POJOKSATU.id, INFLUENCER pendidikan, Jerome Polin mengungkapkan perasannya yang sedih dengan pernyataan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyadi, tentang gaji guru dan dosen yang rendah jadi tantangan keuangan negara.

Jerome Polin mengungkapkan seharusnya banyak anggaran dari sektor lain yang bisa dialihkan untuk perbaikan kualitas pendidikan, yang penggunaannya diantaranya bisa untuk gaji guru dan dosen.

"Setelah melihat statement yang viral dari menteri keuangan tentang gaji guru dan dosen, aku jadi sedih. Kalau negara tidak menjadikan guru, dosen, dan perbaikan kualitas pendidikan sebagai prioritas, kita enggak bisa berharap Indonesia Emas," tulisnya dilansir dari postingan Instagram-nya, Sabtu, 9 Agustus 2025.

Baca Juga: Profil Prada Lucky Chepril Saputra Namo, Anggota TNI AD di NTT yang Diduga Tewas Dianiaya Senior

"Aku tau APBN kita 20 persen sudah untuk pendidikan, tapi aku yakin banyak anggaran yang kurang mendesak dari sektor lain bisa dipotong dan dialihkan ke sektor pendidikan." sambungnya.

Jerome mengatakan sangat percaya bahwa negara yang maju adalah negara yang pendidikannya maju. Dan itu dibangun oleh tenaga pendidik yang bagus.

"Salah satu katalis dan faktor terpenting yang bisa mendorong kemajuan itu? Gaji dan kesejahteraan," tegasnya.

Bahkan, dia mengumumkan hasil survei, yang mengungkapkan sejatinya banyak orang Indonesia yang sebenarnya mau menjadi guru, tapi akhirnya mengurungkan niatnya karena profesi guru di Indonesia secara umum belum bisa sejahtera.

Baca Juga: Siap Uji Pengetahuan? Ini 10 Contoh Soal Pilihan Ganda SKI MAN Kelas 10 Lengkap dengan Jawaban dan Pembahasan

Ahli matematika ini mempertanyakan mau sampai kapan, profesi guru tidak dihargai sesuai skill dan sulit sejahtera.

"Pendidikan yang baik menghasilkan SDM yang berkualitas. Dan itu yang akan berkontribusi untuk kemajuan negara. Kunci dari pendidikan yang baik? Guru yang berkualitas," tuturnya.

Sekarang, faktanya, kata Jerome sulit menemukan orang-orang pintar mana mau jadi guru. "Aku sudah sering survey, kalau bukan karena panggilan hidup atau passion, aku rasa masih banyak stigma, 'kalau bisa ya enggak bisa jadi guru'," jelasnya.

Baca Juga: Kronologi Kasus Prada Lucky Chepril Saputra Namo, Anggota TNI di NTT Diduga Tewas Dianiaya Senior

Penyebabnya jelas, karena di Indonesia banyak guru yang tidak sejahtera hidupnya. Bahkan, bisa dibilang susah, alhasil profesi jadi guru bukan sesuatu yang ingin dikejar, kompetisinya sedikit.

Dia mengemukakan pengalamannya waktu ke Australia, dan mendengar cerita banyak orang Indonesia yang resign dari kerjaan kantornya, bahkan di posisinya yang sudah lumayan tinggi, terus milih buat kerja kasar di Australia.

"Kerja kasarnya kayaknya cuci piring, metikin anggur/stroberi di taman jadi waiter, dll. Motivasinya apa? Simpel, mostly ya karena high paying, kerja kasar di Australia bisa nabung Rp10-20 juta perbulan," tukasnya.

Baca Juga: Nama Tiga Kodam Baru di Pulau Sumatera Berikut Nama Pangdamnya Hasil Mutasi Terbaru TNI

Di situ dirinya tersadar, orang-orang bisa dan mau ngelakuin suatu pekerjaan yang mungkin tidak sesuai passion atau tidak dianggap prestis oleh lingkungan, tapi karena gajinya tinggi.

"Kesimpulannya, gaji itu jadi salah satu faktor penting yang bikin orang mau ngerjain sesuatu. Itu bisa bikin orang semangat buat kerja," sebutnya.

"Siapa yang mau jadi guru kalau gajinya cuma Rp300/bulan padahal kerja full time? Kalau bukan karena pengabdian atau passion atau terpaksa, kayaknya hampir enggak ada yang mau," timpalnya.

Dia mengatakan kalau ingin mewujudkan Indonesia Emas, harus mulai dari perbaikan pendidikan, dan itu dimulai dari guru.

Baca Juga: Biar Timbul Efek Jera, Anggota DPRD Madina Minta Pelaku Pembunuhan Diva Febriani Dihukum Mati

"Kalau emang anggaran pendidikan yang 20 persen dari APBN itu masih kurang, tambahinlah. Potong anggaran lain yang kurang penting buat pendidikan," tandasnya.

Jerome mengingatkan agar jangan berharap kualitas pendidikan Indonesia bisa naik kalau tidak perbaikan kualitas guru dan itu semua balik lagi ke faktor gaji dan kesejahteraan

"Bayangin, profesi guru setara sama engineer/dokter dari segi prestisenya. Aku yakin banyak yang mau jadi guru, akhirnya ada kompetisi yang ketat. Orang belajar keras buat jadi guru. Alhasil, kualitas guru-guru jadi bagus-bagus semuanya, barrier of entry-nya tinggi," papar nya.

Baca Juga: Orang Ketiga

Ikuti berita-berita terbaru melalui web kami Pojoksatu di aplikasi berikut;

Versi Android

Versi iOS

Channel Whatsapp

Fanpage Edugov

"Orang-orang pintar dan punya passion ngajar, mau kerja jadi guru. Lulusan top uni, alumni juara olimpiade, banyak yang mau jadi guru. Beh, apa enggak maju pendidikan Indonesia?," tutup Jerome Polin. ***

***