POJOKSATU.ID - Kisah pilu datang dari dunia pendidikan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Seorang guru PPPK paruh waktu mengaku hanya menerima gaji ratusan ribu rupiah per bulan.

Kondisi tersebut memaksanya mencari pekerjaan sampingan sebagai penari demi mencukupi kebutuhan hidup.

Baca Juga: Terlalu Kecil! DPRD Tolak Insentif Rp1 Juta untuk 3.547 PPPK Paruh Waktu Serang, Bakal Dinaikkan?

Guru yang disebut dengan nama samaran Tendi (34), mengungkap bahwa sejak 2019 - 2023 dirinya menerima gaji berkisar antara Rp300 ribu - Rp700 ribu per bulan.

Nominal tersebut dinilai jauh dari kata layak, terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Kalau hanya mengandalkan gaji itu, tidak akan cukup. Kos saja sudah lebih besar dari gaji,” ujarnya, dikutip Pojoksatu dari Melansir, 26 Februari 2026.

Baca Juga: 4.230 PPPK Paruh Waktu di Lumajang Tak Dapat THR 2026, Cuma Andalkan Iuran OPD!


Gaji Guru P3K Paruh Waktu Jauh dari Kata Layak

Gaji guru P3K paruh waktu di Bandung menjadi sorotan karena dinilai tidak sebanding dengan tanggung jawab profesi sebagai tenaga pendidik.

Dengan penghasilan hanya ratusan ribu rupiah, Tendi mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Ia harus membayar biaya kos sekitar Rp1 juta per bulan.

Baca Juga: THR PPPK Paruh Waktu 2026 Dipastikan Cair! Tapi Awas, Tanpa Dokumen Ini Bisa Gagal Dapat

Belum lagi kebutuhan makan, transportasi, serta nafkah untuk anaknya.

Situasi ini membuatnya tidak punya pilihan selain mencari tambahan penghasilan.

Kondisi ini mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi sebagian guru P3K paruh waktu.

Terutama yang belum sepenuhnya mendapatkan hak tunjangan secara optimal.


Nyambi Jadi Penari Demi Bertahan Hidup

Untuk menyiasati kekurangan pendapatan, Tendi memilih bekerja sampingan sebagai penari.

Baca Juga: Gift Mengalir Saat Purbaya Live TikTok Bareng Anak, Publik Heboh Sampai KPK Turun Tangan!

Ia tampil dalam berbagai acara, mulai dari hajatan hingga pertunjukan komunitas.

“Kadang latihan malam, tampil akhir pekan. Capek memang, tapi mau bagaimana lagi. Kalau tidak begitu, saya tidak bisa bertahan,” katanya.

Pekerjaan tambahan tersebut dilakukan di luar jam mengajar.

Baca Juga: Kecelakaan Kerja di KBN Marunda, Polisi Selidiki Kasus Kematian Pekerja

Meski melelahkan, ia mengaku tidak memiliki pilihan lain agar tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Kisah ini pun menjadi gambaran betapa beratnya perjuangan sebagian guru P3K paruh waktu dalam mempertahankan profesinya.


Ada Tambahan TPG dan APBD, Tapi Masih Kurang

Bagi guru P3K paruh waktu yang telah memiliki sertifikasi dan menerima Tunjangan Profesi Guru (TPG), terdapat tambahan sekitar Rp2 juta per bulan.

Baca Juga: Langkah Awal Menuju Dunia Kerja, Pengalaman Mengikuti Program Maganghub di PT Pojok Satu Indonesia!

Selain itu, ada tambahan dari APBD Kabupaten Bandung sebesar Rp500 ribu per bulan selama 14 bulan, termasuk THR dan gaji ke-13.

Mulai 2026, pembayaran TPG dijanjikan akan dilakukan rutin setiap bulan dan tidak lagi dirapel per tiga bulan.

Jika seluruh komponen diterima penuh, total penghasilan bisa mencapai sekitar Rp2,5 juta per bulan.

Namun bagi Tendi, angka tersebut tetap belum mencukupi kebutuhan hidupnya yang terus meningkat.


Respons Pemerintah Daerah

Bupati Bandung, Dadang Supriatna, disebutkan berkomitmen meningkatkan kesejahteraan guru PPPK paruh waktu secara bertahap sesuai kemampuan keuangan daerah.

Skema penghasilan saat ini disebut masih tahap awal dan akan dievaluasi secara berkala.

Baca Juga: Petir Ngambek

Meski ada komitmen perbaikan, realitas di lapangan menunjukkan masih adanya ketimpangan antara beban kerja dan penghasilan yang diterima.


Sorotan Kesejahteraan Guru PPPK

Isu gaji guru PPPK paruh waktu kembali membuka diskusi publik mengenai kesejahteraan tenaga pendidik.

Guru merupakan pilar utama pendidikan, namun sebagian masih harus berjuang mencari pekerjaan tambahan demi bertahan hidup.

Baca Juga: Fandi Ramadhan Dituntut Mati Meski Hanya ABK, Anggota DPR Curiga Ada Kejanggalan dalam Tuntutan Jaksa

Kisah Tendi bukan sekadar cerita personal, tetapi juga cerminan kondisi yang perlu perhatian serius.

Dengan peningkatan kesejahteraan yang lebih merata, diharapkan para guru bisa fokus mendidik generasi muda tanpa dibebani tekanan ekonomi.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik profesi mulia seorang guru, masih ada perjuangan panjang yang harus dihadapi setiap hari.***