POJOKSATU.id - Sebagai salah satu daerah penghasil jagung terbesar di kawasan Indonesia Timur, Gorontalo kerap dihadapkan pada persoalan klasik berupa tumpukan limbah tongkol jagung.

Selama ini, limbah tersebut lebih sering berakhir sebagai sampah atau hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar tradisional.

Namun, kondisi itu justru menginspirasi tim peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) untuk menghadirkan terobosan baru.

Baca Juga: Segini besaran Gaji Pegawai Dapur MBG yang Bakal Diangkat jadi PPPK! Tembus Rp3,2 Juta

Limbah tongkol jagung kini bertransformasi menjadi material bangunan inovatif yang mampu mendinginkan rumah secara alami tanpa bantuan energi listrik.

Inovasi tersebut diberi nama Eco-Cooler, lahir dari penelitian berjudul Integrasi Eco-Cooler Berbahan Limbah pada Desain Rumah Ramah Lingkungan sebagai Strategi Menuju Arsitektur Berkelanjutan.

Riset ini diketuai oleh Niniek Pratiwi, S.T., M.T., bersama Dr. Ernawati, S.T., M.T., dan Dr. Rahmatiah, S.Pd., M.Si., serta melibatkan mahasiswa Program Studi Arsitektur UNG.

Baca Juga: Sosok Saiful, Dedikasi 16 Tahun, Menguatkan Praktik Hipnoterapi untuk Kesehatan Mental Masyarakat

“Inovasi ini dari limbah ‘harta karun’ yang terbuang hasil pertanian masyarakat Gorontalo.

Melalui program Riset Akselerasi Publikasi Internasional (RAPI) 2025 dari LPPM UNG, peneliti ingin membuktikan bahwa tongkol jagung memiliki potensi luar biasa bagi industri konstruksi,” ujar Niniek.

Eco-Cooler memanfaatkan limbah tongkol jagung sebagai sistem pendingin pasif.

Baca Juga: Syarat Lengkap Pendaftaran PPPK Guru 2026, Honorer Masih Punya Peluang Besar, Ini Lengkapnya

Limbah tersebut diolah menjadi dua bentuk material, yakni abu tongkol jagung atau Corn Cob Ash (CCA) serta serbuk tongkol jagung atau Corn Cob Powder (CCP).

Keduanya digunakan sebagai substitusi sebagian semen dan pasir dalam pembuatan panel ventilatif bangunan.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan temuan yang cukup menjanjikan.

Penggunaan CCA membuat panel bangunan menjadi lebih ringan hingga 20 persen, sementara CCP mampu mengurangi berat hingga 40 persen dibandingkan roster beton konvensional, tanpa mengorbankan kekuatan material.

Baca Juga: Info GTK Hadirkan Skema TPG Bulanan, Validasi SKTP Jadi Kunci, Guru Perlu Pahami Tahapan Agar Tak Keliru

“Data kami menunjukkan bahwa varian CCA 10% mampu mencatat kekuatan tekan hingga 46,18 MPa.

Angka ini melampaui standar beton padat kelas I (SNI), yang berarti material ini sangat layak dan aman untuk diaplikasikan pada struktur bangunan ringan,” jelas Niniek.

Dari sisi teknis, Eco-Cooler bekerja melalui desain ventilasi yang mengandalkan prinsip aerodinamika.

Baca Juga: BYD Uji Ketangguhan Kendaraan Listrik Lewat Sirkuit All-Terrain Zhengzhou, Dari Off Road hingga Fast Charging 5 Menit

Sistem ini memungkinkan aliran udara alami yang efektif menurunkan suhu ruang, sehingga rumah tetap terasa sejuk meski berada di tengah cuaca panas.

Dengan mekanisme tersebut, penggunaan pendingin ruangan berbasis listrik seperti AC dapat ditekan.

Dampaknya, konsumsi energi listrik rumah tangga menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan.

Baca Juga: Proliga 2026: Sukses Menangkan Duet Sengit Lawan Livin' Mandiri, Pelatih Pertamina Enduro: Kami Pantang Menyerah!

Lebih dari sekadar inovasi material, Eco-Cooler juga menjadi wujud nyata penerapan konsep ekonomi sirkular.

Limbah pertanian yang sebelumnya tak bernilai kini diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi. ***