POJOKSATU.id — Sekolah Rakyat kini mulai menerapkan sistem multi entry–multi exit (ME-ME), yakni mekanisme yang memungkinkan siswa masuk dan keluar dari program pendidikan, kapan saja.

Sistem ini dirancang agar proses belajar menjadi lebih fleksibel dan menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.

Dengan sistem ME-ME, siswa tidak harus menunggu tahun ajaran baru untuk bergabung.

Mereka bisa mulai belajar kapan pun sesuai kesiapan, bahkan berhenti sementara tanpa kehilangan hak untuk melanjutkan.

Baca Juga: Ternyata Gratis, Begini Cara Ambil Barang Hasil Curian di Kantor Polisi Tanpa Bayar Sepeser Pun

Konsep ini sejalan dengan semangat pendidikan inklusif dan merdeka belajar yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran.

Namun, muncul pertanyaan baru, apakah sistem ini tidak mengganggu kegiatan belajar di sekolah?

Faktanya, tidak. Selama kurikulum disusun dengan sistem modular dan berbasis kompetensi.

Setiap mata pelajaran dipecah menjadi unit-unit kecil atau modul. Jadi, siswa baru yang masuk di tengah periode bisa langsung mengikuti modul yang sedang berjalan tanpa mengganggu kelas yang sudah lebih dulu berjalan.

Guru berperan sebagai fasilitator dan mentor, bukan hanya pengajar. Mereka membantu siswa menyesuaikan diri dengan modul yang diambil dan menilai kemajuan belajar berdasarkan capaian, bukan waktu belajar.

Baca Juga: Pemerintah Tanggung Penuh Gaji Peserta Magang Nasional Selama Enam Bulan, Segini Besarannya

Dalam hal penilaian, Sekolah Rakyat menggunakan sistem penilaian berbasis kompetensi (competency-based assessment).

Evaluasi dilakukan secara berkala melalui penilaian formatif dan sumatif pada setiap modul. Setiap capaian siswa dicatat dalam portofolio belajar yang berfungsi sebagai rekam jejak akademik.

Menariknya, siswa yang belum menuntaskan semua modul tetap mendapat pengakuan berupa sertifikat parsial untuk modul yang sudah selesai. Dengan begitu, setiap proses belajar diakui, meskipun siswa belum mencapai keseluruhan program.

Meski menawarkan fleksibilitas tinggi, sistem ini juga memiliki tantangan. Guru perlu memahami metode asesmen berbasis kompetensi, sementara manajemen sekolah harus menyiapkan sistem administrasi yang adaptif untuk mengelola siswa dengan jadwal masuk dan keluar yang berbeda-beda.

Namun secara keseluruhan, sistem multi entry–multi exit dinilai sebagai langkah maju dalam menciptakan pendidikan yang lebih inklusif, relevan, dan menyesuaikan kebutuhan zaman.***