POJOKSATU.id - Tengah ramai jadi perbincangan di dunia maya, film Vina: Sebelum 7 Hari yang disutradarai Anggy Umbara, menuai pro kontra.
Film ini diadaptasi dari kisah nyata yang terjadi pada tahun 2016 silam.
Vina: Sebelum 7 Hari berkisah tentang kematian seorang gadis bernama Vina yang diduga mengalami kecelakaan motor tunggal setelah jenazahnya ditemukan di jalan layang Cirebon.
Nenek Vina menduga kematian sang cucu tidak wajar, tetapi tak punya cukup bukti terkait kasus itu. Arwah Vina kemudian diceritakan merasuki tubuh sahabatnya untuk mengungkap fakta tentang kematiannya.
Sang Sutradara, Anggy Umbara mengungkapkan jika film ini menunjukkan bahwa ada masalah dalam penegakan hukum.
"Yang mau kita sampaikan ke pemerintah, pihak berwenang yang lain, ayo sama-sama kita tegakkan hukum. Jangan tumpuk ke atas tapi tajam ke bawah," ujar Anggy Umbara.
Berikut, sederet Fakta kasus pembunuhan Vina di Cirebon yang dijadikan film:
1. Kronologi kasus 2016
Pada tahun 2016 terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh sekelompok geng motor dengan korban bernama Vina dan kekasihnya Rizky.
Awalnya kematian kedua kekasih ini disebut sebagai kecelakaan lalu lintas karena kondisi tubuh telah hancur.
Baca Juga: 90 Calon Jamaah Haji Gagal Berangkat ke Mekkah, Begini Penjelasan PPIH Surabaya
Namun, saat dilakukan pemeriksaan, polisi menemukan banyak kejanggalan. Akhirnya polisi pun memutuskan melakukan penyelidikan lebih lanjut.
Kasus ini mulai menemui titik terang setelah teman Vina melaporkan kejadian tersebut sebagai peristiwa pembunuhan.
Hasil pengembangan dari kepolisian mengungkapkan ada 8 orang pelaku pada kasus tersebut. Rabu (31/8/2016) 7 pelaku ditangkap polisi, mereka adalah J (23), ES (23), HS (23), ER (27), S (20), dan A (23) diduga melakukan pemukulan terhadap korban dan melakukan pemerkosaan, serta A (15) melakukan pemukulan.
Dalam keterangannya, Kapolresta Cirebon, Jawa Barat, AKBP Indra Jafar menjelaskan kronologinya.
Saat itu kedua korban dan beberapa rekannya sedang mengendarai sepeda motor yang melintas di depan SMP 11 Kali Tanjung. Namun tiba-tiba sekelompok orang melakukan pelemparan batu.
Korban dan teman-temannya sempat melarikan diri. Sayangnya, para pelaku berhasil memepet korban dengan memukul bambu hingga akhirnya jatuh di jembatan layang.
Sementara rekan rekannya berhasil melarikan diri. Para pelaku kemudian membawa korban Rizky ke TKP awal dan lantas melakukan pengeroyokan serta penganiayaan.
Sementara itu, Vina diperkosa secara bergiliran oleh para pelaku. Setelah kedua korban meninggal dunia, para pelaku membuang korban ke jalan layang dengan dikondisikan seolah merupakan korban kecelakaan.
2. Hadirkan suara tangisan
Enam hari usai kematian Vina, pihak keluarga mendadak dihubungi oleh teman Vina dan meminta mereka datang ke rumahnya.
Baca Juga: Gibran Kelaparan, Prabowo Akui Malu : Orang Indonesia Harus Mampu Membeli Bahan Pangan
Menurut kesaksian ayah Vina inisial WS, saat bertemu, sahabat Vina tersebut tiba-tiba kerasukan arwah Vina dan lantas menceritakan kronologi kejadian yang menyiksa tersebut.
Selain disiksa secara sadis, Vina juga mengaku dirinya diperkosa setelah tangannya dipukul dengan balok. Ironisnya, pelaku juga meminta rekan-rekannya untuk melakukan hal keji yang sama.
Dalam hal ini, WS menyebut, arwah Vina mengaku dirinya mengenal salah satu pelaku dan sering berpapasan saat bermain dengan teman-temannya.
Suara tangisan ini pun dihadirkan dalam film sehingga penonton merasakan suasana nyata.
Hingga akhirnya Nayla D. Purnama sang bintang utama dipercaya untuk me-remake ulang suara tangisan milik mendiang Vina.
3. Pesan tentang hukum di Indonesia
Seperti yang disampaikan Anggy Umbara, jika hukum yang berlaku masih tumpul ke atas, film ini menyajikan pesan yang demikian.
Baik Vina dari film atau kejadian asli, keduanya adalah korban dari kejamnya kriminalitas geng motor.
Baca Juga: Edaannn...Sudah Minggu Kedua Mei tapi 223 Pemda Belum Cairkan TPG Triwulan I, Ini loh Daftarnya
Usut punya usut, otak dari penganiayaan yang dialami oleg Vina ini adalah anak dari seorang polisi.
4. Pro Kontra
Film Vina: Sebelum 7 Hari menuai pro dan kontra dari publik bahkan sejak sebelum tayang.
Hal tersebut karena film ini dinilai dapat memunculkan rasa trauma dan mengeksploitasi kesedihan dari keluarga korban hanya untuk tujuan komersil.
Bahkan di media sosial X banyak yang menyayangkan film tersebut lolos untuk ditayangkan.
Baca Juga: Mayat Dalam Lemari Kosan, Ternyata Warga Indramayu
"Bikin film investigasi atau dokumenter kalau memang mau membantu Almarhumah Vina, kalian rengguk keuntungan sebesar-besarnya dengan mengeksploitasi Almarhum Vina. Sakit Jiwa!" tulis akun @proq***
"Padahal kalau dibikin modelan kasus Jessica Kopi Sianida bakal lebih baik dibanding film setan gini," kata akun @hafid***
"Kalian penikmat film kek gini juga sakit jiwa sebenarnya. Banyak film tema positif dan happines tapi karakter jiwa kalian lebih memilih nonton film kek gini, Produser menangkap segmen pasar dari orang-orang seperti kalian." keluh akun @putr****
"Jujur kasihan melihat part perundungan Vina yang ditampilkan di film ini. Engga tega. Tapi lebih ga nyangka lagi cerita ini malah dikomersialisasi dan dijadiin film, mana filmnya rada kureng," tulis akun @aam****
Meski begitu, ramai juga publik yang menerima film ini dan mengatakan jika garapan Anggy Umbara ini terbilang bagus.
"Film horror pertains yang buat gue nangis sesenggukan. Tapi filmnya bagus banget, apalagi yang jadi Vina sama Linda, love banget." tulis @tebe***
Baca Juga: Kenapa TPG Triwulan I Belum Dibayar? Ini loh Penyebabnya, Dibongkar Langsung Prof Nunuk Suryani
"Ini sih film horor yang gue suka, engga cuma jump scare yang ditunjukin tapi ada alurnya yang seru buat ditonton," kata akun @dwic***


