POJOKSATU.id - Pemerintah menyiapkan perubahan pengelolaan SMA Unggul Garuda Baru dengan mengalihkannya kepada Badan Pengelola Universitas Republik Indonesia (BP URI).

Meski pengelolaan kelembagaannya berubah, pemerintah memastikan program sekolah unggulan tersebut tetap berlanjut dengan dukungan dana abadi yang ditargetkan mencapai Rp24,2 triliun pada 2029.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan, pengalihan pengelolaan itu direncanakan setelah pembangunan empat SMA Unggul Garuda Baru selesai.

BP URI diproyeksikan menjadi pengelola terpadu untuk mendukung pengembangan talenta unggul Indonesia.

Perubahan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keberlanjutan program sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan unggulan nasional.

"Kalau khawatir, apakah program yang investasinya besar ini akan terus berlanjut? Lanjut!" tegas Stella dalam unggahan di akun Instagram resminya, dikutip pojoksatu.id, Sabtu (24/10/2026).

Target 100 Sekolah Garuda di Seluruh Indonesia

SMA Unggul Garuda merupakan salah satu program unggulan pemerintah di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menghadirkan empat SMA Unggul Garuda Baru dan mengembangkan 47 SMA Unggul Garuda Transformasi yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Empat SMA Unggul Garuda Baru tersebut berlokasi di:

  1. Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung.

  2. Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

  3. Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

  4. Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, SMA Unggul Garuda Transformasi merupakan program penguatan sekolah yang sudah ada untuk meningkatkan mutu pendidikan, mengembangkan kemampuan peserta didik, dan memperluas kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik.

Pemerintah menargetkan pengembangan 100 Sekolah Garuda yang terdiri atas 20 SMA Unggul Garuda Baru dan 80 SMA Unggul Garuda Transformasi.

Program ini dirancang untuk menyiapkan generasi muda Indonesia yang memiliki kompetensi unggul di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau science, technology, engineering, and mathematics (STEM).

Dengan pengembangan tersebut, pemerintah tidak hanya membangun sekolah baru, tetapi juga memperkuat sekolah yang telah ada agar mampu menghasilkan lulusan berprestasi dan berdaya saing global.

Dana Abadi Sekolah Garuda Ditargetkan Rp24,2 Triliun

Salah satu penopang keberlanjutan program Sekolah Garuda adalah dana abadi yang disiapkan untuk mendukung pembiayaan dalam jangka panjang.

Stella menjelaskan, dana abadi Sekolah Garuda saat ini mencapai Rp6,1 triliun. Pemerintah menargetkan jumlahnya meningkat menjadi Rp24,2 triliun pada 2029.

Dana tersebut direncanakan mulai digunakan setelah 2029 untuk menjaga keberlangsungan program Sekolah Garuda.

Skema dana abadi ini diharapkan membuat program tidak hanya bergantung pada pembiayaan tahunan, tetapi memiliki sumber pendanaan yang disiapkan untuk mendukung keberlanjutan dalam jangka panjang.

"Untuk selamanya program Sekolah Garuda bisa lanjut karena punya dana abadi. Kita semua tetap semangat untuk Sekolah Garuda mengudara," ujar Stella.

Dengan target tersebut, pemerintah ingin memastikan pengembangan sekolah unggulan tetap berjalan meskipun terjadi perubahan pengelolaan kelembagaan.

Siswa Mendapat Beasiswa Pendidikan Penuh

Selain pengembangan sekolah dan pembiayaan jangka panjang, Sekolah Garuda dirancang untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi peserta didik berprestasi dari berbagai daerah.

Stella menyebut siswa yang diterima merupakan anak-anak berprestasi dari seluruh Nusantara. Banyak di antara mereka berasal dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif rendah.

"Siswanya, anak-anak pintar dari seluruh Nusantara, rata-rata desil empat, dan mereka mendapatkan beasiswa penuh 100% untuk bersekolah dan asramanya," kata Stella.

Kemdiktisaintek juga menegaskan bahwa peserta didik SMA Unggul Garuda Baru memperoleh beasiswa pendidikan penuh sesuai ketentuan program.

Dalam kegiatan open house yang digelar serentak di 51 titik pada 17 Oktober 2026, Sekretaris Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi M. Samsuri menjelaskan bahwa pembiayaan mencakup kebutuhan pendidikan sesuai ketentuan yang berlaku.

Dukungan tersebut juga dapat mencakup biaya perjalanan kedatangan pertama bagi siswa yang berasal dari daerah jauh, termasuk tiket pesawat, sebagaimana dijelaskan Samsuri.

Melalui skema ini, siswa berprestasi diharapkan dapat memperoleh pendidikan berkualitas tanpa terkendala kondisi ekonomi keluarga. ***