Oleh: Dahlan Iskan
Universitas beranak universitas. Itulah Binus University.
Yang bulan September ini melahirkan satu universitas lagi: Satu University. Sekaligus dua kampus: di Bandung dan Pontianak.
Tidak berhenti di dua. Tiap tahun akan dibuka kampus Satu University lain. Di kota yang berbeda. Di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Suara Jokowi Mengalir ke Prabowo, Tanggapan Sekjen Tim Pemenangan Ganjar Pranowo Tak Mengejutkan
Binus University sendiri kini sudah berkembang menjadi 7 kampus. Kemanggisan, Senayan, Anggrek Kebon Jeruk, Kemanggisan Kijang, Alam Sutera, Bandung, dan Malang.
Sebentar lagi di Medan.
Saya ke Binus kampus Anggrek kemarin. Ada kuliah umum soal kendaraan listrik.
Baca Juga: Jadwal Siaran Langsung Bola Kamis 28 September: Indonesia vs Uzbekistan
Kampusnya seperti mal. Delapan lantai. Bangunannya seperti angka 8 yang dimodifikasi.
Penghubung di tengah angka 8 itu untuk lift kanan dan kiri. Masing-masing dua pintu.
Maka di dalam gedung itu terbentuk dua plaza. Dua-duanya void sampai atap. Apa pameran di lantai dasarnya.
Baca Juga: Di Acara Jambore Nasional Dai, Ada Sinyal Jokowi Endorse Prabowo, Ini Analisa Pengamat
Ada produk cat lengkap –kecuali cat kuku dan cat rambut. Ada bata penemuan baru terbuat dari sampah plastik.
Banyak lagi. Suasananya benar-benar mirip di sebuah mal.
Dari 7 kampus itu total mahasiswa Binus 42.000 orang.
Anda sudah tahu: andalan Binus di dua program studi. Yakni computer science dan manajemen.
Yang manajemen itu sudah berkembang ke entrepreneur.
Yang computer science segera berkembang ke prodi artifisial intelligence (AI).
Baca Juga: Kaesang Pangarep Jadi Ketum PSI, Cak Imin Bicara Soal Suara PKB Diambil Alih
Prodi AI sudah dibuka pendaftaran mahasiswa barunya bulan ini. Untuk tahun kuliah 2024.
Rasanya baru Binus yang berani membuka prodi AI di Indonesia. Khususnya di universitas swasta.
Maka kian kukuhlah Binus sebagai salah satu universitas elite.
Baca Juga: Beredar Nama Instagram dan Tiktok Milik Pelaku Perundungan Siswa SMP di Cilacap
Jangan-jangan sudah menyalip Universitas Tarumanegara –yang dulu berhasil menyalip Universitas Trisakti.
Lalu saya dibawa ke ujung gedung. Ada gym di situ. Besar. Peralatannya cukup lengkap. Ramai.
Banyak yang sedang nge-gym. Bersebelahan dengan itu ada ruang tari atau yoga.
Baca Juga: Klasemen Medali Asian Games 2023 Terbaru Rabu Malam: Indonesia Tambah 3 Medali, Begini Posisinya
"Ada perbedaan penampilan mahasiswa antara sebelum dan sesudah Covid," ujar dosen yang membawa saya tur.
"Mahasiswi sekarang terlihat lebih atraktif. Seperti ingin lebih tampil," katanyi.
"Mungkin pengaruh TikTok dan Instagram. Mereka seperti harus selalu siap tampil di depan kamera," tambahnyi.
Jelaslah bagi saya: Binus University ditugaskan untuk bergerak di segmen atas, sedang Satu University untuk pasar mahasiswa kelas menengah.
"Uang kuliah di Satu University memang jauh lebih murah,' ujar Dr Reina.
Struktur organisasi Binus University memang sangat khas.
Baca Juga: NCW Minta Pemerintah Tunda Proyek Rempang ECO City Sampai Pilpres 2024 Selesai
Yang tertinggi adalah ketua yayasan. Menjadi CEO University. Di bawahnya ada rektor. Yang sekarang dijabat Dr Nelly SKom MM.
Di 7 kampus itu rektornya satu. Tapi di masing-masing tujuh kampus ada jabatan direktur kampus.
Itu karena Binus University menganut sistem membuka 'Program Studi di Luar Kampus Utama'. Atau disebut PSLKU.
Baca Juga: Guru Madrasah Dibacok Muridnya, Federasi Serikat Guru Indonesia Sampaikan 3 Tuntutan ke Kemenag
Maka 'Jalan Sukses Binus' terlihat seperti lari maraton. Napasnya panjang. Langkahnya konsisten.
Dimulai dari pemanasan: mendirikan lembaga kursus. Yakni kursus Modern Computer Course. Tahun 1974.
Berkembang menjadi Akademi Teknik Komputer (1981).
Baca Juga: Usai Kaesang Pangarep Dilantik Jadi Ketum, PSI Langsung Jadi Rebutan Tiga Kandidat Capres
Berkembang lagi menjadi Akademi Manajemen, Informatika, dan Komputer (AMIK).
Dari akademi berkembang ke sekolah tinggi: Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer.
Baru di tahun 1998, dekat-dekat masa reformasi, berdiri Universitas Bina Nusantara (Binus).
Perjalanannya begitu panjang.
Ibarat membangun tembok harus dimulai dari anyaman bambu, menjadi tembok kayu, tembok bata, menjadi tembok semen, dan sekarang menjadi tembok marmer.
Perjalanan Binus ini mengingatkan saya pada Primagama.
Lembaga kursus yang berkembang pesat, meluas, dan punya potensi menjadi seperti Binus. Tapi tiba-tiba saja redup dan surup.
Kini Binus mulai dikendalikan generasi ketiga. Yakni para cucu Joseph Wibowo Poespito.
Almarhum. Meninggal di usia 82 tahun, 2001. Generasi kedua masih aktif sebagai senior di yayasan.
Baca Juga: Kesempatan Emas! Pendaftaran PPPK 2023 Formasi 1.112 Dibuka, Catat Persyaratan Lengkap dengan Link
Anak keempat Wibowo, Bernard Gunawan Hadi Poespito, yang kini menjadi ketua yayasan.
Praktis ketua yayasan ini menjadi CEO di sebuah perusahaan.
Joseph Wibowo sendiri bermarga Huang (Huang Wan Fu).
Baca Juga: Kisah Google, Dari Startup di Garasi Menuju Perusahaan Teknologi Terbesar di Dunia
Ia menerima Anugerah Bintang Gerilya Sultan Yogyakarta dan Anugerah Bintang Veteran.
Ia pejuang yang pernah ikut gerilya melawan Belanda.
Nama Bina Nusantara diambil dari rasa nasionalisme Wibowo.
Banyak sekali lembaga pendidikan di grup Binus.
Ada Binus International, Binus Graduate Programme, Binus Online Learning, Binus Business School, dan Binus Center - Binus Career.
Termasuk ada Institut Kalbis, hasil kerja sama antara Binus dan Kalbe Farma.
Baca Juga: Mengungkap Kebijakan 25 Tahun Google Translate: Meretas Batas Bahasa Dunia!
Yang juga dibanggakan oleh Binus adalah: predikat internasional dari Amerika.
Baru empat universitas yang mendapatkannya: Universitas Gadjah Mada, Binus University, ITB, dan Universitas Indonesia.
Predikat itu disebut AACSB: The Association to Advance Collegiate Schools of Business. Berkantor pusat di Tampa, Florida.
Baca Juga: Perjalanan Putri Ariani Tampil di Grand Final America's Got Talent, Dapat Golden Buzzer saat Audisi
Maka Binus tidak gelisah ketika kementerian pendidikan dan kebudayaan menghapus status 'Unggul' bagi semua universitas yang pernah mendapatkannya.
Mulai tahun depan hanya akan ada dua status: perguruan tinggi terakreditasi dan tidak terakreditasi.
Binus masih punya status 'unggul' yang dari Amerika itu.
Baca Juga: Keluar dari Rumah Mami Eda, Lolly Ungkap Mau Hidup Bebas
"8 tahun kami memproses untuk mendapat status itu. Akhirnya berhasil," ujar Prof Dr Engkos Achmad Kuncoro, wakil rektor Binus yang bersama saya sepanjang pagi kemarin.
Pun sampai generasi ketiga Binus masih kian jaya.
Kian banyak, ternyata, generasi ketiga yang bisa melawan mitos hanya bisa menghancurkan usaha.



