POJOKSATU.id — Anna Nur Aulia berdiri tegak memandang ratusan orang yang ada di depannya. Kadang menatap tajam, bahkan kadang menertawakan banyak orang yang matanya tengah tertuju hanya kepadanya.

Entah sudah berapa kali ia menatap orang-orang yang menyaksikannya. Tak terhitung berapa banyak ia menertawakan, mencaci, bahkan berteriak lantang di depan khalayak yang biasa disebut sebagai penonton

Tapi, hingga kini, ia tak pernah mau berhenti. Berdiri di panggung, dengan latar gelap dan sorotan lampu yang kadang membuat sosoknya begitu asing.

Saat itu, mahasiswi Universitas Djuanda Bogor itu terbakar dendam dan amarah.

Konon karakter Anna berubah menjadi sosok perempuan berusia 27 tahun yang duduk di ruang isolasi usai membakar kekasihnya, Markus.

Selama bertahun-tahun perempuan itu telah menyimpan sakit karena lelaki itu telah menyiksanya secara fisik dan mental.

Baca Juga: Komunitas Teater GPS Rembang Suarakan Darurat Demokrasi, Mengajak untuk Kawal Kecurangan di Pilkada Serentak 2024

"Monolog itu bukan sekadar pengakuan dosa, melainkan perjalanan menyelami luka terdalam manusia yang merasa ditinggalkan oleh Tuhan," ungkap Anna kepada pojoksatu.id.

Penampilan Anna membuat orang terpukau. Tak hanya juri. Pun ratusan orang yang menyaksikannya menilai Anna berhasil menyajikan sosok Dewi, karakter fiktif yang begitu manusiawi—retak, gelap, namun sarat harapan.

Lewat pertemuannya dengan dua tokoh lain—Jimy dan Somad—yang juga kehilangan arah, tokoh Dewi yang dimainkan Anna akhirnya menemukan titik balik dalam hidupnya.

“Trauma bisa menghancurkan arah hidup seseorang, tapi juga bisa menjadi awal baru,” kata Anna.

Menurut Anna, Dewi bukan tokoh yang datang untuk minta maaf.

"Saya menyadari bahwa tokoh Dewi tidak minta dikasihani. Dia hanya ingin selesai," tegasnya.

Dalam proses mendalami karakter, Anna melakukan pembacaan naskah secara intensif, membangun latar belakang imajinatif karakter, serta bermeditasi untuk menyatu dengan dunia batin tokoh yang diperankannya.

Baca Juga: Seniman Amerika Serikat Richard North Unjuk Gigi Pertunjukam Seni Bareng 8 Sanggar Lokal di Baraja Amphitheater

Karena keberhasilan itu, Anna dinobatkan sebagai juara pertama lomba monolog tingkat nasional dalam rangka ulang tahun ke-25 Teater Elnama, komunitas teater independen yang bermarkas di Jakarta.

Dalam ajang yang diikuti oleh 12 kelompok teater dari berbagai daerah itu, Anna menampilkan monolog berjudul “Gue Ama Tuhan”, sebuah adaptasi dari naskah karya Achmad Echo Chotib yang digarap ulang oleh Dimas Hadu.

“Sebenarnya Teater Elnama sudah menyediakan buku sebagai referensi. Kami peserta diminta mengadaptasi salah satu naskahnya menjadi monolog,” tutur Anna.

Tumbuh Bersama Panggung

Lahir di Sukabumi, 25 Januari 2005, Anna sudah mengenal dunia teater sejak duduk di bangku SMP Islam Nurul Amal.

Ketika itu, ia meraih juara pertama lomba monolog tingkat Kabupaten Sukabumi.

Ia kemudian bergabung dengan Sanggar 16.30 Art Production, dan turut memenangkan lomba kabaret tingkat Jawa Barat bersama kelompok tersebut.

Di jenjang SMA, Anna melanjutkan kiprahnya lewat Teater Pabrik SMAN 1 Parungkuda.

Ia pernah tampil dalam dua pertunjukan besar, “Suara-Suara Pabrik” dan “Tineung”, yang disponsori langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Naskah “Tineung” yang disutradarai Achmad Dayari menjadi pengalaman paling mendalam bagi Anna, karena perannya sebagai tokoh Anah membuatnya merasa sangat terhubung secara emosional.

Baca Juga: 10 Prodi Favorit di UNJ Jalur Disabilitas 2025, Seni Kuliner Paling Diminati

"Dalam berteater kita bisa membangun diri kita untuk terus disiplin dan kerja keras," ujar putri dari Siti Maemunah dan Mulyadi ini.

"Panggung teater tuh menurut aku kayak timbangan amal perbuatan, apapun hasil yang ada di panggung, itu merupakan hasil perbuatan kita selama berproses," sambungnya, tersenyum manis.

Saat ini, Anna aktif di Teater Karoeng dan tengah menempuh pendidikan di Program Studi Sains Komunikasi, Universitas Djuanda Bogor, semester empat.

Tak hanya teater, Anna juga memiliki hobi di bidang seni pertunjukan seperti akting, menyanyi, dan tari tradisional.

Baca Juga: Unjuk Karya Ilmiah Artikel dan Karya Seni dalam Acara SEGAR (Seminar dan Pagelaran) 2025

Baginya, panggung teater adalah ruang spiritual yang penuh nilai pembentukan karakter.

Mimpi Membentuk Sekolah Kreatif

Lebih dari sekadar ingin menjadi aktor profesional, Anna punya impian yang membumi dan membangun.

Ia sangat ingin mendirikan sekolah kreatif mingguan, tempat anak-anak dan remaja bisa belajar seni dan budaya lewat cara bermain yang menyenangkan.

“Saya ingin membuat sekolah kreatif setiap minggu, tempat belajar kesenian dan budaya dengan cara yang menyenangkan,” ungkapnya.

Sebagai salah satu mahasiswa yang berprestasi di kampusnya, ia pun bertekad kelak menjadi seorang dosen atau bahkan memilih serius menekuni dunia akting.

Bagi Anna, hidup tak pernah mau berpura-pura, sebab ia belajar dari panggung ke panggung.

Ia pun berani menghadapi realita, karena ia tahu kenyataan hidup saat ini dipenuhi kepura-puraan. ***