POJOKSATU.id — Pencapaian Akreditasi Unggul bukan lagi sekadar prestasi simbolis bagi perguruan tinggi, melainkan penentu daya saing mereka di tengah ketatnya kompetisi pendidikan tinggi.
Namun jalan untuk menuju ke sana tidaklah mudah, karena perguruan tinggi harus bergulat dengan keterbatasan anggaran, regulasi yang kerap berubah, hingga tuntutan peningkatan kualitas layanan akademik.
Berangkat dari kegelisahan itu, Edufin menggelar forum diskusi bertema “Anggaran Baik untuk Akreditasi Unggul” di éL Hotel Bandung, pada Rabu (14/8/2025).
Baca Juga: Rayakan HUT RI ke 80, UM Gaungkan Semangat Sehat, Bermartabat dan Berdaulat
Kegiatan ini mempertemukan para pimpinan kampus, wakil rektor, bendahara, hingga pengelola keuangan dalam satu meja untuk membahas cara cerdas mengelola dana agar selaras dengan standar penilaian akreditasi.
Bukan Sekadar Nominal
Dalam paparannya, Dr. Bernardus Wishman S. Siregar, S.E., M.E., menekankan bahwa keunggulan perguruan tinggi selalu berakar pada perencanaan yang konsisten.
“Keunggulan bukan kebetulan, tetapi hasil dari strategi yang dijalankan secara disiplin sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi,” tegasnya.
Ia mencontohkan banyak kampus yang masih terkendala fasilitas, kurikulum, maupun kualitas SDM akibat keterbatasan dana.
Situasi tersebut makin pelik ketika aturan pendidikan tinggi berubah dengan cepat, sehingga kampus harus segera menyesuaikan alokasi anggarannya masing-masing.
Tanpa mekanisme yang kuat, kondisi ini bisa menimbulkan ketidakseimbangan keuangan hingga berujung pada pemborosan.
Baca Juga: Oknum Guru SMP di Tuban Ditangkap Imbas Cabuli Siswi, Pelaku Terancam 15 Tahun Penjara
“Kompetisi antar kampus saat ini bukan hanya soal jumlah mahasiswa, tapi juga siapa yang mampu menyediakan layanan pendidikan dengan kualitas terbaik,” tambah Bernardus.
Teknologi Jadi Jalan Tengah
Dari sisi praktis, teknologi dianggap sebagai jawaban untuk keluar dari problem klasik keuangan kampus.
Ronald Argand Pinontoan, Product Manager Edufin, menegaskan bahwa sistem berbasis cloud dapat membantu perguruan tinggi mengelola anggaran lebih efisien.
“Semua perguruan tinggi menghadapi tantangan serupa. Bedanya, siapa yang bisa memanfaatkan teknologi akan lebih cepat beradaptasi dan sehat secara finansial,” ujarnya.
Dengan sistem yang terintegrasi, laporan keuangan dari berbagai unit dapat dipantau secara real-time dan disesuaikan dengan instrumen akreditasi.
Fitur ini tidak hanya mempermudah administrasi, tetapi juga menyediakan data presisi yang bisa dijadikan dasar pengambilan keputusan oleh pimpinan.
Sejak beroperasi pada 2019, Edufin tercatat sudah membantu lebih dari 500 institusi pendidikan di Indonesia, dengan volume transaksi tahunan mencapai lebih dari satu juta dan nilai pengelolaan dana hingga triliunan rupiah.
Catatan ini menjadi bukti bahwa digitalisasi keuangan kampus bukan lagi wacana, melainkan kebutuhan nyata.
Ronald menegaskan pentingnya pengelolaan keuangan kampus yang presisi sebagai fondasi masa depan pendidikan.
“Dengan pengelolaan keuangan yang tepat, perguruan tinggi bukan hanya mematuhi regulasi, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan,” tutupnya.
Forum ini menandai awal transformasi kampus dalam memandang anggaran, dari sekadar laporan angka menjadi instrumen strategis untuk mencapai mutu akademik dan akreditasi unggul.***



