Depok, POJOKSATU.id - Keselamatan instalasi listrik masih sering luput dari perhatian pelaku usaha kecil.
Banyak yang merasa cukup aman karena telah memasang Miniature Circuit Breaker (MCB), padahal perangkat tersebut belum mampu melindungi manusia dari risiko sengatan akibat kebocoran arus listrik.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, dosen Teknik Elektro sekaligus praktisi kelistrikan, Isdawimah, mulai mendampingi empat outlet laundry kiloan milik Onelaundry di Kota Depok.
Pendampingan dilakukan untuk meningkatkan aspek keselamatan instalasi listrik secara bertahap, dimulai dari pemasangan Residual Current Circuit Breaker (RCCB) dan system pembumian sebagai proteksi tambahan terhadap bahaya sengatan listrik.
Saat ini, Onelaundry memiliki 12 outlet yang tersebar di wilayah Depok dengan kegiatan mencuci, mengeringkan dan menyetrika berbagai jenis pakaian, handuk, seprei, helm dan sepatu, yang beroperasi setiap hari selama 12-15 jam.
Usaha laundry ini dipilih bukan tanpa alasan. Berbagai peralatan listrik seperti mesin cuci, pengering, setrika uap, pompa air, dan dispenser uap bekerja hampir sepanjang hari dalam lingkungan yang dekat dengan air dan kelembapan.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi terjadinya kebocoran arus listrik apabila instalasi tidak dilengkapi sistem proteksi yang memadai.
"Selama ini banyak orang merasa sudah aman karena ada MCB. Padahal MCB hanya melindungi dari beban lebih dan hubung singkat. Kalau terjadi kebocoran arus yang dapat membahayakan manusia, MCB belum tentu bekerja. Karena itu diperlukan proteksi tambahan berupa RCCB," ujar Isda.
Namun, menerapkan standar keselamatan listrik pada usaha kecil ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sebagian besar outlet laundry beroperasi sejak pagi hingga malam hari (07.00-22.00).
Mematikan aliran listrik untuk melakukan pemeriksaan instalasi, pemasangan perangkat, atau perbaikan system pembumian berarti menghentikan sementara pelayanan kepada pelanggan.
"Sebenarnya yang ingin kami lakukan bukan hanya memasang RCCB. Sistem pembumian juga perlu diperiksa, instalasi perlu dievaluasi, kondisi APAR dievaluasi dan jika ditemukan ketidaksesuaian perlu diperbaiki. Tantangannya adalah mencari waktu yang tepat karena listrik harus dimatikan dan itu bisa mengganggu operasional laundry," katanya.
Karena itu, pendekatan yang dilakukan lebih bersifat bertahap. Langkah pertama difokuskan pada pemasangan RCCB sebagai perlindungan paling mendesak.
Tahap berikutnya meliputi evaluasi dan pemasangan sistem pembumian (grounding), pemeriksaan kondisi instalasi eksisting dan APAR serta edukasi kepada pemilik dan pekerja mengenai penggunaan instalasi listrik yang aman.
Upaya tersebut sejalan dengan semangat Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2020 yang mendorong penggunaan Gawai Proteksi Arus Sisa (GPAS/RCCB) sebagai proteksi tambahan pada stop kontak yang digunakan masyarakat umum.
Meski demikian, penerapannya di lapangan masih belum merata, terutama pada sektor usaha mikro dan kecil.
Menurut ibu Isdawimah, biaya untuk meningkatkan keselamatan instalasi listrik sesungguhnya jauh lebih kecil dibandingkan kerugian akibat kecelakaan kerja, kerusakan peralatan, ataupun kebakaran yang dipicu gangguan listrik.
"Kita sering berbicara tentang produktivitas UMKM, tetapi keselamatan pekerja dan pelanggan juga harus menjadi prioritas. Keselamatan listrik bukan hanya urusan industri besar. Usaha kecil pun berhak memiliki instalasi yang aman sesuai standar," ujarnya.
Melalui pendampingan terhadap empat outlet laundry di Depok ini, Isda berharap semakin banyak pelaku UMKM yang menyadari pentingnya proteksi kebocoran arus, sistem pembumian yang baik, serta pemeriksaan instalasi listrik secara berkala.
Keselamatan listrik bukan tujuan yang dapat dicapai dalam satu hari.
Pada usaha kecil, perbaikan sering kali harus dilakukan sedikit demi sedikit, menyesuaikan kondisi usaha yang tetap harus berjalan.
Namun, langkah kecil tersebut dapat menjadi investasi besar untuk melindungi pekerja, pelanggan, dan keberlangsungan usaha itu sendiri.







