POJOKSATU.id – Gladi bersih Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang digelar pada 27–30 Oktober 2025 justru memantik gelombang protes dari para siswa di berbagai daerah.

Pada hari pertama pelaksanaan, keluhan dan kritik bermunculan di media sosial, bahkan berkembang menjadi sebuah gerakan petisi daring.

Banyak siswa menilai pelaksanaan TKA kali ini terlalu terburu-buru dan kurang matang dalam persiapan.

Tidak sedikit dari mereka yang merasa tertekan dan tidak siap menghadapi ujian nasional bergengsi tersebut.

Baca Juga: Apakah TKA Jadi Syarat Masuk di Semua PTN? Simak Kembali Penjelasan Resmi Kemendikdasmen

Di situs change.org, muncul sebuah petisi bertajuk “Batalkan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025” yang diinisiasi oleh seorang pengguna bernama Siswa Agit.

Hingga Rabu, 29 Oktober 2025 pukul 14.19 WIB, petisi tersebut telah ditandatangani oleh 225.697 orang.

Dalam tulisannya, Siswa Agit menyampaikan kekecewaan dan keresahan banyak pelajar terhadap kebijakan tersebut.

“Kami meminta pemerintah dan pihak terkait untuk meninjau kembali keputusan ini. Diharapkan adanya penundaan atau pembatalan pelaksanaan TKA 2025, sehingga kami dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik,” tulisnya.

Baca Juga: HITUNGAN Hari TPG Triwulan IV Tahun 2025 akan Segera Ditransfer ke Rekening Guru Penerima!

TKA Tidak Siap dan Menambah Tekanan

Melalui petisinya, Siswa Agit menyoroti bahwa penyelenggaraan TKA tidak hanya menambah tekanan psikologis, tetapi juga mempermainkan arah masa depan pendidikan siswa.

“Di sekolah kami yang menerapkan Kurikulum Merdeka, dampaknya sangat terasa di sisi murid,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa TKA 2025 diadakan secara mendadak dan kurang sosialisasi yang memadai.

Hal ini membuat para siswa merasa kehilangan arah dan sulit beradaptasi dengan sistem yang baru.

“Kemudian tiba-tiba TKA diadakan. Hal ini menyulitkan kami untuk merasakan stabilitas dan kepastian atas pendidikan yang seharusnya memberi arah yang jelas,” tulisnya lagi.

Baca Juga: Tutup Tahun dengan Meriah! The Alana Sentul Siapkan Steak, Musik, dan Hadiah Rp100 Juta di Malam Tahun Baru 2026

Selain waktu persiapan yang sempit, siswa juga menyoroti keterlambatan penetapan kisi-kisi ujian.

“Guru dan murid hanya punya waktu 3,5 bulan untuk menyiapkan TKA.

Guru bimbel sudah berusaha membuat prediksi soal sejak Juli setelah kisi-kisi keluar, tapi hasilnya tidak akurat sama sekali.

Bahkan berbeda jauh dengan perkiraan soal dari Pusmendik,” ungkapnya.

Situasi ini memaksa para guru dan siswa menyusun ulang strategi belajar hanya beberapa minggu sebelum simulasi online pertama.

“Bayangkan, sesingkat itu waktu kami bersiap. Jadwal padat kelas 12 makin menambah tantangan yang kami hadapi,” lanjutnya.

Baca Juga: BKD Wonosobo Akui Tak Punya Kewenangan Menindak Guru SD Viral yang Dituding Selingkuh Istri Sah

Materi Luas, Persiapan Singkat, dan Tekanan Mental

Tak berhenti di situ, siswa juga menilai cakupan materi TKA terlalu luas, sehingga membuat proses belajar menjadi tidak fokus.

“Cakupan materi yang terlampau luas membuat kami sulit memperkirakan soal yang akan keluar. Ketidakjelasan ini justru menambah beban mental,” tulis Siswa Agit.

Selain itu, dia menyoroti perbedaan kemampuan antar sekolah akibat penerapan Kurikulum Merdeka.

Menurutnya, kebebasan guru dalam mengatur pembelajaran sering kali tidak diimbangi dengan tanggung jawab yang proporsional.

“Banyak guru memanfaatkan kebebasan mengajar sebagai alasan tidak mengajar.

Baca Juga: Gerakan Cari Aman, Honda Ajak Pengendara Lebih Peduli Keselamatan di Jalan Raya

Akibatnya, kami hanya belajar dari presentasi teman, lalu langsung lanjut ke materi baru atau langsung tes harian,” keluhnya.

Ia juga menyoroti kondisi siswa kelas 12 yang harus menghadapi tumpukan ujian praktik di tengah persiapan TKA.

“Beberapa sekolah masih menjalankan ujian praktik berlebihan setelah pengumuman TKA keluar.

Jadwal kami sudah penuh. Bagaimana bisa kami mempersiapkan diri dengan baik?” tulisnya dalam petisi.

Tanggapan Pemerintah

Menanggapi petisi yang ramai dibicarakan publik, Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Toni Toharudin, menyatakan bahwa pemerintah tetap berkomitmen menyelenggarakan TKA sesuai jadwal yang telah ditetapkan.

“Disikapi dengan penuh semangat saja. Kita sedang berikhtiar untuk pendidikan bermutu,” ujar Toni pada Selasa, 28 Oktober 2025.

Baca Juga: Segera Daftar, BNI Buka Lowongan Fresh Graduate Lewat Program ODP dan GAP

Ketika ditanya soal kemungkinan jadwal TKA mundur, Toni menegaskan bahwa tidak ada perubahan jadwal.

“Tidak ada,” tegasnya.

Toni menjelaskan bahwa Tes Kemampuan Akademik (TKA) merupakan ujian standar nasional yang bisa diikuti seluruh siswa kelas akhir dari berbagai jenjang pendidikan: SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, hingga SMK/MAK, baik dari jalur formal, nonformal, maupun informal.

Tujuan utama TKA adalah untuk mengukur penguasaan materi pelajaran siswa secara individu, serta menjadi salah satu syarat utama dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.

Berdasarkan jadwal yang telah dirilis, pelaksanaan TKA 2025 untuk jenjang SMA/SMK/sederajat akan digelar pada 3–9 November 2025.

Baca Juga: Bukan Sekadar Kampus Swasta, Ini Keunggulan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta yang Bikin Banyak Mahasiswa Tertarik

Meskipun menuai protes dan kritik dari para siswa, pemerintah tetap optimistis bahwa pelaksanaan TKA 2025 akan berjalan lancar dan memberikan hasil terbaik bagi dunia pendidikan Indonesia.

Semoga para siswa tetap semangat menghadapi tantangan TKA ini, dan menjadikan setiap proses belajar sebagai pengalaman berharga menuju masa depan yang lebih cerah. ***