POJOKSATU.id – Mengelola emosi diri dan membangun relasi positif sebelum mengajar menjadi bagian penting dalam penerapan CASEL di kelas.
Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Guru Tertentu menaruh perhatian serius pada penguatan kompetensi sosial dan emosional yang melekat pada peran guru sehari-hari.
Salah satu kerangka yang digunakan adalah Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL).
CASEL adalah sebuah pendekatan internasional yang menekankan pentingnya keseimbangan akademik dengan kesehatan emosional dan keterampilan sosial.
Pendekatan ini membantu guru lebih sadar diri dan lebih siap membangun kelas yang aman serta inklusif.
Apa Itu CASEL?
CASEL merupakan kerangka kerja untuk Pembelajaran Sosial dan Emosional (Social-Emotional Learning/SEL) yang membantu siswa maupun guru mengembangkan kemampuan mengelola diri, berempati, menjalin hubungan sehat, hingga membuat keputusan yang bertanggung jawab.
Baca Juga: Mendalami CASEL, Jangan Terjebak Teori, Simak Sebelum Lakukan Implementasi di PPG Guru Tertentu
Penerapan kerangka kerja SEL dalam CASEL di program PPG Guru Tertentu bertujuan untuk membekali guru dengan kompetensi sosial dan emosional (KSE) yang diperlukan, baik untuk pengembangan diri maupun untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran di kelas.
Lima Kompetensi Inti CASEL dan Penerapannya di PPG
1. Kesadaran Diri (Self-Awareness)
Guru didorong untuk mengenali emosi, pikiran, dan nilai-nilai mereka sendiri serta bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku di kelas.
Penerapan di PPG mencakup jurnal reflektif, diskusi kelompok, hingga latihan introspeksi.
2. Pengelolaan Diri (Self-Management)
Guru belajar mengelola emosi dan perilaku secara efektif.
Penerapan di PPG dilakukan melalui pelatihan manajemen stres, teknik pemecahan masalah, dan penetapan tujuan yang realistis.
3. Kesadaran Sosial (Social Awareness)
Guru diajak mengembangkan empati terhadap siswa dari berbagai latar belakang.
Penerapan dilakukan lewat analisis studi kasus keragaman, latihan peran, dan proyek kolaboratif.
4. Keterampilan Hubungan Sosial (Relationship Skills)
Guru dilatih membangun hubungan yang sehat dan suportif dengan siswa dan rekan sejawat.
Penerapan di PPG termasuk micro-teaching, umpan balik terstruktur, dan komunikasi asertif.
5. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making)
Guru diajak membuat keputusan etis dan konstruktif.
Penerapan dilakukan melalui analisis dilema etis, penyusunan strategi kelas, dan pendekatan berbasis bukti.
Refleksi Guru dalam Pengelolaan Emosi
Pada Modul 2 PPG Guru Tertentu 2025, untuk menerapkan kompetensi CASEL, para guru diajak merefleksikan bagaimana mereka memahami kondisi emosionalnya masing-masing sekaligus menjaga hubungan yang sehat dengan siswa maupun rekan sejawat.
Pertanyaan reflektif diberikan kepada peserta PPG Guru Tertentu tidak hanya menguji kesiapan guru dalam aspek akademik.
Soal itu juga untuk memeriksa kemampuan sosial dan emosional yang menjadi fondasi pembelajaran yang aman, suportif, dan bermakna.
Nah, melalui proses refleksi inilah guru belajar melihat dirinya sebagai manusia yang perlu menjaga keseimbangan antara tugas profesional dan perasaan pribadi.
Pertanyaan reflektif di Modul 2 PPG Guru Tertentu biasanya menyoroti pengalaman guru saat menerapkan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE).
Isinya berkisar pada apa yang dirasakan selama proses latihan, serta bagaimana guru menjalankan berbagai strategi PSE, mulai dari pembukaan yang hangat, aktivitas menantang yang berfokus pada siswa, hingga penutup yang memberi dorongan positif.
Berikut jawaban cerita reflektif yang bisa digunakan oleh guru dalam Modul 2 PPG Guru Tertentu.
Jawaban Cerita Reflektif Guru
Contoh Jawaban Utama
Mengelola emosi dan menjaga kualitas hubungan sosial sebelum masuk kelas menjadi fondasi penting dalam penerapan CASEL, topik yang dibahas pada Modul 2 PPG Guru Tertentu 2025.
Pertanyaan reflektif tentang bagaimana guru mengenali kondisi emosinya sendiri dan membangun relasi positif mengajak pendidik melihat kembali kesiapan mereka bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur sosial dan emosional bagi siswa.
Di tengah tuntutan pembelajaran yang semakin kompleks, kemampuan guru memahami dirinya dan orang lain menjadi kunci terciptanya suasana kelas yang aman, suportif, dan mendorong perkembangan akademik sekaligus sosial-emosional siswa.
Jawaban Alternatif 1
Sebelum mengajar, saya melakukan beberapa langkah untuk mengenali emosi diri dan menjaga relasi dengan orang lain agar penerapan CASEL dapat berjalan dengan baik:
Identifikasi emosi diri
Saya melakukan pengecekan singkat untuk menilai apakah saya sedang tenang, terburu-buru, atau ada hal yang mengganggu fokus.
Lalu saya menarik napas dalam untuk menstabilkan emosi sebelum masuk kelas.
Saya juga berusaha memahami penyebab emosi yang muncul agar tidak terbawa ke interaksi dengan siswa.
Menjaga relasi dengan orang lain
Saya menyapa siswa dengan hangat, menjalin keakraban lewat kontak mata atau pertanyaan kecil.
Saya berusaha menjaga komunikasi empatik dan tidak menghakimi, baik dengan siswa maupun rekan guru.
Kolaborasi sederhana dengan guru lain juga saya lakukan agar suasana kerja tetap sehat dan mendukung.
Jawaban Alternatif 2
Sebelum mengajar, saya selalu menyempatkan diri duduk sebentar dan memeriksa kondisi emosi saya.
Ada hari-hari ketika pikiran terasa penuh, ada pula saat saya datang dengan energi tinggi. Di momen seperti itu, saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya siap mendampingi siswa belajar dengan tenang?
Biasanya, saya menarik napas panjang sambil mengingat tujuan saya mengajar.
Dari situ hati kembali stabil. Untuk menjaga relasi, saya memulai pagi dengan menyapa siswa satu per satu.
Sapaan kecil seperti “Selamat pagi” atau “Bagaimana kabarmu hari ini?” membantu saya membaca suasana hati mereka dan membangun kehangatan sejak awal.
Jawaban Alternatif 3
Sebelum masuk kelas, saya biasanya meluangkan waktu sejenak untuk menenangkan pikiran.
Saya mencoba membaca kondisi emosi saya sendiri—apakah sedang gugup, lelah, atau justru bersemangat.
Dengan mengenali perasaan itu sejak awal, saya bisa mengatur cara bersikap agar tidak terbawa ke dalam proses pembelajaran.
Saya melakukan teknik sederhana seperti menarik napas perlahan sambil menata fokus agar suasana hati lebih stabil.
Untuk menjaga relasi dengan orang lain, saya membiasakan diri membangun komunikasi hangat sejak pagi.
Saya menyapa murid maupun rekan guru karena percakapan kecil sering membuat suasana lebih cair.
Saya juga mencoba mendengarkan dengan penuh perhatian ketika ada siswa atau rekan yang ingin berbagi cerita.
Dari kebiasaan itu, saya belajar bahwa hubungan positif sering lahir dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten.
Jawaban Alternatif 4
Biasanya sebelum mengajar, saya bertanya pada diri sendiri, “Hari ini saya sedang merasa apa?”
Pertanyaan sederhana itu membuat saya lebih sadar akan kondisi emosional saya.
Kalau sedang lelah, saya menyempatkan diri menenangkan pikiran agar tidak memengaruhi interaksi dengan siswa.
Jika suasana hati sedang baik, saya memanfaatkannya untuk membawa energi positif ke kelas.
Untuk menjaga relasi, saya menyapa siswa dengan senyum dan percakapan ringan.
Dengan rekan guru, saya membiasakan diri memberi dukungan dan berbagi cerita agar lingkungan kerja tetap hangat.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa memahami diri dan membangun relasi positif adalah kunci keberhasilan penerapan CASEL di kelas.
Di akhir proses refleksi, bapak ibu guru akan semakin menyadari bahwa kesiapan emosional bukanlah hal kecil.
Ketenangan batin dan relasi yang sehat justru menjadi pondasi yang menguatkan pembelajaran di kelas.
Saat guru hadir dengan hati yang stabil, siswa pun ikut merasakan keamanan dan kedekatannya. ***




