POJOKSATU.id, Aktivitas penerbangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, masih dihentikan hingga 17 Oktober 2026 setelah muncul laporan serangan yang dikaitkan dengan kelompok bersenjata Houthi asal Yaman.
Perpanjangan penutupan ini menyusul insiden serangan menggunakan rudal dan proyektil yang dilaporkan terjadi di kawasan bandara pada akhir pekan.
Peristiwa tersebut memicu gangguan terhadap layanan penerbangan di ibu kota Arab Saudi.
Pihak berwenang memperpanjang penghentian operasional guna melakukan evaluasi keamanan dan memeriksa kondisi fasilitas sebelum bandara kembali melayani penumpang.
Mengacu pada pemberitahuan penerbangan yang diberitakan pada Senin (12/10/2026), penutupan Bandara Internasional King Khalid berlaku sampai Sabtu (17/10/2026) pukul 21.00 GMT.
Waktu tersebut setara dengan Minggu (18/10/2026) pukul 04.00 WIB.
Penghentian layanan tersebut juga berdampak pada rencana perjalanan penumpang serta jadwal sejumlah maskapai yang mengoperasikan penerbangan dari dan menuju Arab Saudi.
Lantas, apa sebenarnya kelompok Houthi, bagaimana latar belakang konflik mereka dengan Arab Saudi, dan apa pengaruh penutupan bandara terhadap penerbangan internasional?
Houthi, yang juga disebut Ansar Allah, adalah gerakan politik dan militer yang berkembang di Yaman.
Kelompok ini berawal dari gerakan keagamaan Zaidiyah Syiah di wilayah utara Yaman sebelum memperluas pengaruhnya dalam bidang politik dan militer.
Dalam konflik internal Yaman, Houthi menjadi salah satu aktor utama yang menguasai sejumlah kawasan strategis.
Keberadaan kelompok tersebut turut memengaruhi situasi keamanan di kawasan Timur Tengah, khususnya dalam hubungannya dengan Arab Saudi.
Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi meningkat setelah kerajaan tersebut memimpin intervensi militer di Yaman pada 2015 untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.
Houthi diketahui memiliki kemampuan militer berupa rudal dan pesawat nirawak atau drone yang digunakan dalam berbagai operasi.
Persenjataan tersebut membuat aktivitas kelompok ini menjadi perhatian dalam upaya menjaga keamanan wilayah udara di Semenanjung Arab.
Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional, sementara Houthi masih menguasai sejumlah wilayah, termasuk Sanaa yang merupakan ibu kota Yaman.
Penghentian operasional Bandara Internasional King Khalid diperpanjang setelah serangkaian insiden keamanan dilaporkan berlangsung pada 10-11 Oktober 2026.
Keputusan ini diambil untuk memberikan waktu bagi pemeriksaan keamanan dan memastikan fasilitas penerbangan memenuhi persyaratan keselamatan.
Pada tanggal yang sama, kelompok Houthi mengklaim telah meluncurkan rudal balistik yang menargetkan bandara di Riyadh.
Sementara itu, otoritas Arab Saudi menyatakan telah berhasil mencegat dan menghancurkan rudal yang mengarah ke ibu kota.
Situasi tersebut meningkatkan perhatian terhadap keamanan penerbangan sipil.
Maskapai yang melayani rute di kawasan itu pun perlu mempertimbangkan kondisi terbaru sebelum menentukan jadwal dan jalur penerbangan.
Sebagai salah satu bandara utama di Arab Saudi, Bandara Internasional King Khalid memiliki peran penting dalam menghubungkan Riyadh dengan berbagai tujuan domestik maupun internasional.
Penutupan bandara ini berpotensi mengganggu mobilitas penumpang dan operasional penerbangan di kawasan Timur Tengah.
Maskapai yang melayani rute menuju Riyadh dapat membatalkan penerbangan, menangguhkan layanan sementara, atau mengubah jadwal keberangkatan.
Penyesuaian juga diperlukan apabila jalur penerbangan yang biasa digunakan dinilai memiliki risiko keamanan.
Dampaknya dapat dirasakan oleh penumpang yang hendak menuju Riyadh maupun mereka yang menggunakan kota tersebut sebagai titik transit sebelum melanjutkan perjalanan ke destinasi lain.
Selain perubahan jadwal, maskapai juga perlu memperhatikan pemberitahuan keselamatan penerbangan yang dikeluarkan otoritas terkait.
Informasi tersebut menjadi pertimbangan dalam menentukan apakah suatu rute masih aman untuk dilalui.
Kendati demikian, penutupan yang dijadwalkan berlangsung hingga 17 Oktober 2026 belum dapat diartikan sebagai kepastian bahwa seluruh layanan akan langsung kembali normal setelah tenggat tersebut berakhir.
Pembukaan kembali bandara tetap bergantung pada hasil evaluasi keamanan, kesiapan fasilitas, dan keputusan resmi otoritas penerbangan Arab Saudi.
Oleh karena itu, calon penumpang yang memiliki jadwal perjalanan menuju atau dari Riyadh disarankan memantau pengumuman resmi bandara dan maskapai masing-masing.
Pemeriksaan berkala diperlukan untuk mengetahui perubahan jadwal, pembatalan penerbangan, maupun ketentuan perjalanan terbaru.
Kondisi keamanan di Timur Tengah akan menjadi salah satu faktor yang menentukan kapan aktivitas penerbangan di Bandara Internasional King Khalid dapat kembali berlangsung secara normal.***






