POJOKSATU.id - Bayangkan seorang agen FBI harus bekerja sama dengan pembunuh bayaran mafia untuk mengungkap sebuah kasus pembunuhan. 

Situasi inilah yang menjadi daya tarik utama film By Any Means, film thriller kriminal-historis yang mengambil latar Mississippi pada 1966.

Yahya Abdul-Mateen II memerankan Wayne Strider, agen FBI berkulit hitam yang ditugaskan menangani kasus sensitif di tengah situasi sosial yang dipenuhi diskriminasi rasial.

Sementara itu, Mark Wahlberg tampil sebagai Greg Scarpa, pembunuh bayaran mafia dengan cara kerja yang jauh berbeda dari Strider.

Keduanya jelas bukan pasangan yang ideal. Namun, keadaan membuat mereka harus berada dalam satu misi.

Baca Juga: Tak Perlu Digoreng, Churros Kentang Air Fryer Ini Renyah dan Bikin Nagih

Cerita bermula ketika ketegangan politik dan sosial meningkat akibat perjuangan warga kulit hitam untuk mendapatkan hak berpartisipasi dalam politik. 

Di tengah situasi tersebut, rumah Vernon Dahmer, tokoh hak-hak sipil yang diperankan Giancarlo Esposito, dibakar.

Dahmer kemudian tewas dalam peristiwa tersebut.

Kasus itu menjadi perhatian serius dan membawa Strider ke Mississippi untuk mencari tahu siapa yang berada di balik pembunuhan tersebut.

Masalahnya, Strider tidak hanya berhadapan dengan sebuah kasus kriminal biasa.

Ia harus bekerja di lingkungan yang dipenuhi tekanan, rasisme, kekerasan, serta kepentingan berbagai pihak.

Baca Juga: UMKM Tetap Jadi Tulang Punggung BRI, Kredit Tembus Rp1.235 Triliun hingga Kuartal II 2026

Di sinilah Greg Scarpa masuk ke dalam cerita.Scarpa memiliki pendekatan yang sangat berbeda. 

Jika Strider harus mempertimbangkan prosedur dan batas hukum, Scarpa justru dikenal sebagai sosok yang tidak segan mengambil jalan ekstrem.

Perbedaan karakter tersebut menjadi salah satu sumber ketegangan sepanjang film.

Strider dihadapkan pada pertanyaan sulit: seberapa jauh ia bisa bertindak ketika sistem yang seharusnya memberikan keadilan justru menghadirkan berbagai hambatan?

Sementara Scarpa terbiasa menggunakan cara-cara yang berada jauh di luar batas normal.

Pertemuan keduanya akhirnya membawa cerita pada benturan antara idealisme, loyalitas, keadilan, dan keinginan untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Bupati Purwakarta Murka Dengar Ada SLHS Yang Dipalsukan,Minta Kadis DPMPTSP Buat LP ke Polres

Latar Mississippi tahun 1960-an juga membuat persoalan dalam film terasa semakin berat. 

Diskriminasi terhadap warga kulit hitam menjadi bagian penting dari konflik, termasuk kehadiran kelompok yang merepresentasikan kebencian dan intoleransi rasial.

Namun, By Any Means tidak hanya mengandalkan konflik sosial.

Film ini juga menempatkan karakter utamanya dalam tekanan psikologis. 

Pilihan yang dibuat Strider maupun Scarpa memiliki konsekuensi, sehingga penonton diajak melihat bagaimana seseorang bisa terdorong melewati batas moral ketika berada dalam situasi ekstrem.

Dari sisi atmosfer, film ini menggunakan nuansa gelap untuk memperkuat ketegangan. 

Baca Juga: Tutorial Membuat LKPD di Canva AI Tanpa Prompt Panjang, Ini Langkahnya dari Awal sampai Selesai

Musik yang intens, efek suara realistis, serta pencahayaan kontras ikut membangun suasana Mississippi yang penuh ancaman.

Penggunaan close-up pada karakter juga membuat tekanan psikologis terasa lebih dekat. 

Penonton seolah diajak masuk ke dalam pikiran Strider ketika harus menentukan pilihan sulit.

Menariknya, ketegangan tidak berlangsung tanpa jeda. 

Karakter Greg Scarpa sesekali menghadirkan humor gelap melalui komentar-komentarnya, termasuk ketika menyindir Strider maupun situasi rasisme yang menjadi latar cerita.

Dari sisi akting, Yahya Abdul-Mateen II menjadi salah satu pusat perhatian lewat karakter Strider yang berada di antara idealisme dan realitas. 

Baca Juga: Rolade Ayam Homemade Bisa Jadi Stok Frozen Food, Ini Resep Praktisnya

Mark Wahlberg menghadirkan kontras melalui Scarpa yang lebih brutal dan tidak terikat pada cara-cara konvensional.

Giancarlo Esposito sebagai Vernon Dahmer serta Nicole Beharie yang berperan sebagai istri Strider turut memberikan lapisan emosional pada cerita.

Dengan durasi sekitar 1 jam 47 menit, By Any Means menawarkan perpaduan thriller, drama sejarah, dan konflik psikologis. 

Film ini dijadwalkan dirilis Paramount Pictures pada September 2026.

Buat penonton yang menyukai thriller dengan persoalan sosial dan dilema moral, film ini bisa menjadi tontonan yang cukup berbobot. 

Baca Juga: Sejarah UKWMS, Berawal dari Gagasan Pendidikan Tinggi Katolik hingga Kini Punya Lima Kampus

Bukan cuma soal siapa pelaku kejahatan, tetapi juga tentang seberapa mahal harga yang harus dibayar ketika seseorang berusaha mencari keadilan.

By Any Means mengajak penonton melihat bahwa jalan menuju keadilan tidak selalu lurus. 

Ketika hukum, kekuasaan, dan kepentingan pribadi saling berbenturan, pilihan yang terlihat benar pun bisa membawa konsekuensi yang tak terduga. ***