POJOKSATU.id, FAKTA mencengangkan diterima jurnalis ternama Palestina, Motaz Azaiza yang baru saja menerima penghargaan perdamaian dari Lembaga Nonprofit Prancis.

Pasalnya, Kedutaan Besar (Kedubes) Israel di negara tersebut mendesak pencabutan penghargaan perdamaian tersebut dari Motaz Azaiza.

Motaz Azaiza mengabarkan peristiwa ini lewat postingan Instagram-nya, Kamis, 6 Juni 2024. Dia mengunggah siaran pers dari Kedubes Israel di Prancis yang menentang pemberian penghargaan perdamaian dari Lembaga Nonprofit I'Institut des droits de l'Homme.

Dalam siaran pers itu, Kedubes Israel menuduh Motaz melakukan terorisme dan menuntut penarikan penghargaan itu.

Baca Juga: Delapan Hari Dirawat di RSUD Tangerang, ART yang Lompat dari Rumah Majikan Akhirnya Meninggal Akibat Penggumpalan Darah

Motaz menegaskan dirinya menerima penghargaan dari Institut Internasional untuk Hak Asasi Manusia dan Perdamaian karena lebih dari 14.000 orang dari berbagai negara di dunia telah memilihnya.

"Kedutaan Besar Israel di Perancis mengeluarkan siaran pers yang mencela saya sebagai orang Palestina yang memenangkan hadiah kebebasan, menyebut saya sebagai “teroris” dan meminta untuk menarik hadiah tersebut," tulisnya pada caption postingannya.

Kelakuan Kedubes Israel ini mendapat kecaman dari netizen. Bahkan, Arie Untung ikut berkomentar dan menyentil para penjajah yang tentaranya sedang melakukan genosida di Palestina.

"Jangan khawatir saudaraku. Bagi sekelompok teroris, kamu dianggap teroris. Karena kamu mempersulit ketidakadilan mereka," tulis Arie.

Baca Juga: Terkait Penyiksaan Anjing oleh Oknum Security Plaza Indonesia, Natha Satwa Nusantara Imbau Pekerja Lain di Mal Mewah Itu Turut Diperiksa

Pada postingan sebelumnya, Motaz yang dijuluki 'pahlawan' atas keberaniannya mengabadikan momen kekejaman Israel agar dunia melihat genosida yang tengah terjadi, menyebut sejatinya ingin menerima penghargaan itu saat Palestina merdeka.

"Saya ingin dianugerahi Hadiah Kebebasan ini pada saat negara saya bebas dari pendudukan Israel. Kami, warga Palestina, telah menderita akibat kekejaman yang dilakukan pendudukan Israel sejak tahun 1948," tegasnya.

Dia mengungkapkan warga di Gaza sekarang sedang dimusnahkan dan kelaparan sementara dunia tetap diam dan tidak ada seorang pun yang dapat menghentikan genosida ini.

"Dan tidak ada seorang pun yang mampu meminta pertanggungjawaban Israel atas kejahatannya, dan kami akan memperjuangkan kebebasan kami tanpa henti dan tanpa rasa takut hingga kami menyaksikan pembebasan tersebut, tanah kami, perjuanganku belum selesai," ungkapnya.

Baca Juga: Mudah tapi Jarang yang Tahu, Cara Melihat PREDIKAT dan NILAI KINERJA GURU dan KEPALA SEKOLAH pada Pengelolaan Kinerja di PMM

"Ingatlah bahwa tidak ada seorang pun yang bebas sampai Palestina merdeka," sebutnya.

Motaz mengatakan dirinya nyaris kehilangan nyawa berkali-kali saat melaporkannya kekejaman Israel. Padahal jelas-jelas sepanjang menjalankan tugas selalu memakai rompi bertuliskan jurnalis.

"Saya mendapat kesempatan untuk evakuasi dari Gaza, namun rekan-rekan jurnalis saya di Gaza saat ini menghadapi ancaman yang sangat berdampak pada kehidupan, keselamatan, dan kemampuan mereka untuk melaporkan kebenaran karena pendudukan Israel dan pemboman yang berat dan tanpa pandang bulu," tulisnya.

Dia mengatakan lebih dari 136 jurnalis di Gaza kehilangan nyawa saat menjalankan tugas.

Baca Juga: Oknum Security Viral Menyiksa Anjing, Plaza Indonesia Minta Maaf dan Janji Bakal Tindak yang Bersangkutan

"Dengan dukungan kalian, kami semua dapat bersama-sama menyerukan perlindungan dan keselamatan jurnalis Palestina yang masih berada di lapangan mempertaruhkan nyawa mereka untuk terus menyampaikan kebenaran," bebernya.

"Saya mengungsi dari negara tercinta saya, Gaza, namun saya berjanji pada diri sendiri untuk menyampaikan pesan kami kepada dunia bahwa kami adalah orang-orang yang mencari kebebasan dan kami bukan teroris," tuturnya.

Dia pun berharap publik tetap bersuara tentang Palestina. "Tolong jangan berhenti berbicara dan melaporkan tentang Gaza. Terima kasih banyak semuanya," pungkas Motaz Azaiza. ***