POJOKSATU.id - Publikasi pada jurnal ilmiah selama ini dikenal sebagai salah satu bentuk publikasi paling bergengsi di kalangan dosen.
Tapi di balik prestise tersebut, prosesnya juga dikenal rumit, panjang, dan penuh tantangan.
Tidak sedikit dosen yang mengaku pernah melakukan kesalahan saat mengurus publikasi jurnal.
Baca Juga: Dari Lab ke Ladang, Riset UPI Ini Bikin Tanaman Lebih Subur, Pupuk Kimia Bisa Ditekan
Padahal, kesalahan-kesalahan ini sering kali jadi penyebab utama artikel ditolak, bahkan sebelum masuk tahap penilaian lebih lanjut.
Kenapa Publikasi Jurnal Terasa Sulit?
Publikasi jurnal bukan sekadar menulis hasil penelitian lalu langsung terbit.
Ada banyak tahapan yang harus dilalui, dan semuanya punya standar ketat.
Baca Juga: Sinopsis Film Tumbal Proyek: Misteri Tumbal di Balik Pembangunan Jembatan, Teror dan Luka Keluarga
- Pertama, soal scope jurnal. Setiap jurnal punya fokus keilmuan masing-masing. Meski topik penelitian sudah sesuai bidang dosen, kalau tidak cocok dengan scope jurnal tujuan, artikel bisa langsung ditolak.
- Kedua, proses pengecekan berlapis. Artikel yang disubmit tidak langsung dinilai reviewer, tapi diperiksa dulu oleh editor. Jika lolos, baru masuk ke tahap peer review oleh minimal dua pakar di bidangnya.
- Ketiga, proses peer review yang panjang dan penuh revisi. Tidak jarang penulis harus bolak-balik memperbaiki artikel berdasarkan masukan reviewer, yang bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Baca Juga: Sehari Usai Kejadian Ternyata Pemilik Warung Madura Sudah Damai dengan Anggota TNI AD
- Keempat, persaingan yang ketat. Jurnal bereputasi tinggi menerima banyak sekali artikel, sementara kuota publikasi terbatas. Artinya, standar seleksi semakin tinggi dan peluang ditolak juga makin besar.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Dosen
Di tengah proses yang kompleks, ada sejumlah kesalahan umum yang sering terjadi dan bikin artikel gagal tembus jurnal.
1. Salah menentukan topik penelitian
Topik yang tidak relevan dengan kebutuhan atau tidak sesuai bidang kepakaran sering dianggap tidak memiliki urgensi, sehingga sulit diterima.
2. Keliru memilih jurnal tujuan
Banyak artikel ditolak bukan karena kualitas buruk, tapi karena tidak sesuai dengan scope jurnal.
3. Struktur penulisan tidak sesuai
Meski umumnya memakai format IMRaD, tiap jurnal punya aturan sendiri. Dosen yang tidak mengikuti format ini berisiko ditolak sejak tahap awal.
Baca Juga: Pilmapres 2026 di Unpad, Siapa Paling Siap Menyala di Masa Depan, Cek 12 Nama Mahasiwa Lolos Seleksi
4. Substansi artikel lemah
Abstrak tidak jelas, metode penelitian tidak rinci, atau tidak ada novelty bisa membuat artikel dianggap belum layak terbit.
5. Keterbacaan rendah
Masalah bahasa, terutama dalam bahasa Inggris, sering jadi kendala. Kalimat yang tidak efektif atau banyak kesalahan teknis menurunkan kualitas artikel.
6. Pelanggaran etika
Plagiarisme, manipulasi data, atau pelanggaran etika lainnya menjadi kesalahan fatal yang harus dihindari.
Biar Nggak Kena “Reject”, Ini Cara Antisipasinya
Kesalahan-kesalahan tadi sebenarnya bisa dihindari jika dosen menyiapkan strategi sejak awal.
Baca Juga: Milangkala Tatar Sunda di Garut Pecah, Kirab Mahkota Binokasih Disambut Ribuan Warga
Mulai dari mengikuti pelatihan penulisan artikel ilmiah agar kualitas tulisan meningkat, hingga berkolaborasi dengan peneliti lain supaya prosesnya lebih ringan.
Selain itu, penting juga memahami alur publikasi jurnal dari awal hingga akhir, termasuk proses submit, review, hingga terbit.
Dengan begitu, dosen bisa lebih siap menghadapi proses panjang tersebut.
Baca Juga: Viral Isu 9.759 Formasi CPNS Sumut, Pemprov Tegaskan Belum Final
Menyusun roadmap penelitian juga jadi langkah penting agar riset lebih terarah dan hasil publikasi lebih terukur.
Publikasi jurnal memang bukan jalan instan.
Tapi dari setiap revisi, setiap penolakan, dan setiap proses panjang yang dilalui, ada satu hal yang sedang dibangun pelan-pelan: kualitas akademik yang terus naik, meski sering kali dimulai dari kesalahan yang sama. ***




