POJOKSATU.id - Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Dr. Widiastuti Setyaningsih dari Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, berhasil meraih Ristek Kalbe Science Award (RKSA) 2025.

Penghargaan ini diberikan atas inovasinya mengembangkan tablet effervescent kombucha rosella sebagai minuman fungsional antidiabetik.

Capaian tersebut menjadi pengakuan atas komitmennya mengolah biodiversitas lokal melalui pendekatan ilmiah dan teknologi modern.

Baca Juga: UPI Kirim Tim Relawan Multidisiplin ke Wilayah Bencana, Fokus Layanan Kesehatan dan Trauma Healing

Perjalanan riset Widiastuti berangkat dari kebutuhan menghadirkan solusi nyata terhadap tingginya prevalensi diabetes di Indonesia.

Dorongan personal juga menjadi faktor kuat, terutama ketika ibunya sempat mengalami lonjakan kadar gula darah.

Ia melihat rosella memiliki kandungan fenolik yang signifikan, sementara fermentasi kombucha berpotensi meningkatkan aktivitas bioaktif.

Baca Juga: Honor Peneliti Ditetapkan Maksimal 25 Persen Dana Riset APBN, Pemerintah Perkuat Ekosistem Riset Kampus

Kombinasi keduanya dinilai layak dikembangkan sebagai alternatif pangan fungsional yang aman dan mudah dijangkau masyarakat.

“Saya melihat peluang besar untuk menghadirkan produk yang inovatif dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Kesadaran tersebut mendorongnya memastikan proses pengembangan produk memiliki pengendalian mutu yang cepat dan presisi agar mudah diadopsi industri.

Baca Juga: Beasiswa Khalifa University 2026 Dibuka, S2–S3 Fully Funded di Uni Emirat Arab

Ia pun mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence dan Near Infrared Spectroscopy untuk memprediksi komponen mutu hanya dalam hitungan detik.

Pendekatan ini menjadi solusi atas keterbatasan metode konvensional yang memerlukan waktu panjang.

“Metode ini membuat konsistensi mutu dapat dijaga sejak tahap awal proses,” kata Widiastuti.

Baca Juga: Viral Warga Manfaatkan Kayu Sisa Banjir, DPR Tegas Engga Boleh Diambil Sembarangan Ada Hukumnya!

Penguatan sistem mutu menjadi krusial karena proses hilirisasi menghadirkan tantangan teknis yang tidak sederhana. Stabilitas senyawa bioaktif harus dijaga agar manfaat fungsional tidak menurun selama proses formulasi dan penyimpanan.

Variasi kondisi fermentasi juga perlu dikendalikan dengan cermat agar mutu produk tetap seragam.

“Ketekunan dan dukungan tim riset membuat saya mampu melalui berbagai tantangan,” ungkapnya.

Tantangan semakin kompleks ketika masuk pada tahap formulasi tablet effervescent. Produk harus tetap kaya senyawa aktif, mudah larut, dan nyaman dikonsumsi.

Baca Juga: Presiden Prabowo Tiba di BIM, Besok Kunjungi 3 Daerah Terdampak Banjir Longsor di Sumbar

Setiap tahap membutuhkan keseimbangan antara fungsi kesehatan dan preferensi sensoris masyarakat.

“Bagian paling kompleks adalah menjaga aktivitas antidiabetik tetap signifikan hingga produk siap digunakan,” ujarnya.

Bentuk tablet dipilih untuk memudahkan penggunaan sekaligus menjaga stabilitas senyawa bioaktif.

Widiastuti meyakini produk ini memiliki potensi besar bila kelak dapat diproduksi massal dengan harga terjangkau.

Baca Juga: Program Liburan Sekolah, Ada Holiday Program 2025, Anak Diajak Asik Main Coding hingga App Development

“Kami sejak awal merancang produk ini agar relevan dan dapat diterima luas,” katanya.

Penghargaan RKSA 2025 menjadi momentum penting yang mendorongnya terus produktif.

Ia menegaskan capaian ini bukan semata prestasi pribadi, melainkan hasil kerja kolektif tim riset, mahasiswa, dan mitra pendukung. “Capaian ini adalah milik seluruh ekosistem pendukung saya,” ujarnya.

Ke depan, Widiastuti berencana memperkuat integrasi teknologi kecerdasan buatan untuk analisis mutu dan otentikasi pangan fungsional.

Baca Juga: Begini Syarat Partisipasi Asesmen Nasional dan Cara Unduh Rapor Pendidikan untuk Analisis Mutu Sekolah

Fokus hilirisasi juga akan diperkuat agar inovasi kampus dapat lebih cepat hadir di tengah masyarakat.

“Saya membayangkan pusat riset unggulan yang fokus pada edible flowers karena potensinya sangat besar,” katanya.

Dengan berbagai peluang yang terbuka, ia meyakini riset pangan fungsional Indonesia masih memiliki ruang berkembang yang luas. ***