POJOKSATU.id – Peserta One Village One CEO (OVOC) International mendapatkan pengalaman belajar langsung mengenai praktik budidaya hortikultura melalui kunjungan lapang ke ATP Pasir Sarongge, Cianjur.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) yang dirancang untuk mempertemukan mahasiswa Indonesia dan mahasiswa internasional dalam memahami praktik pertanian modern sekaligus memperluas wawasan lintas budaya.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (1/7) diawali dengan penyambutan peserta oleh tim ATP Pasir Sarongge.

Baca Juga: Justin Bieber Resmi Gabung Halftime Show Final Piala Dunia FIFA 2026, Bakal Sepanggung dengan BTS, Madonna, dan Shakira serta Coldplay

Selanjutnya, peserta memperoleh pemaparan mengenai profil ATP Pasir Sarongge, komoditas hortikultura unggulan yang dibudidayakan, serta perannya sebagai pusat pengembangan dan pembelajaran pertanian hortikultura.

Sesi berikutnya berlangsung di greenhouse penyemaian, tempat peserta mempelajari proses pengelolaan budidaya hortikultura yang berkualitas sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.

Mereka mendapatkan penjelasan mengenai seluruh tahapan penyemaian benih, mulai dari pemilihan benih unggul, persiapan media tanam, teknik penyemaian, hingga pemeliharaan bibit sebelum dipindahkan ke lahan budidaya.

Baca Juga: Perut Kembung Tak Selalu Karena Masuk Angin, Kenali 9 Penyebab dan Cara Mengatasinya

Selain itu, peserta juga memahami pentingnya pengaturan suhu, kelembapan, penyiraman, dan sanitasi di dalam greenhouse.

Seluruh aspek tersebut menjadi faktor penting untuk menghasilkan bibit yang sehat, seragam, dan siap dikembangkan menjadi tanaman produktif.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi lahan budidaya hortikultura yang ditanami berbagai komoditas, seperti wortel, daun bawang, tomat, dan pakcoy.

Baca Juga: Tangan Sering Berkeringat Padahal Tak Kepanasan? Bisa Jadi Tanda Hiperhidrosis, Kenali Penyebabnya

Di setiap petak lahan, peserta mempelajari tahapan budidaya secara menyeluruh, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemupukan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit, hingga penentuan waktu panen yang tepat.

Suasana pembelajaran semakin hidup melalui diskusi interaktif antara peserta dan pendamping lapangan.

Berbagai tantangan yang dihadapi dalam budidaya hortikultura dibahas bersama, sehingga peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik pertanian yang diterapkan di ATP Pasir Sarongge.

Sebagai bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman, peserta juga mengikuti praktik panen secara langsung.

Baca Juga: Prabowo Ajak PM Narendra Modi Keliling Candi Prambanan Naik Helikopter, Resmikan Kerja Sama Pemugaran

Setelah mendapatkan demonstrasi mengenai teknik panen yang baik agar kualitas hasil tetap terjaga dan kerusakan tanaman dapat diminimalkan, mereka memanen komoditas wortel, tomat, dan daun bawang secara mandiri.

Pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai pentingnya ketelitian dalam setiap proses produksi hortikultura.

Kegiatan ini diikuti oleh lima mahasiswa IPB University bersama dua mahasiswa internasional yang tergabung dalam program OVOC International.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan melalui berbagai pertanyaan, diskusi, hingga keterlibatan aktif dalam observasi di greenhouse, pengamatan di lahan budidaya, maupun praktik panen.

Baca Juga: Suhanta Alek Marques Maju Calon BPD Desa Duren, Siap Kawal Transparansi Anggaran Desa

Kehadiran mahasiswa internasional juga memperkaya proses pembelajaran melalui pertukaran pengalaman mengenai sistem budidaya dan praktik pertanian di negara masing-masing.

Salah satu peserta dari Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian Sekolah Vokasi IPB, Anastasya Eka Putri, mengaku memperoleh banyak pengalaman baru selama mengikuti kegiatan tersebut.

"Saya senang bisa mengikuti kegiatan ini karena tidak hanya mempelajari teknik budidaya hortikultura secara langsung, tetapi juga memahami bagaimana prosesnya dari penyemaian hingga panen.

Menariknya lagi, kami juga berkesempatan berbagi pengalaman dengan mahasiswa internasional, sehingga wawasan kami tentang praktik pertanian di berbagai negara menjadi semakin luas," ujarnya.

Baca Juga: Belum Bayar Pajak Kendaraan? Siap-siap Tak Bisa Beli BBM Bersubsidi di NTT

Secara keseluruhan, kunjungan lapang ini memberikan pengalaman belajar yang aplikatif sekaligus memperluas wawasan peserta mengenai budidaya hortikultura dari tahap penyemaian hingga panen.

Selain memperkuat pemahaman teknis tentang pertanian modern, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membangun komunikasi lintas budaya, memperluas jejaring internasional, serta menumbuhkan semangat kolaborasi dalam mencetak sumber daya manusia pertanian yang berdaya saing global.

Pada akhirnya, pengalaman belajar langsung di lapangan membuktikan bahwa pertanian tidak hanya soal menghasilkan panen, tetapi juga tentang membangun pengetahuan, kolaborasi, dan inovasi.

Dari proses penyemaian hingga panen, setiap tahapan menjadi pelajaran berharga bagi generasi muda untuk terus mengembangkan sektor pertanian Indonesia agar semakin maju dan mampu menjawab tantangan pangan di masa depan. ***