POJOKSATU.id – Isu penyederhanaan administrasi guru kini bukan sekadar keluhan di ruang guru. Ia sudah menjadi tuntutan nasional.

Banyak Bapak/Ibu merasa bahwa energi yang seharusnya tercurah untuk siswa justru terkuras oleh urusan validasi data, sinkronisasi Dapodik, hingga cek Info GTK menjelang pencairan tunjangan profesi guru (TPG).

Pertanyaannya, seperti apa desain sistem ideal agar TPG tidak lagi bergantung pada validasi berlapis yang melelahkan?

Baca Juga: Pemerintah Siapkan RTHB 2026! Di Mana Saja Ruang Terbuka Hijau Biru Akan Dibangun?

Yuk kita bayangkan bersama, tapi tetap realistis.

Masalahnya Bukan pada TPG, Tapi pada Sistem Data

TPG pada dasarnya adalah bentuk pengakuan profesional guru.

Regulasi mensyaratkan beban kerja, sertifikasi, dan status aktif mengajar. Itu wajar.

Yang sering menjadi persoalan adalah proses pembuktiannya.

Baca Juga: Honorer Selalu Jadi Isu Pendidikan, Mengapa Guru Honorer Masih Ada Sementara Profesi Lain Tidak? Ini Penjelasan Regulasi ASN dan PPPK

Saat ini, guru harus memastikan:

1. Data Dapodik sinkron

2. Jam mengajar terbaca sistem

3. Status linier dengan sertifikasi

4. Tidak ada kesalahan identitas

Kalau satu saja tidak terbaca, status bisa “Belum Valid” dan pencairan tertunda.

Bapak/Ibu mungkin pernah merasakan deg-degan saat membuka Info GTK.

Padahal sudah mengajar rutin, tapi sistem belum tentu membaca dengan sempurna.

Baca Juga: Tahun 2026 Jadi Titik Balik! Koperasi Nelayan Merah Putih dan 30 Ribu Koperasi Desa Disiapkan untuk Distribusi Nasional

Berarti, titik lemah ada di integrasi data.

Seperti Apa Sistem Idealnya?

Kalau kita bicara desain sistem ideal, setidaknya ada tiga prinsip utama.

1. Satu Data Guru Nasional Berbasis NIK

Semua informasi guru status kepegawaian, beban kerja, riwayat sertifikasi terhubung dalam satu database nasional berbasis NIK dan NUPTK.

Baca Juga: Bukan Cuma Rapat! Menkomdigi Ajak Pegawai Angkat Sapu, Budaya Bersih Jadi Etos Baru Birokrasi

Artinya, guru tidak perlu validasi manual berulang setiap semester.

Sistem otomatis membaca aktivitas berdasarkan input sekolah yang sudah diverifikasi sekali.

Sekali data benar, ke depan tinggal pemutakhiran otomatis.

2. Validasi Otomatis, Bukan Manual Berlapis

Alih-alih guru harus mengecek berkali-kali, sistem bisa dirancang dengan notifikasi dini.

Misalnya:

- Jika jam kurang, muncul peringatan di awal semester.

- Jika ada ketidaksesuaian mapel, sistem memberi rekomendasi perbaikan sebelum periode pencairan.

Jadi bukan menunggu menjelang cair baru tahu ada masalah.

Lebih preventif, bukan reaktif.

3. Integrasi Lintas Kementerian dan Daerah

Selama tata kelola guru masih tersebar antara pusat dan daerah, validasi berlapis akan terus terjadi.

Baca Juga: Bukan Cuma Rapat! Menkomdigi Ajak Pegawai Angkat Sapu, Budaya Bersih Jadi Etos Baru Birokrasi

Sistem ideal harus menyatukan manajemen data antara kementerian pendidikan, kementerian agama, dan pemerintah daerah.

Kalau tidak terintegrasi penuh, sinkronisasi akan terus jadi beban teknis di level sekolah.

Tantangannya Apa?

Kita juga perlu jujur.

Indonesia memiliki ratusan ribu sekolah dengan kondisi infrastruktur yang berbeda.

Baca Juga: Mudik Lebaran 2026 Kian Terjangkau, Pemerintah Guyur Diskon Tiket hingga Gratis Jasa Pelabuhan

Tidak semua daerah memiliki akses internet stabil.

Tidak semua sekolah memiliki operator berpengalaman.

Membangun sistem tunggal yang kuat butuh:

- Infrastruktur digital yang merata

- Pelatihan SDM

- Standar operasional nasional yang seragam

- Keamanan data yang tinggi

Artinya, reformasi administrasi bukan sekadar mengganti aplikasi, tapi membenahi ekosistem.

Apa yang Bisa Dilakukan Sekarang?

Sambil menunggu reformasi besar, Bapak/Ibu tetap perlu menjaga data tetap rapi.

1. Pastikan SK pembagian tugas terdokumentasi.

Baca Juga: Tahun 2026 Jadi Titik Balik! Koperasi Nelayan Merah Putih dan 30 Ribu Koperasi Desa Disiapkan untuk Distribusi Nasional

2. Koordinasi rutin dengan operator sekolah.

3. Cek Info GTK sejak awal semester, jangan menunggu akhir.

Penyederhanaan administrasi guru memang menjadi tuntutan nasional.

Dan itu bukan hal berlebihan.

Karena pada akhirnya, guru ingin fokus pada kualitas pembelajaran, bukan berkutat pada validasi berulang yang membuat cemas.

Harapannya, ke depan sistem TPG benar-benar berbasis kepercayaan data yang terintegrasi, bukan lagi validasi manual berlapis.

Supaya Bapak/Ibu bisa mengajar dengan satu pikiran bagaimana membuat siswa lebih paham hari ini, bukan bagaimana memastikan status “valid” besok pagi.***