbaru Piala Dunia U17 usai Matchday 1 Minggu 12 November
Semua marshal itu putra asli Lombok. Mereka dilatih khusus. Sampai 12 kali.
Lalu mendapat sertifikat dari organisasi dunia MotoGP.
Di Mandalika kemarin saya bertemu banyak marshal. Salah satunya: Mohammad Tata Aprialdi.
Ia mahasiswa semester tujuh fakultas teknik Universitas Mataram. Prodi teknik mesin. Rumahnya 15 km dari Mandalika.
Waktu itu Tata mendengar ada perekrutan marshal. Tata masih semester lima. Tapi ia gemar balap motor.
Tata sendiri punya motor Honda CRF150L. Ia suka ngebut. Arena kebutnya di jalan by pass Mataram.
Baca Juga: Goenawan Mohamad dan Mantan Menag Lukman Hakim Sambangi Kediaman Gus Mus Bahas Politik Terkini
Lapang. Sepi. Ia pernah menggeber motornya itu 200km/jam.
Tata memang minta ke ayahnya motor jenis itu. Ayahnya pegawai negeri. Langsung dibelikan.
"Ayah dulu juga suka balapan," ujar Tata.
Baca Juga: Konser Amal untuk Palestina Sukses Digelar di Karawang, Terkumpul Dana Hampir Rp1 Miliar
Di balapan terakhir kemarin Tata dapat tugas pegang bendera. Di balapan pertama tugasnya di penyelamatan kecelakaan.
Pembalap kecintaannya adalah Marc Marquez.
"Saya suka caranya menikung. Hampir seluruh badan sampingnya terkena aspal," katanya.
Baca Juga: Astagfirulloh, Pria Tanah Datar Hina Alquran dengan Menempelkannya di Alat Vital
Marquez tiga kali ke Mandalika. Tata sempat bertemu. Bahagia. Bahkan sempat bikin video berdua.
Kawasan Mandalika kini memang sudah berubah. Terutama jaringan jalan rayanya.
Selebihnya masih sama seperti dulu.
Kalau pagar itu dibuat model lain, kawasan Mandalika langsung terlihat indah dan grand-nya.
Saya ingat begitu sulit menghidupkan Mandalika.
Salah satu kendalanya: Mandalika menjadi anak perusahaan BTDC (Bali Tourism Development Corporation).
Baca Juga: Dengan Jumlah Pemilih 35,7 Juta Tertinggi di Indonesia, Jabar Masih Sarang Prabowo Subianto
Artinya: Lombok berada di bawah Bali. Elite Lombok tidak mau itu, tapi juga sungkan untuk mengatakannya secara terbuka.
Maka seseorang menciptakan terobosan psikologis. Didirikanlah ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation).
Lalu Mandalika dipindah dari milik Bali menjadi milik Indonesia. BTDC sendiri juga menjadi di bawah Indonesia.
Baca Juga: Megawati Soekarnoputri Memanggil Seluruh Elemen Bangsa Hadapi Ketidakadilan Hukum Saat Ini
Urusan psikologi Bali-Lombok pun selesai.
Di bawah pemerintahan Jokowi, Mandalika digerakkan luar biasa. Nama Mandalika pun menjadi merek yang berharga.
Nama besar itu yang kini ditawar-tawarkan. Pembelinya saja yang masih belum datang.
Kemarin-kemarin masih menunggu Covid reda. Kini menunggu wabah politik reda.



