POJOKSATU.id — Politeknik Negeri Banjarmasin (Poliban) Kalimantan Selatan berkomitmen mewujudkan Banjarmasin Green City melalui inovasi penanganan sampah berbasis kolaborasi dan teknologi.
Ketua Jurusan Teknik Sipil dan Kebumian Poliban, Dr. Reza Adhi Fajar, menyampaikan bahwa sebagai kampus vokasi, Poliban selalu berupaya melahirkan terobosan yang berakar pada kebutuhan masyarakat. Salah satu fokus utamanya saat ini adalah penanganan sampah, yang tengah menjadi persoalan serius di Kota Banjarmasin.
“Kita ingin berpartisipasi aktif dalam penanganan darurat sampah agar segera selesai, lalu bersama-sama mewujudkan kota hijau dan bersih,” ujar Reza di Banjarmasin, Kamis 23 Oktober 2025.
Baca Juga: Beasiswa Anak Teladan Indonesia (BATI) 2025 untuk Siswa Kelas 9 Hadir! Cek Selengkapnya
Kondisi darurat sampah yang dihadapi kota ini bermula dari ditutupnya Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup sejak Februari 2025.
Sejak saat itu, pemerintah daerah dan berbagai pihak berupaya mencari solusi cepat dan berkelanjutan.
Poliban sendiri telah lebih dulu memulai langkah kecil dengan membangun bank sampah di lingkungan kampus.
Unit ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, tetapi juga pusat edukasi dan inovasi dalam mengolah sampah menjadi produk bernilai.
“Kalau dulu sampah kami hanya dikumpulkan dan dikirim ke TPS, kini kami berupaya mengolahnya menjadi produk bermanfaat seperti paving block, komponen elektronik, dan produk bisnis lainnya,” jelas Reza.
Langkah Poliban kini semakin luas dengan menggandeng Pemerintah Kota Banjarmasin dan Bank Sampah Induk Banjarmasin melalui diskusi bertema ‘Inovasi dan Kolaborasi Pengelolaan Sampah Menuju Banjarmasin Green City’.
Reza menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor agar pengelolaan sampah tidak hanya berbasis kebijakan, tetapi juga inovasi yang bisa diterapkan secara nyata di lapangan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin, Alive Yoesfah Love, menyambut baik kolaborasi tersebut.
Baca Juga: Rudy Susmanto Ajak Santri Berilmu, Berakhlak, dan Berdaya dalam Peringatan Hari Santri 2025
Ia menilai sinergi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat merupakan langkah strategis untuk mempercepat transformasi Banjarmasin menjadi kota hijau.
“Masalah terbesar saat ini adalah pengolahan sampah organik, terutama yang berkaitan dengan pertanian,” ungkap Alive.
Ia menjelaskan, proses pengomposan biasanya memakan waktu hingga sebulan, sehingga perlu ditemukan cara yang lebih cepat dan efisien.
Menurutnya, 52 persen dari total sampah di Banjarmasin merupakan sampah organik, sehingga penanganan jenis ini akan sangat berpengaruh terhadap kebersihan kota.
“Jika kita bisa menemukan metode untuk mencacah dan mengeringkan sampah agar lebih cepat terurai, maka separuh masalah sampah di Banjarmasin bisa terselesaikan,” tambahnya.
Baca Juga: Demi Kualitas PAI, Kemenag dan BRIN Rancang Asesmen Literasi Beragama Berstandar Ilmiah
Alive juga menyoroti keterbatasan tempat penampungan sampah sebagai kendala besar.
Oleh karena itu, ia berharap kolaborasi dengan Poliban dapat menghasilkan inovasi teknologi tepat guna untuk mempercepat proses daur ulang dan pengolahan organik.
“DLH sangat terbuka terhadap berbagai masukan. Harapannya, dari kerja sama ini kita bisa merencanakan pengelolaan anggaran dan sumber daya secara terpadu agar hasilnya benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Langkah kolaboratif antara Poliban dan Pemkot Banjarmasin ini diharapkan melahirkan inovasi berkelanjutan yang tak hanya menekan volume sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui daur ulang dan produk hijau.
Baca Juga: Kemenag Dorong PTKI Geser Kajian Normatif ke Solusi Sains dan Krisis Global
Semangat Banjarmasin Green City pun menjadi simbol perubahan, bahwa pengelolaan sampah bukan sekadar tanggung jawab pemerintah, tetapi gerakan bersama menuju kota yang lebih bersih, cerdas, dan berkelanjutan. ***




