POJOKSATU.id - Anggota Komisi X DPR RI Anita Jacoba Gah mendadak viral usai memarahi habis-habisan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim.

Anita Jacoba Gah memarahi Nadiem Makarim sampai meledak-ledak dengan nada suara yang tinggi.

TIdak hanya itu, Anita Jadoba Gah juga beberapa kali menunjuk-nunjuk Nadiem Makarim yang didampingi jajaran anak buahnya.

Beberapa kali pula politikus Partai Demokrat itu juga menggebrak-gebrak meja.

Baca Juga: Singgung Guru dan PPPK, Anita Marah Meledak-ledak Gebrak Meja dan Tunjuk-tunjuk, Nadiem Makarim cuma Tertunduk: Kita Buktikan Siapa yang Bobrok

Momen kemarahan Anita kepada Nadiem Makarim itu terjadi dalam rapat kerja Kemdikbudristek dengan Komisi X di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta pada Kamis 6 Juni 2024.

Rapat tersebut membahas RKA-K/L dan RKP K/L Tahun 2025.

Mulanya, Anita diberikan kesempatan oleh pimpinan Komisi X untuk berbicara.

Saat itu Anita pun tidak terlihat marah atau emosi sedikitpun.

Baca Juga: Soal Polemik Program Sastra Masuk Kurikulum : Nadiem Makarim Disebut Menteri yang Paling Sering Bikin Gaduh

Sebagai pembuka, legislator Dapil Nusa Tenggara Timur II itu membahas soal kekurangan anggaran Rp15 triliun di Kemdikbudristek.

Menurutnya hal itu semestinya tidak perlu membuat kementerian yang dipimpin Nadiem Makarim itu kelimpungan.

Sebaliknya, Kemdikbudristek malah seharunya melakukan interopeksi.

"Kalau menurut saya, mari kita koreksi diri, kenapa ini terjadi? Jujur sama diri kita sendiri," buka Anita.

Menurutnya, anggaran yang didapat Kemdikbudristek selama ini sudah cukup besar.

"Anggaran yang sudah diberikan begitu banyak tahun 2024. Apakah sudah digunakan dengan baik atau tidak?" tanya Anita.

Jika kemudian anggaran tersebut dikurangi, semestinya juga tidak membuat Kemdikbudristek malah sedih atau meratapinya.

"Jangan kalau dikurangin kita sedih tapi waktu (anggaran) dikasih banyak kita tidak menggunakannya dengan baik," sindir dia.

Baca Juga: Kenaikan UKT: Mendikbud Nadiem Makarim Anda Dapat 'Red Card' dari Presiden Terpilih loh

Saat itulah nada bicara Anita yang awalnya pelan mulai meninggi.

"Karena sampai hari ini, pak Menteri, berulang kali saya katakan bahwa masih banyak persoalan terhadap realisasi anggaran dan penyerapan APBN itu ke daerah, baik transfer daerah, itu banyak persoalan," ucap dia.

Bersamaan dengan itu, nada bicara Anita beranjak meninggu dengan menyinggung nasib guru honorer di daerah.

"Mau masalah guru. Sampai sekarang guru PPPK yang sudah lolos (seleksi) PPPK, sampai sekarang belum dikasih SK," kata dia.

Anita lantas membeberkan beberapa kasus guru honorer sudah lulus tapi belum juga menerima SK pengangkatan.

Baca Juga: Pimpinan DPR Ini Sebut Tidak Ada Desain Besar Pendidikan Nasional di Bawah Nadiem Makarim

"Provinsi NTT belum. Mereka belum terima SK. Kedua, guru-guru daerah terpencil masih banyak yang belum terima juga tunjangannya,"

Selanjutnya, dia juga menyinggung soal kondisi bangunan sekolah di sejumlah daerah yang sudah tidak layak.

"Ketiga, banyak bangunan-bangunan sekolah yang masih terbengkalai, padahal dari 2021 anggarannya ada," ucap dia.

Anita lantas mencontohkan di Kabupaten Kupang dimana ada 17 bangunan sekolah yang terbengkalai.

"Saya kasih contoh. Di Kabupaten Kupang ada 17 sekolah bangunan yang dari 2001 sampai sekarang tidak terselesaikan," beber dia.

Seperti tidak cukup, satu per satu permasalahan dunia pendidikan pun mulai diumbar Anita Jacoba Gah.

Sejak itu, nada suara Anita menjadi terus meninggi sampai menggebrak meja dan menunjuk-nunjuk Nadiem Makarim serta anak buahnya.

Agar informasi tidak terpotong, redaksi Pojoksatu.id akan menyajikan apa yang disampaikan Anita Jacoba Goh kepada Mendikbudristek Nadiem Makarim secara utuh.

Baca Juga: Nadiem Makarim Jadi Bulan-bulanan Usai Cabut Ekskul Pramuka di Sekolah

Redaksi tidak menambahi atau mengurangi ucapan Anita Jacoba Gah kepada Nadiem Makarim.

Berikut ini ucapan Anita Jacoba Gah selanjutnya:

Mau lagi? Kita lihat lagi, dana-dana PIP. Nah makanya Kemarin saya mengatakan bahwa kalau KPK memberikan rekomendasi kepada Kemendikbud harusnya Kemendikbud sadar

Karena apa? Kami ini dewan, kami sudah bilang setiap rapat banyak persoalan. Lakukan pengawasan, laporkan kepada kami tapi kami tidak pernah didengar, ya kan.

Akhirnya sekarang KPK memberikan rekomendasi baru seakan-akan Kemdikbud kayak kebakaran jenggot. Bahkan kami anggota pemangku kepentingan diatur lagi sama mau diatur sama Kemendikbud untuk melakukan verifikasi oleh dinas.

Baca Juga: Profil Nadiem Makarim Punya Harta Rp 1,1 Triliun, Beragama Islam Tapi Istrinya Beda Keyakinan

Loh, Anda sebagai Kementerian mau enggak dilakukan verifikasi sama Dinas? Jangan suruh, jangan suruh dinas, jangan suruh apa yang kita usulkan dilakukan harus dilakukan verifikasi oleh dinas.

Kita ini lembaga tinggi negara, wakil rakyat. Kita yang menentukan anggaran di Indonesia ini. Bagaimana Kepala Dinas bisa memverifikasi data yang kita berikan?

Anda sebagai Kepala Kementerian mau enggak diverifikasi sama dinas? Bapak Ibu ini kan orang-orang pintar, setahunya saya di Kemendikbud. Orang-orang berpendidikan. Kok bisa salah mengambil kebijakan?

Bu Sekjen, Anda mengeluarkan Persekjan yang dimana poin nomor 3 dikatakan bahwa, data yang direkomendasikan sebagaimana dimaksud pada huruf b diverifikasi oleh Dinas Pendidikan.

Loh, kita ini pemangku kepentingan usul kan itu dari Dapodik sekolah. Dapodik itu harusnya kan, makanya tadi Pak Andre bilang, operator sekolah itu diperhatikan karena semua itu dari operator sekolah. kepala sekolah aja kadang-kadang tidak tahu apa yang terjadi dilakukan oleh operator sekolah.

Dinas Pendidikan juga gak tahu. Eh, kementerian juga.

Jadi kalau maakukan verifikasi, harusnya Kementerian melakukan verifikasi terhadap dinas. Dinas lakukan verifikasi terhadap kepala sekolah, hasil verifikasi itu baru diberikan kepada kami. Itu jangan dibolak-balik.

Bahkan saya minta Bapak Ibu pimpinan, Bapak Ibu Pimpinan, kita memberikan rekomendasi kepada KPK, periksa APBN yang ada di kementriikbud, karena ini banyak persoalan. PIP, KIP, dana BOS. Banyak. Hancur ini.

Tolong ibu. Saya minta kepada Ppimpinan, kita berikan rekomendasi kepada KPK, periksa! Dari 2021, 2022, 2023. Enggak usah tambah anggaran kalau memang banyak korupsi. Uang negara habis bukan untuk rakyat.

Saya marah, pak Menteri untuk saksian kalinya. Karena memang ini kenyataannya di lapangan. Jangan dong kita dibikin seperti anak kecil. Kok, apa yang diusulkan kita mesti diverifikasi oleh Dinas Pendidikan.

Anda mau enggak sebagai Menteri diverifikasi oleh dinas? Jangan aneh-aneh lah. Kalian itu dipilih, dipilih oleh Presiden. Harusnya berikanlah yang terbaik untuk rakyat.

Semoga pembicaraan saya ini dilihat oleh Presiden yang baru. Semoga presiden yang baru memperhatikan kinerja Kementerian sekarang ini, memperhatikan eselon-eslon I yang sudah ada ini.

Tidak memberikan solusi kepada negara, hanya membuat persoalan di daerah. Yang tertinggal, tetap tertinggal. Yang guru menangis, tetap menangis. Bicara (tidak jelas) digital.

Mana keadilan untuk daerah 3T? Enak daerah-daerah yang sudah ada internetnya, diberikan terus. Tapi kita yang daerah 3T yang tidak ada internetnya dibiarkan begitu saja.

Mana keadilan sosial bagi rakyat Indonesia, pak Menteri? Saya sangat kecewa.

Kita sudah mau habis masa abatan. Anda mungkin sebentar lagi habis atau Anda lanjut, saya tidak tahu. Tapi saya, puji Tuhan, Tuhan dan rakyat masih memilih saya kembali.

Dan sampai ini, kapanpun yang terjadi kita yang terpilih kembali, kita akan tetap memperjuangkan keadilan dan kebenaran untuk kemajuan anak negeri kita. Bukan untuk, bukan untuk kita anggota dewan. Bukan.

Jadi jangan aneh-aneh punya pikiran negatif terhadap Wakil rakyat. Liat semua data. Semua data-data yang kita pilih itu adanya di Dapodik sekolah.

Perhatikan dong operator sekolah. Perhatikan kepala sekolah. Perhatikan dinas. Jangan hanya urus yang besar-besar triliunan tapi begitu sampai di bawah tidak pernah diperhatikan. Omong kosong semua ini.

saya setuju KPK memberikan rekomendasi, bila perlu kita berikan rekomendasi kepada KPK periksa Kemendikbud. Biar kita lihat siapa yang bobrok, siapa yang mencintai negeri ini sebetulnya. Wakil rakyatkah atau mereka?

Jangan begitu dong. Bikin Persekjen, memalukan Sejen. Ya, iyalah. Anda Jangan senyum!

Anda membuat Persekjen tidak berpikir, masa kita diverifikasi oleh dinas. Mending kalau kepala dinasnya bersih, kalau kepala dinasnya justru yang mencuri uang PIP bagaimana Ibu? Saya mau tanya sekarang. Jawab!

Apa Anda pikir semua kepala dinas bersih? Oh tidak! Mari kita buktikan. Mau kita turun, kita buktikan, kita tanya.

Jangan sama kepala dinas. Tanya sama penerima PIP itu baru bisa jawabannya. Kalau andanya turun hanya di dinas, semua jawabannya bagus, bagus, bagus. Tapi coba turun ke rakyat. Turun ke penerima orang tua kalau gak lihat itu orang tua punya air mata, omong kosong.

Nama ada, SK ada, uang no! Sampai hari ini. Jadi, kalau kita mau bicara soal anggaran, pak, jangan tambah. Tuhan juga tidak ingin semua uang negara ini hilang.

Saya yakin dan percaya, sampai ini anggaran turun, karena Tuhan itu lihat air mata orang miskin. Jadi, kalau anggaran turun, jangan marah. Mungkin inilah kehendak Tuhan supaya kita koreksi diri.

Stop dan bertobat kalau mau lihat bangsa ini baik dan lebih maju. Terima kasih pimpinan.***