POJOKSATU.id - Musim Lebaran selalu menjadi panggung besar bagi industri film Indonesia. Tahun 2026 pun tidak berbeda. 

Enam judul film nasional dipastikan tayang serentak di bioskop pada 18 Maret 2026, membawa warna genre yang sangat beragam.

Dari drama keluarga yang intim, kisah perjuangan hidup, horor legendaris, hingga petualangan fiksi ilmiah, semuanya hadir dalam satu waktu yang sama. 

Situasi ini membuat persaingan box office Lebaran menjadi semakin menarik untuk diamati.

Di balik persaingan tersebut, setiap film menawarkan pendekatan cerita, gaya penyutradaraan, serta kekuatan karakter yang berbeda. 

Bagi penonton, pilihan tontonan tahun ini terasa lebih variatif dibandingkan musim Lebaran sebelumnya.

Senin Harga Naik, Drama Keluarga yang Emosional

Film Senin Harga Naik menjadi salah satu drama keluarga yang cukup dinanti. Film ini disutradarai oleh Dinna Jasanti dan diproduksi dengan pendekatan storytelling yang hangat serta intim.

Cerita berpusat pada Mutia yang diperankan Nadya Arina, seorang perempuan muda yang hidup bersama ibunya, Retno, yang diperankan Meriam Bellina.

Keduanya menjalankan toko roti legendaris keluarga bernama Mercusuar. Hubungan ibu dan anak ini menjadi pusat konflik emosional film, terutama ketika Mutia mulai mempertanyakan arah hidupnya sendiri.

Karakter Retno digambarkan sebagai sosok ibu yang tegas, perfeksionis, namun sangat mencintai keluarganya. Sementara Mutia memiliki karakter lebih ekspresif dan modern, sehingga benturan generasi terasa sangat natural dalam film ini.

Musik juga menjadi elemen penting dalam film ini. Lagu tema “Saat Kau Telah Mengerti” yang dibawakan Virgoun menjadi penguat emosi cerita. 

Kolaborasi Kunto Aji dan Nadin Amizah lewat lagu “Selaras” turut menambah lapisan suasana dalam film.

Meriam Bellina mengaku cukup gugup menghadapi persaingan film Lebaran tahun ini.

"Deg-degan sih jujur, karena film lebaran itu kan ada enam film bagus-bagus semua loh ya," ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta.

Danur: The Last Chapter, Klimaks Saga Horor Populer

Penggemar horor tentu menantikan kehadiran Danur: The Last Chapter. Film ini menjadi bab terakhir dari franchise Danur yang terinspirasi dari kisah supranatural penulis Risa Saraswati.

Karakter utama Risa kembali diperankan oleh Prilly Latuconsina. Dalam seri penutup ini, Risa menghadapi konflik supranatural terbesar sepanjang perjalanan ceritanya.

Atmosfer horor dibangun melalui pendekatan visual yang lebih sinematik. 

Beberapa adegan menonjol menampilkan interaksi Risa dengan entitas gaib yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya.

Rumah produksi MD Pictures menyiapkan film ini sebagai klimaks emosional sekaligus horor bagi penggemar setianya.

Na Willa, Nostalgia Masa Kecil yang Hangat

Film drama keluarga Na Willa menawarkan pengalaman yang lebih reflektif. Film ini disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan diadaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo.

Ceritanya mengikuti kehidupan Willa, seorang gadis kecil yang tumbuh di Surabaya pada era 1960-an. 

Dunia yang ia lihat dipenuhi imajinasi, rasa ingin tahu, dan hubungan hangat dengan keluarga serta lingkungan sekitar.

Pendekatan sinematografinya banyak menggunakan tone warna lembut yang memberi kesan nostalgia. Film ini tidak mengandalkan konflik besar, melainkan kekuatan observasi terhadap kehidupan sehari-hari.

Tunggu Aku Sukses Nanti, Potret Realitas Sosial

Drama sosial Tunggu Aku Sukses Nanti menyoroti realitas yang sangat dekat dengan kehidupan banyak orang.

Tokoh utama Arga diperankan oleh Ardit Erwandha. Ia digambarkan sebagai pemuda yang menjadi tulang punggung keluarga dan ingin membuktikan kesuksesannya ketika pulang kampung saat Lebaran.

Film ini juga dibintangi oleh Jamie Aditya serta Sarah Sechan. Karakter Arga dibangun sebagai figur pekerja keras yang menyimpan banyak tekanan batin.

Beberapa adegan paling kuat muncul ketika Arga harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan klasik keluarga saat momen kumpul Lebaran.

Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Horor Balas Dendam

Warisan horor klasik Indonesia kembali hadir lewat Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa.

Film ini menampilkan kembali Luna Maya sebagai sosok Suzzanna, karakter perempuan yang bangkit dari kematian untuk menuntut balas.

Nuansa horor klasik dibangun melalui ritual santet, atmosfer desa yang mencekam, serta desain suara yang menonjolkan ketegangan psikologis.

Adegan ritual santet yang menjadi puncak cerita disebut menjadi salah satu momen paling intens dalam film ini.

Pelangi di Mars, Petualangan Anak yang Visioner

Film Pelangi di Mars menghadirkan warna berbeda dalam jajaran film Lebaran.

Disutradarai oleh Upie Guava, film ini menggabungkan unsur petualangan anak dengan fiksi ilmiah.

Cerita mengikuti Pelangi, anak pertama yang lahir di Planet Mars ketika Bumi mengalami krisis air. Ia memulai perjalanan mencari mineral langka yang diyakini dapat menyelamatkan kehidupan di Bumi.

Produksi film ini menggunakan teknologi virtual production di studio extended reality DossGuava, memberikan tampilan visual luar angkasa yang cukup ambisius untuk film Indonesia.

Adegan eksplorasi permukaan Mars dan perjalanan Pelangi melintasi lanskap planet merah menjadi highlight visual yang paling mengesankan.

Persaingan Lebaran yang Semakin Menarik

Enam film tersebut memperlihatkan bagaimana perfilman Indonesia semakin berani mengeksplorasi berbagai genre dan pendekatan cerita.

Drama keluarga, horor, nostalgia masa kecil, realitas sosial, hingga petualangan luar angkasa kini hadir berdampingan di layar lebar.

Lebaran tahun ini bukan hanya tentang film mana yang paling ramai penonton. Ini juga menjadi kesempatan bagi penonton untuk merasakan berbagai pengalaman sinematik yang berbeda dalam satu musim yang sama. ***