POJOKSATU.id, SUTRADARA Hanung Bramantyo mengungkapkan tidak tertarik menonton debat calon presiden-calon wakil presiden (Capres-Cawapres) 2024. Baginya, jauh lebih menyenangkan menyaksikan melihat drama Korea (drakor).

Dan, di tengah kehebohan reaksi atas Debat Capres-Cawapres 2024 pada Selasa, 12 Desember 2023, Hanung Bramantyo memilih tak menontonya.

"Sengaja saya tidak nonton debat Capres di TV dan lebih memilih nonton debat aktor-aktor saya di TV shootingan saya sendiri," ungkap Hanung Bramantyo di laman Instagram-nya, Kamis, 14 Desember 2023.

Baca Juga: Akui Tiga Bulan Ini Terberat Bagi Tubuhnya, Vidi Aldiano Janji Bakal Tetap Menghibur selama Bisa Melawan Kanker Ginjalnya

Suami Zaskia Adya Mecca ini menegaskan baginya baik drama Korea (drakor) dan debat capres sama-sama sandiwara yang dialognya ditulis oleh penulis skenario.

"Kalau dalam drama film disebut Script-Writer, kalau dalam drama politik ditulis oleh tim sukses. Keduanya harus menyajikan dialog-dialog cerdas, kritis, tajam juga kadang muaanis puooll nganti muntah," tukasnya.

Meski punya kesamaan, Hanung mengatakan skenario drama film, meski tak semua harus happy ending, selalu berakhir dengan jujur.

Baca Juga: Viral Video Fuji Dicap Sombong, Ria Ricis Bela Adik Fadly Faisal Itu : Gampang Banget Judge Orang

"Penonton enggak merasa tertipu. Meski kadang juga misuh-misuh saking pekok e penulis skenario atau sutradarane le nggawe film," sambungnya.

Akan tetapi, kata Hanung, dalam drama politik, di babak pertama, tokoh utama selalu mengumbar impian. "Janji manis yang dibalut artikulasi nan cerdas trengginas. Bahkan bergelora layaknya pidato para Founding Father," ungkapnya.

Selanjutnya, di babak kedua, yaitu saat pemungutan suara, drama makin menajam seiring perhitungan suara.

"Si Jagoan memperoleh kemenangan dan pesta-pun dirayakan. Janji manis mulai dijalankan," lanjutnya.

Baca Juga: Plafon Kantor Barunya Ambruk saat Launching, Baim Wong : Saya Sendiri Bingung, Ini Musibah atau Sebaliknya?

Kemudian, disebutkannya, tetiba drama mulai menajam dengan mendadak si jagoan berteman dengan para maling. "Bahkan bagi-bagi jabatan menteri, komisaris, sampai yang dulunya saling serang, mendadak peluk-pelukan," jelasnya.

Di babak ketiga, alias babak menuju klimaks, selalu memunculkan plot twist. "Dalam drama film, plot twist tersebut selalu membuat penonton berdecak : Anjrit, ternyata dia!!! Gak nyangka banget. Keren," tandasnya.

Tapi dalam drama politik, kata Hanung, plot twist itu selalu membuat penonton melongo. "Sambil mendesis : loh? Kok ngono? Kan mestinya dia dipenjara? Kok malah jadi menteri? Piye to ikih?? Dan akhirnya, penonton cuma berdecak : Kopet, ternyata jagoannya maling juga," bebernya.

Baca Juga: Sempat Melawan saat Ditangkap di Ancol, Inilah Tampang Pemasok Sabu ke Ammar Zoni

Dia memastikan dialog-dialog manis di babak pertama cuma retorika biar dianggap intelek dan peduli perubahan.

"Dan penonton cuma dibuat mak klakep. Bengong. Garuk-garuk pant*t. Gara-gara percaya dengan janji manisnya," tambahnya.

"Makanya, saya lebih pilih matikan TV dan berangkat shooting. Agar hati dan pikiran saya tidak mendadak berubah menjadi maling," lanjutnya.

Baca Juga: Sempat Dibandingkan dengan Citra Kirana Gegara Gugat Cerai, Netizen Berbalik Bela Irish Bella setelah Ammar Zoni Ditangkap Lagi

Di penghujung postingannya, dia mengungkapkan pesan moral bahwa, "seburuk-buruknya drama film, masih lebih bagus dibanding drama politik".

"Sebab drama film buruk pasti dibuat oleh film-maker amatir. Sedangkan drama politik dibuat oleh para profesional," pungkas Hanung Bramantyo. ***