Oleh: Dahlan Iskan

Pemerintah akan jalan terus, pun ketika kritik keras minta menghentikannya.

Ini soal program pelepasan jutaan telur nyamuk terpapar Wolbachia di 6 daerah: Bali, Jakarta Barat, Bandung, Semarang, Kupang, dan Bontang.

Tujuan pemerintah: menurunkan penyakit demam berdarah. Caranya itu yang sangat baru.

Baca Juga: Beberapa Tokoh Publik Dikabarkan Merapat ke Anies-Cak Imin, Mulai Mantan KSAD hingga Wakapolri

Sangat modern: justru dengan melepas jutaan telur nyamuk yang sudah terpapar Wolbachia.

Jutaan telur itu pun menetas. Jadi jutaan nyamuk.

Lalu mereka akil baligh. Mereka kawin –dengan nyamuk betina. Lahirlah anak-anak nyamuk Bani Wolbachia.

Baca Juga: Partai Nasdem Ungkap Beberapa Survei Internal Anies-Cak Imin Hasilnya Jauh Beda dari Lembaga Survei Publik

Inilah jenis nyamuk baru yang tidak akan menularkan virus, utamanya virus demam berdarah.

Nyamuk jantan yang terkena virus Wolbachia pun akan impotent dan mati.

Dengan demikian maka penyebab utama demam berdasar berhasil dihilangkan.

Baca Juga: Perpusnas RI Buat Peningkatan Indeks Literasi Masyarakat Sebagai Peran Pemerintah untuk Kecakapan Kolaborasi Abad 21

Tadi malam saya menghubungi dua orang yang aktif di bidang ini.

Salah satunya ahli kesehatan masyarakat Prof Dr Adi Utarini: guru besar UGM Yogyakarta. Dia sibuk: lagi menghadiri satu acara.

Lalu saya hubungi dokter Sjakon G. Tahija. Ia pendiri Yayasan Tahija: yayasan yang fokus ke soal pemberantasan demam berdarah.

Nama Yayasan Tahija diambil dari nama bapaknya: Julius Tahija.

Anda sudah tahu siapa Julius Tahija: putra Ambon yang dua kali menjabat menteri di zaman Presiden Bung Karno.

Juga dikenal sebagai pucuk pimpinan perusahaan minyak Caltex Indonesia.

Baca Juga: Klasemen Sementara Peringkat Ketiga Terbaik Piala Dunia U17 2023, Indonesia Sangat Tidak Aman

Julius Tahija juga pendiri Bank Niaga. Pernah jadi pemilik saham Freeport.

Juga pemilik pembangkit listrik di Timika yang khusus untuk melistriki tambang Freeport.

Ia pernah jadi salah satu dari 9 konglomerat terbesar Indonesia –pada zamannya.

Baca Juga: KPK OTT Enam Orang di Bondowoso Jawa Timur, Diduga Suap Upaya Penghentian Penyidikan Kasus Dugaan Korupsi

Dokter Sjakon Tahija anak sulung Julius Tahija –dari dua bersaudara. Ia dokter mata lulusan FKUI. Keahliannya: bedah retina.

Sebelum diterapkan di 6 daerah itu penyebaran telur Wolbachia pernah dicoba dilakukan secara terbatas di Yogyakarta.

Berhasil. Nyamuk aedes aegypti-nya jadi terjangkit Wolbachia semua. Angka demam berdarah turun drastis.

Baca Juga: Diejek Gegera Beri Kado Pengharum Ruangan untuk Ultah Ashanty, Agnes Jennifer : Gua Lebih Malu Kalau Koar-koar Tapi Kagak Diundang

Termasuk kematian akibat DB. Efek negatif pun tidak ada.

Sri Sultan Hamengkubuwono X minta agar penyebaran Wolbachia diperluas: ke Sleman dan Bantul. Hasilnya juga nyata.

Sukses Yogyakarta itu sampai ke telinga Menkes Budi Sadikin.

Kebetulan menkes kenal baik dengan Prof U-ut, nama panggilan Adi Utarini: sama-sama siswa teladan hanya beda SMA dari Yogyakarta.

Prof U-ut pun menjelaskan pelaksanaan program Wolbachia di Yogyakarta itu.

Maka menkes memutuskan: melanjutkannya ke daerah-daerah lain yang sangat tinggi kasus DB-nya.

Baca Juga: Klasemen Terbaru Piala Dunia U17 Usai Matchday 2, Sudah 6 Negara Lolos 16 Besar

Kemenkes tetap menggandeng pelaksana program yang di Yogyakarta: Yayasan Tahija dan Universitas Gadjah Mada –di bawah tim Prof U-ut.

Waktu itu Yayasan Tahija, bersama UGM, sudah mempelajarinya dengan sangat mendalam.

Terutama saat negara bagian Queensland, Australia, melaksanakan pelepasan Wolbachia di kota Brisbane.

Baca Juga: Hasil Lengkap Piala Dunia U17 Hari Ini 15 November: Jerman, Prancis dan AS Menang

Itu tahun 2009. Hasilnya sangat baik. Juga sangat aman.

Indonesia adalah negara kedua yang menerapkannya –setelah Australia. Kini sudah 14 negara yang akan mengikuti.

Dari mana jutaan telur Wolbachia didapat?

Baca Juga: Hashim Djojohadikusumo Sebut Prabowo Batalkan Kontrak Potensi Korupsi Rp 51 Triliun di Kemhan, Sudah Ada di Mejanya

"Kami ambil dari Yogyakarta. Yayasan kami sudah bisa memproduksinya," ujar dr Sjakon Tahija.

Ketika mempraktikkannya di Yogyakarta, Yayasan Tahija bekerja sama dengan sekitar 3000 relawan.

Merekalah yang mendidik masyarakat. Tidak ada paksaan.

Penduduk yang rumahnya rela dipakai pelepasan Wolbachia boleh mendaftar.

Mereka diminta menyiapkan ember. Berisi air. Lalu telur-telur Wolbachia ditaruh dalam air di ember itu.

Begitulah cara nyamuk berbiak.

Baca Juga: Viral Video Megawati Menolak Jabat Tangan dengan Kaesang Pangarep, Hasto PDIP : Kita Tak Mau Drama-drama

Proses yang sama akan dilakukan di enam daerah di atas.

Tahun depan sudah diketahui apakah cara baru mengatasi demam berdarah ini juga berhasil di sana.

Berbagai penelitian atas nyamuk memang dilakukan di banyak negara. Sejak Anda belum lahir: tahun 1924.

Baca Juga: Bela Sang Kekasih yang Dikabarkan Kepergok Selingkuh di Bali, Dewi Perssik : Dia Lagi Galau Makanya Begitu

Termasuk penelitian mengenai cara nyamuk berhubungan seks. Juga reproduksinya.

Yang pertama melakukan adalah Simeon Burt Wolbach –dari nama belakangnya diambil.

Tapi penelitian lanjutan yang sangat gigih terjadi telah tahun 1970-an. Di seluruh dunia –terutama di Amerika.

Baca Juga: Komisi VIII DPR Tak Setuju Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji 2024 Sebesar Rp 105 Juta

Indonesia setidaknya tidak takut menerapkannya.

Termasuk tidak takut pada kritik kelompok Gerakan Sehat untuk Rakyat yang sangat keras –yang menuntut program Wolbachia dibatalkan sekarang juga.

Salah seorang di dalamnya adalah mantan Menkes Prof Dr Siti Fadilah Supari.

Yogyakarta rupanya memang istimewa.***