POJOKSATU.id - Setelah mempelajari budidaya Pepaya Calina dari tahap pembibitan hingga pascapanen, peserta CEO on Field – One Village One CEO (OVOC) International 2026 melanjutkan pembelajaran ke aspek hilirisasi komoditas melalui kunjungan ke salah satu unit usaha pengolahan pepaya di Dusun Wanasuka, Desa Cidolog, Kabupaten Ciamis.
Kunjungan ini membuka wawasan peserta mengenai pentingnya menciptakan nilai tambah hasil panen melalui inovasi produk olahan yang memiliki daya simpan lebih lama sekaligus peluang pasar yang lebih luas.
Di lokasi tersebut, peserta mempelajari proses pengolahan pepaya menjadi manisan, salah satu produk olahan yang telah lama menjadi bagian dari industri pangan lokal di Indonesia.
Baca Juga: Bukan Sekadar MoU, Telkom Gandeng NUS Cetak Talenta Digital Indonesia Berkelas Global
Manisan pepaya dikenal sebagai bentuk diversifikasi hasil panen di berbagai sentra hortikultura, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Melalui proses pengolahan, buah yang semula memiliki masa simpan relatif singkat dapat diubah menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi sekaligus memperluas peluang pengembangan pangan berbasis komoditas lokal.
Selama kunjungan, peserta mengamati secara langsung seluruh tahapan produksi berbagai jenis manisan pepaya yang dikembangkan pelaku usaha.
Baca Juga: Rekomendasi 4 Tablet RAM 8 GB Murah Terbaik 2026 Mulai Rp1 Jutaan, Cocok untuk Sekolah hingga Kuliah
Produk yang dihasilkan meliputi manisan basah, manisan kering, hingga produk kreatif berupa parcel dan buket manisan pepaya yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Pelaku usaha menjelaskan bahwa proses produksi manisan memerlukan waktu beberapa hari.
Tahapan dimulai dari pemilihan buah dengan tingkat kematangan tertentu, dilanjutkan proses pengupasan, pemotongan, perendaman, perebusan menggunakan larutan gula, hingga pengeringan untuk menghasilkan tekstur dan cita rasa yang diinginkan.
Baca Juga: 13 Juli Ditetapkan Hari Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa, Ini Kata Fadli Zon
Seluruh proses dilakukan secara bertahap demi menjaga kualitas produk tetap konsisten sekaligus memperpanjang daya simpannya.
Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian peserta adalah pengembangan manisan pepaya menjadi buket dan parcel yang dipasarkan sebagai produk premium.
Sebelum dirangkai, manisan terlebih dahulu dicetak menyerupai kelopak bunga sehingga memudahkan proses perakitan.
Setiap lembar manisan kemudian disusun menjadi berbagai bentuk bunga, dipadukan dengan ornamen daun hias, lalu ditempatkan di dalam keranjang rotan sebagai dasar rangkaian.
Setelah komposisi selesai, buket dibungkus menggunakan plastik transparan sehingga tampil menyerupai rangkaian bunga premium yang cocok dijadikan hadiah maupun hampers.
Menurut pelaku usaha, proses pembuatan manisan membutuhkan waktu yang relatif panjang, sedangkan proses perakitan buket berlangsung lebih cepat karena seluruh komponen telah dipersiapkan sebelumnya.
Tidak hanya menyaksikan proses produksi, peserta juga mendapat kesempatan merakit buket manisan pepaya secara langsung.
Dengan pendampingan pelaku usaha, mereka mencoba menyusun kelopak-kelopak manisan menjadi bunga, menentukan komposisi rangkaian, hingga menyelesaikan proses pengemasan menggunakan keranjang rotan dan plastik pembungkus.
Pengalaman praktik tersebut memberikan pemahaman bahwa kreativitas dalam mendesain produk memiliki peran yang sama pentingnya dengan kualitas produk itu sendiri.
Buket manisan pepaya pun dapat dikustomisasi sesuai kebutuhan pelanggan, mulai dari ukuran, warna, bentuk rangkaian, hingga jenis kemasan untuk hadiah, suvenir, maupun hampers.
Baca Juga: Said Iqbal Sebut Demo Buruh Kamis Nanti Sasar Kemenkeu, Minta Menkeu Purbaya Bersedia Dialog
Bagi para peserta, sesi ini menjadi bukti bahwa keberhasilan sebuah komoditas pertanian tidak hanya ditentukan oleh tingginya produktivitas di tingkat budidaya, tetapi juga oleh kemampuan menghadirkan inovasi setelah panen.
Melalui pengolahan, pengemasan yang menarik, serta strategi pemasaran yang tepat, nilai ekonomi suatu komoditas dapat meningkat secara signifikan sekaligus memperluas peluang usaha masyarakat.
Rangkaian pembelajaran hari kedua semakin melengkapi pemahaman peserta mengenai rantai agribisnis Pepaya Calina secara menyeluruh.
Mulai dari proses budidaya di tingkat petani, penanganan pascapanen, hingga pengembangan produk olahan bernilai tambah, seluruh tahapan tersebut memperlihatkan bagaimana kolaborasi antara petani, koperasi, dan pelaku usaha mampu membangun ekosistem agribisnis yang berkelanjutan.
Dari sebuah buah segar lahir beragam inovasi yang membuktikan bahwa kreativitas dapat menjadi jembatan menuju peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing komoditas lokal Indonesia. ***




