POJOKSATU.ID – Transformasi ekonomi kawasan Sungai Penuh dan Kerinci dinilai menjadi agenda penting pembangunan daerah di tengah tekanan fiskal nasional dan pengetatan anggaran pemerintah pusat.

Pembangunan daerah disebut tidak lagi cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mampu menciptakan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Yulfi Alfikri Noer, dalam kajiannya mengenai masa depan transformasi ekonomi Sungai Penuh dan Kerinci.

Baca Juga: Oknum DPRD Madina dan Kepala OPD Diduga Terlibat Narkoba, IPM Desak BNN Tes RambutMenurut Yulfi, tantangan utama pembangunan kawasan saat ini bukan sekadar menjaga pertumbuhan ekonomi tetap bergerak.

Tetapi memastikan transformasi ekonomi tetap berjalan di tengah keterbatasan ruang fiskal daerah.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Kota Sungai Penuh memiliki posisi strategis sebagai pusat jasa, perdagangan, pendidikan, dan distribusi ekonomi kawasan Kerinci.

Baca Juga: Drama Seleksi Koperasi Desa Merah Putih, Jadwal H-1 Bikin Peserta Pilih MundurBerdasarkan LKPj Tahun Anggaran 2025, Pemerintah Kota Sungai Penuh mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,39 persen dengan Indeks Pembangunan Manusia mencapai 78,89 serta tingkat kemiskinan sebesar 3,23 persen.

Namun menurut Yulfi, angka statistik tersebut harus dibaca lebih dalam untuk melihat apakah pertumbuhan ekonomi telah menghasilkan transformasi ekonomi yang berkelanjutan.

“Pertumbuhan ekonomi yang sehat tidak hanya diukur dari besarnya angka PDRB, tetapi juga dari kualitas lapangan kerja, produktivitas masyarakat, dan kemampuan daerah menciptakan nilai tambah ekonomi lokal,” tulisnya.

Baca Juga: Trump Pilih Gencatan Senjata dengan Iran, Netanyahu Menolak, Hubungan Keduanya Kini Tegang

Ia menilai pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi utama transformasi ekonomi kawasan.

Karena itu, penguatan pendidikan, pelatihan kerja, digitalisasi UMKM, kewirausahaan pemuda, dan peningkatan literasi teknologi masyarakat dinilai harus menjadi prioritas pembangunan daerah.

Selain penguatan SDM, reformasi tata kelola pemerintahan juga disebut menjadi kebutuhan mendesak agar pembangunan lebih efektif dan berbasis data.

Dalam konteks infrastruktur, Yulfi menegaskan pembangunan tidak boleh hanya dipahami sebagai proyek fisik.

Tetapi harus mampu menciptakan efisiensi ekonomi dan memperluas produktivitas masyarakat.

Karena itu, kawasan Sungai Penuh dan Kerinci dinilai membutuhkan penguatan.

Antara lain konektivitas antarwilayah, akses desa produksi, infrastruktur logistik, internet desa, irigasi pertanian, serta fasilitas pendukung sektor pariwisata.

Baca Juga: Bupati Bandung Kecam Penangkapan Jurnalis Asal Cicalengka Thoudy Badai dalam Misi Kemanusiaan Gaza

Sementara itu, Kabupaten Kerinci disebut masih menghadapi tantangan struktural karena ketergantungan tinggi terhadap sektor pertanian primer.

Kontribusi sektor pertanian terhadap struktur ekonomi daerah disebut masih berada di atas 45 persen sehingga ekonomi daerah dinilai rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan perubahan pasar.

Padahal, Kerinci memiliki potensi besar pada komoditas unggulan seperti kopi, kayu manis, teh, kentang, dan hortikultura yang dapat dikembangkan melalui hilirisasi industri.

Baca Juga: Bupati Bandung Kecam Penangkapan Jurnalis Asal Cicalengka Thoudy Badai dalam Misi Kemanusiaan Gaza

“Hilirisasi merupakan upaya mempertahankan rantai nilai ekonomi agar tidak seluruhnya keluar dari wilayah produksi,” jelas Yulfi.

Ia menilai penguatan industri pengolahan lokal, pengemasan produk, branding komoditas, dan perluasan akses pasar perlu menjadi arah pembangunan kawasan ke depan.

Namun, agenda transformasi ekonomi tersebut saat ini menghadapi tantangan serius akibat kebijakan efisiensi anggaran nasional yang berdampak langsung terhadap kapasitas pembangunan daerah.

Baca Juga: Kompak! Ratusan Bikers Honda Turun ke Jalan Ramaikan Vario Night Ride Tasikmalaya

Menurutnya, penyesuaian APBD berpotensi memperlambat pembangunan infrastruktur, penguatan pendidikan, pelatihan kerja, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

Yulfi menegaskan, masa depan Sungai Penuh dan Kerinci tidak hanya ditentukan oleh besarnya transfer anggaran, tetapi oleh kemampuan daerah membangun fondasi ekonomi yang produktif, bernilai tambah, dan berkelanjutan.

“Daerah menjadi kuat ketika mampu mengubah potensi lokal menjadi produktivitas dan mengubah komoditas menjadi nilai tambah,” tutupnya.***