POJOKSATU.id — Perdebatan soal relevansi materi matematika di tingkat SMA menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Bermula dari unggahan seorang guru matematika bernama Rachmat Hidayat yang menyampaikan pandangannya secara terbuka di Facebook.

Dalam unggahan yang memicu beragam komentar tersebut, ia mempertanyakan urgensi pengajaran matematika tingkat lanjutan di SMA yang dinilainya tidak aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

Unggahan yang telah mendapat 94 reaksi, 64 komentar, dan dibagikan sebanyak 60 kali itu menyulut perdebatan di kalangan pendidik dan warganet.

Rachmat, lulusan S2 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Surabaya, menilai bahwa materi matematika di SMA sebaiknya tidak diajarkan karena menurutnya tidak berguna.

Baca Juga: LATIHAN SOAL MATEMATIKA Kelas 6 Semester 2 Kurikulum 2013, Gambaran Materi dan Jadi Referensi, DOWNLOAD LATIHAN SOAL PDF Disini!

Ia menambahkan bahwa berdasarkan suatu penelitian—yang ia lupa judulnya—matematika yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari hanyalah matematika dasar, yang semestinya sudah diajarkan di tingkat SD.

Guru di SMP Al Furqan MQ Tebuireng tersebut juga menyoroti rendahnya literasi matematika siswa Indonesia, termasuk dari skor PISA yang rendah dan fenomena siswa SMA yang masih mengalami kesulitan dalam berhitung.

Ia menyebut, "Kita benar-benar perlu tahu diri. Kemampuan matematika dasar kita saja masih rendah kok mau main trigonometri atau kalkulus. Ya udah mending fokus di matematika dasar."

Menurutnya, waktu tiga tahun di SMA lebih baik digunakan untuk memperkuat pemahaman konsep dasar matematika dari jenjang SD dan SMP, dibandingkan mempelajari materi lanjutan yang dianggap tidak relevan.

Pandangan ini pun mengundang respons dari berbagai kalangan.

Baca Juga: PRANK LAGI, Kemedikdasmen BANTAH P5 DIGANTI P7, Kata Abdul Mu'ti Sekolah Tetap BEBAS MEMILIH Kurikulum Merdeka atau Kurikulum 2013

Akib Rizky Pratama Al-Khawarizmy, seorang alumnus Matematika Murni yang juga pernah mengajar, menyatakan bahwa penghapusan matematika dari kurikulum SMA bukanlah solusi.

Ia berpendapat bahwa matematika berperan besar dalam membentuk cara berpikir kritis dan logis siswa, sesuatu yang tidak didapat dari mata pelajaran lain.

Ia menyarankan agar kurikulum diperbarui agar lebih sesuai dengan kebutuhan siswa, bukan dihapuskan secara total.

Baca Juga: Selamat Datang KURIKULUM CINTA, Kuatkan Kerukunan Umat BERBANGSA dan BERAGAMA, Begini PENJELASAN MENAG Soal Konsep, Tujuan dan Manfaat Kurikulum Ini

Sementara itu, Dul Kamdi menyampaikan bahwa kurikulum SMA memang dirancang untuk sekitar 20–30% siswa yang memiliki kemampuan belajar akademik dan siap melanjutkan ke perguruan tinggi.

Ia menilai bahwa masalahnya bukan pada materinya, melainkan pada sistem yang menempatkan siswa ke dalam jalur akademik meskipun kemampuan mereka belum memadai.

Menurutnya, siswa dengan kecenderungan non-akademik seharusnya diarahkan ke jalur pendidikan vokasi.

Maswiryy, salah satu netizen lainnya, mengakui bahwa materi matematika SMA memang tidak banyak berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Namun ia menegaskan bahwa materi tersebut tetap penting untuk siswa yang akan menempuh pendidikan tinggi.

Ia menyebut bahwa matematika tingkat SD hingga SMP sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari, dan menyarankan agar sebagian materi matematika SMA dikurangi demi penguatan pemahaman dasar, terutama di sekolah-sekolah non-favorit dan di luar Pulau Jawa.

Baca Juga: Sosialisai Kurikulum Deep Learning Kemendikdasmen Sampaikan Bukan Kurikulum Baru!

Abdullah Azzam, yang turut menyuarakan pendapatnya, menekankan pentingnya seleksi akademik sejak jenjang pendidikan dasar.

Ia mengusulkan agar siswa yang belum siap secara akademik tidak diluluskan dari SMP agar kelemahan mereka tidak terus menumpuk hingga ke jenjang SMA.

Ia juga membandingkan sistem pendidikan Indonesia dengan negara-negara seperti Jepang dan China, yang memiliki budaya belajar kuat dan menghasilkan siswa-siswa unggul.

Azzam mengingatkan bahwa kurikulum matematika SMA yang ada saat ini telah mencetak banyak profesional hebat, termasuk mereka yang mengembangkan platform digital besar seperti Tokopedia dan Shopee.

Perdebatan ini memunculkan pertanyaan penting: Apakah solusi terbaik terletak pada perubahan kurikulum, atau peningkatan mutu pengajaran?

Bagaimana cara memastikan semua siswa mendapatkan pendidikan matematika yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi mereka?

Alih-alih menghapus matematika SMA sepenuhnya, pendekatan yang lebih seimbang bisa berupa pembagian jalur pendidikan sesuai minat dan kemampuan siswa.

Baca Juga: Dorong Talenta Muda, Pemkot Bandung Usulkan Ekonomi Kreatif Masuk Kurikulum SD

Jalur akademik tetap mempertahankan materi lanjutan, sedangkan jalur vokasi lebih difokuskan pada penguatan matematika praktis dan fungsional.

Matematika bukan hanya sekadar hitungan atau rumus, tapi juga membentuk pola pikir yang logis, sistematis, dan kritis.

Tantangannya kini adalah bagaimana menyajikan matematika dengan cara yang lebih relevan dan bermakna bagi setiap siswa, apapun jalur karier yang akan mereka tempuh kelak. ***