POJOKSATU.id – Membangun usaha hortikultura yang mampu bersaing di pasar tidak hanya bergantung pada kualitas hasil panen.

Di balik produk segar yang diterima konsumen, terdapat sistem pengelolaan yang memastikan pasokan tetap tersedia, mutu produk tetap terjaga, serta distribusi berjalan tepat waktu.

Pemahaman tersebut menjadi bekal yang diperoleh peserta One Village One CEO (OVOC) International melalui kegiatan outbound learning di PT Koharu Hikari Nusantara, Cianjur.
Dalam kunjungan tersebut, peserta mempelajari secara langsung peran strategis packing house sebagai penghubung antara petani dengan pasar.

Baca Juga: Perut Kembung Tak Selalu Karena Masuk Angin, Kenali 9 Penyebab dan Cara Mengatasinya

Mereka juga melihat bagaimana kolaborasi yang dibangun PT Koharu Hikari Nusantara mampu menghubungkan produk hortikultura lokal dengan pasar modern hingga menjadi pemasok bagi berbagai platform distribusi pangan.

Owner PT Koharu Hikari Nusantara, Samsul Kohar, menjelaskan bahwa pembangunan packing house tidak dimulai dari pembangunan gedung, melainkan dari kesiapan empat fondasi utama, yaitu bahan baku, pasar, manajemen, dan modal.

Keempat aspek tersebut menjadi penentu keberhasilan sebuah usaha hortikultura dalam menjaga keberlanjutan bisnis.

Menurutnya, kontinuitas pasokan merupakan faktor yang sangat penting.

Baca Juga: Tangan Sering Berkeringat Padahal Tak Kepanasan? Bisa Jadi Tanda Hiperhidrosis, Kenali Penyebabnya

Pelaku usaha perlu memiliki lebih dari satu jaringan pemasok agar ketersediaan produk tetap terjaga ketika terjadi kendala di salah satu sumber produksi.

Hubungan yang baik dengan para mitra juga menjadi modal utama dalam membangun kepercayaan dan kerja sama jangka panjang.

Selain itu, peserta diajak memahami pentingnya mengenali kebutuhan pasar sebelum menentukan komoditas yang akan dipasarkan.

Baca Juga: Gelar Honda Modif Contest 2026, AHM Siapkan Wadah Kreativitas Modifikator Indonesia

Setiap produk hortikultura memiliki karakteristik penanganan yang berbeda sehingga diperlukan riset pasar, pemetaan konsumen, serta strategi branding yang mampu meningkatkan kepercayaan pembeli.

Pemanfaatan media sosial dan platform digital juga menjadi bagian penting dalam memperluas jaringan pemasaran sekaligus membaca tren permintaan pasar.

Materi pembelajaran turut membahas tata kelola usaha yang baik.

Penyusunan business plan, pembagian tugas, penyusunan standar operasional prosedur (SOP), administrasi yang tertata, hingga evaluasi berkala menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam membangun usaha yang berkelanjutan.

Baca Juga: Suhanta Alek Marques Maju Calon BPD Desa Duren, Siap Kawal Transparansi Anggaran Desa

Peserta juga diperkenalkan dengan penerapan sistem First In First Out (FIFO), penggunaan purchase order, serta pentingnya menjaga kualitas, kuantitas, dan ketepatan waktu pengiriman produk kepada pelanggan.

Dalam sesi diskusi, Samsul Kohar juga menekankan pentingnya legalitas usaha.

Pelaku usaha perlu memiliki badan usaha yang jelas, melengkapi Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT), serta berbagai perizinan lain yang dibutuhkan agar produk memiliki daya saing dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Berbagai tantangan yang kerap dihadapi pelaku usaha hortikultura turut menjadi bahan pembelajaran.

Baca Juga: Farhan Apresiasi Progres BRT Bandung, Kini Soroti Kepastian Model Bisnis Operator

Mulai dari fluktuasi harga, keterbatasan pasokan, hingga kendala distribusi dibahas bersama peserta.

Sejumlah strategi mitigasi pun dikenalkan, seperti membangun lebih dari satu jaringan pemasok, menerapkan contract farming, menyiapkan pasar alternatif, hingga membangun komunitas usaha sebagai ruang berbagi informasi dan peluang kolaborasi.

Kegiatan ini menjadi bagian dari pendekatan experiential learning yang diterapkan dalam OVOC International.

Melalui praktik langsung di lapangan, peserta tidak hanya memahami teori bisnis, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata mengenai keterkaitan antara proses produksi, pengelolaan, hingga pemasaran dalam membangun usaha hortikultura yang berdaya saing.

Baca Juga: Sampah Jadi Persoalan Krusial, Pansus XV DPRD Jabar Siapkan Regulasi yang Lebih Efektif

Menutup sesi, Samsul Kohar mengingatkan bahwa keberhasilan usaha tidak selalu ditentukan oleh kemampuan melakukan hal-hal besar.

Daya saing justru lahir dari kreativitas, inovasi, konsistensi, serta komitmen untuk terus melakukan perbaikan dalam setiap proses bisnis.

Pembelajaran dari lapangan seperti ini menjadi bukti bahwa membangun agribisnis yang tangguh membutuhkan lebih dari sekadar produk berkualitas.

Kolaborasi, manajemen yang baik, serta kemauan untuk terus belajar menjadi bekal penting bagi lahirnya wirausahawan pertanian yang mampu membawa produk lokal semakin dikenal dan dipercaya oleh pasar yang lebih luas. ***