POJOKSATU.id - Prestasi membanggakan kembali datang dari mahasiswa Indonesia.

Kali ini, sorotan tertuju pada Aqila Nasyawari Syaikha, mahasiswi Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), yang sukses mencuri perhatian di ajang internasional.

Dalam Global Youth Innovation Summit (GYIS) #14 2026 yang digelar oleh Pemuda Mendunia pada 2–5 Maret di Singapura dan Malaysia, Aqila tampil luar biasa.

Baca Juga: Beasiswa S1 Tunisia Dibuka! Gratis Kuliah di 9 Kampus, Daftar Sampai 30 Juni 2026

Ia tidak hanya berpartisipasi, tapi juga membawa pulang lima penghargaan sekaligus dalam satu rangkaian kompetisi.

Kelima penghargaan tersebut meliputi Awardee Fully Funded, 1st Place Best Delegate, 1st Place Best Speaker, 1st Place SDGs Project Presentation, serta 2nd Place Most Creative Delegate.

Semua diraih hanya dalam waktu empat hari pelaksanaan.

Baca Juga: Viral Isu 9.759 Formasi CPNS Sumut, Pemprov Tegaskan Belum Final

Perjalanan Panjang dari Media Sosial ke Panggung Internasional
Perjalanan Aqila dimulai dari hal yang tampak sederhana, yakni menemukan informasi program melalui media sosial pada September hingga Oktober 2025.

Namun dari sana, ia memilih jalur fully funded yang dikenal jauh lebih kompetitif dibandingkan skema lainnya.

“Sedari awal pendaftaran, saya memilih seleksi yang fully funded mulai dari administrasi, tes kebangsaan, FGD hingga wawancara yang semuanya berbahasa Inggris,” jelasnya, Senin (4/5).

Baca Juga: Sejarah UMBY, Transformasi Kampus dari IPW hingga Jadi Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Seleksi yang ia jalani tidak main-main. Mulai dari pengiriman CV dan motivation letter di tengah ratusan pendaftar, tes kebangsaan lintas negara, diskusi berbasis isu SDGs, hingga wawancara mendalam untuk menguji kapasitas komunikasi dan kontribusi.

Hasilnya, Aqila menjadi satu-satunya peserta yang berhasil lolos dengan pendanaan penuh.

Sementara peserta lain terdiri atas 10 penerima partial funded dan 10 peserta mandiri.

Tekanan Tinggi di Balik Persiapan
Persiapan yang berlangsung sejak November 2025 hingga Februari 2026 membawa Aqila ke berbagai tahap penting, termasuk preliminary round hingga sesi mentoring intensif sebelum presentasi final.

Dalam sesi mentoring, peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dan didampingi mentor.

Baca Juga: Pantau Nilai Secara Real Time! Ini Link Live Score Seleksi Manajer Koperasi 2026

Setiap tim wajib menghasilkan tiga output utama: pitch deck, video pengenalan proyek, serta akun Instagram sebagai media publikasi.

“Tantangan terbesar ada pada saat pembuatan tiga output tersebut karena delegasi juga mendapat tekanan yang cukup kuat dari mentor untuk bisa memberikan output semaksimal yang bisa dilakukan,” ungkap Aqila.

Di tengah tekanan tersebut, Aqila memilih pendekatan sistematis.

Ia memecah masalah dari yang umum ke solusi yang lebih spesifik, lalu membagi tugas secara proporsional dalam tim.

Baca Juga: Kartu Ujian Manajer Koperasi Merah Putih 2026 Sudah Bisa Diunduh, Cek Link, Syarat, dan Jadwalnya

Lebih dari Sekadar Kompetisi
Ajang GYIS bukan sekadar lomba. Kegiatan ini juga menghadirkan seminar internasional, kunjungan akademik ke National University of Singapore (NUS) dan International Islamic University Malaysia (IIUM), hingga eksplorasi budaya lintas negara.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Aqila adalah saat mempresentasikan proyek di hadapan juri dari IIUM.

Ini menjadi momen pertamanya berinteraksi langsung dengan akademisi luar negeri.

Ia juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas jejaring.

Baca Juga: Bukan karena Masalah Teknis Saja! Keterlambatan Pembayaran TPG THR 2026 Juga Dipengaruhi oleh Tiga Hal Ini!

“Berkesempatan networking dengan para finalis yang berasal dari universitas di seluruh Indonesia juga menjadi poin plus dari acara ini,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan ini menjadikan GYIS #14 bukan hanya kompetisi, tetapi juga ruang belajar lintas budaya dan perspektif yang memperkaya pengalaman peserta.

Aqila Nasyawari Syaikha menutup pengalamannya dengan satu pesan sederhana yang justru terasa paling dalam.

"Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing. Yang terpenting adalah terus berkembang dari waktu ke waktu.” ***