POJOKSATU.id - Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya meluncurkan program studi Magister Kajian Turats pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Program pascasarjana ini disebut sebagai yang pertama di Indonesia dengan fokus khusus pada kajian turats atau warisan intelektual ulama.
Peluncuran tersebut dilakukan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Program ini diarahkan untuk memperkuat pelestarian dan pengembangan khazanah keilmuan ulama Nusantara sekaligus menyiapkan generasi intelektual pesantren.
Khofifah menegaskan pentingnya menggali warisan keilmuan tersebut agar dapat memberikan manfaat lebih luas.
“Maka penting menggali, merawat, dan mengembangkan khazanah keilmuan ulama Nusantara sebagai salah satu kekuatan peradaban Islam yang dapat menjadi referensi dunia,” kata Khofifah kepada awak media, Sabtu (10/10/2026).
Pelaksana Tugas Direktur Pascasarjana UINSA, Prof. Masdar Hilmy, juga menyatakan kesiapan kampus untuk mengawal pengembangan program tersebut agar memberikan manfaat bagi pesantren dan pendidikan tinggi.
Apa Itu Magister Kajian Turats?
Turats merupakan warisan keilmuan dari generasi terdahulu, termasuk kitab klasik, manuskrip, dan karya tulis ulama.
Dalam tradisi keilmuan Islam, kajian turats mencakup penelaahan teks, pemikiran ulama, sejarah intelektual, serta upaya mendokumentasikan dan melestarikan naskah bersejarah.
Program Magister Kajian Turats UINSA membawa kajian tersebut ke jenjang pendidikan pascasarjana dengan fokus pada penelitian dan pengembangan warisan intelektual Islam.
Predikat pertama di Indonesia merujuk pada program studi dengan fokus khusus tersebut, bukan berarti kajian turats sebelumnya belum pernah dilakukan di perguruan tinggi Indonesia.
Mengapa Kajian Turats Penting?
Khofifah menilai manuskrip dan karya ulama Nusantara menyimpan kekayaan pemikiran dalam beragam bidang, mulai dari tafsir, hadis, fikih, dan tasawuf hingga politik, strategi, serta astronomi.
“Luar biasa, ini ulama-ulama Indonesia. Jadi betapa kayanya keilmuan ulama-ulama kita,” ujar Khofifah dalam peluncuran program tersebut, sebagaimana diberitakan detikJatim.
Upaya pelestarian manuskrip juga telah dilakukan di sejumlah pesantren. Berdasarkan keterangan Khofifah yang diberitakan ANTARA, sekitar 400 kitab berhasil diidentifikasi dan 200 di antaranya telah didigitalisasi.
Digitalisasi, pendataan, katalogisasi, dan pencatatan identitas penerbitan menjadi bagian penting untuk menjaga naskah agar tidak hilang atau rusak serta memudahkan peneliti menelusuri sumbernya.
Khofifah juga menyoroti risiko karya turats yang diterbitkan tanpa ISBN atau identitas penerbitan yang memadai. Kondisi tersebut dapat menyulitkan penelusuran asal-usul karya dan pemikiran ulama yang terkandung di dalamnya.
Karena itu, keberadaan program magister ini diharapkan memperkuat penelitian sekaligus mendorong pelestarian warisan intelektual Islam secara lebih sistematis.
Prospek Karier Lulusan Magister Kajian Turats
Lulusan Magister Kajian Turats berpotensi berkarier di bidang penelitian, pendidikan, pengelolaan manuskrip, dan dokumentasi digital. Berikut sejumlah pilihan profesi yang relevan dengan bidang keilmuannya.
Peneliti kajian Islam dan manuskrip. Meneliti kitab klasik, pemikiran ulama, sejarah intelektual Islam, serta naskah kuno yang belum banyak dikaji.
Dosen atau akademisi. Mengembangkan pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi pada bidang kajian Islam, sejarah pemikiran Islam, filologi, atau bidang terkait sesuai kualifikasi dan persyaratan institusi.
Filolog atau pengkaji teks klasik. Membaca, mentranskripsikan, menyunting, dan menganalisis teks manuskrip untuk memahami isi serta konteks sejarahnya.
Pengelola koleksi khusus perpustakaan. Menangani koleksi kitab klasik dan manuskrip melalui inventarisasi, katalogisasi, preservasi, serta layanan informasi bagi peneliti.
Pengelola arsip dan manuskrip digital. Mengembangkan dokumentasi digital, metadata, basis data naskah, dan sistem akses koleksi agar warisan intelektual lebih mudah dipelajari.
Editor dan penyunting naskah keislaman. Menyunting edisi kitab klasik, buku akademik, publikasi keislaman, dan hasil penelitian berdasarkan kompetensi bahasa serta penyuntingan teks.
Peneliti di lembaga kebudayaan. Terlibat dalam inventarisasi, penelitian, dokumentasi, dan pelestarian manuskrip di lembaga penelitian, museum, pusat studi, atau institusi kebudayaan.
Pengembang program literasi pesantren. Menginisiasi pendataan koleksi kitab, digitalisasi manuskrip, penerbitan hasil penelitian, dan edukasi mengenai warisan intelektual pesantren.
Daftar tersebut merupakan gambaran peluang karier yang relevan, bukan daftar penempatan kerja resmi dari UINSA. Peluang memasuki setiap profesi bergantung pada kompetensi, pengalaman penelitian, kualifikasi tambahan, dan persyaratan lembaga yang dituju.
Kemampuan bahasa Arab, pembacaan teks klasik, metodologi penelitian, filologi, serta pengelolaan dokumen digital dapat menjadi nilai tambah bagi lulusan.
Bagaimana dengan Beasiswa dan Pendaftaran?
Dalam peluncuran program, Khofifah turut menyerahkan beasiswa secara simbolis kepada 10 mahasiswa penerima.
Namun, informasi tersebut belum menjelaskan secara lengkap skema beasiswa untuk seluruh calon mahasiswa Magister Kajian Turats, termasuk kuota, persyaratan, dan mekanisme pendaftarannya.
Kehadiran program ini diharapkan memperkuat pelestarian warisan intelektual Islam Nusantara sekaligus membuka ruang penelitian yang menghubungkan tradisi keilmuan pesantren dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi digital. ***





