POJOKSATU.ID – Perjalanan panjang Ahmad Soleh Syafi’i akhirnya menemukan hasil yang layak.
Setelah 31 tahun mengabdi sebagai penjaga sekolah di SDN Jogoyasan Ngablak, Kabupaten Magelang, pria berusia 55 tahun itu resmi dilantik.
Sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu oleh Pemerintah Kabupaten Magelang.
Prosesi pelantikan digelar di GOR Paku Bumi Magelang pada Senin, 8 Desember 2025, bersama ribuan tenaga lain yang juga menerima SK.
Baca Juga: Kontrak PPPK Tidak Otomatis Diperpanjang dalam Revisi UU ASN 2023, Ini Faktor Penilaiannya
Kisah hidup Ahmad menjadi gambaran nyata perjuangan banyak tenaga non-ASN di Indonesia, yang puluhan tahun bekerja dalam ketidakpastian status dan upah.
Dedikasinya yang panjang pada dunia pendidikan akhirnya mendapat pengakuan formal dari pemerintah daerah.
31 Tahun Menjaga Sekolah dengan Honor Minim
Ahmad mulai bekerja sebagai penjaga sekolah pada tahun 1994.
Selama lebih dari tiga dekade, ia menjalankan tugas membersihkan sekolah, menjaga keamanan, hingga membantu berbagai keperluan operasional SDN Jogoyasan.
Baca Juga: LINK RESMI! Format Surat Lamaran dan Pernyataan PPPK BGN 2025 Sudah Bisa Diunduh, Cek Tautan di Sini
Selama itu pula, ia berkali-kali mencoba mengikuti seleksi CPNS namun selalu gagal.
Sementara teman-temannya sesama penjaga banyak yang sudah lebih dulu mendapatkan status PNS. Ahmad terus menjalani status honorer dan kontrak tanpa kepastian.
Honor terakhir yang ia terima sebelum diangkat menjadi PPPK hanya sekitar Rp 1,5 juta per bulan, bersumber dari dana BOSDa.
Penghasilan tersebut tentu jauh dari cukup, namun ia tetap bertahan demi sekolah tempat ia mengabdi.
Pengangkatan PPPK yang Mengubah Hidup
Ahmad mengaku lega dan sangat bersyukur atas pengangkatannya sebagai PPPK. Status baru ini memberinya kepastian kerja, hak yang lebih jelas, dan pendapatan yang lebih stabil.
Momen paling menyentuh terjadi ketika ia menerima kabar SK PPPK tak lama setelah anaknya lulus dari pendidikan S2.
Bagi Ahmad, hal itu menjadi kebanggaan tersendir pengorbanan dan kesabarannya selama puluhan tahun tak sia-sia.
Pengangkatan ini juga menjadi langkah penting bagi banyak honorer lain di Magelang.
Pemerintah Kabupaten Magelang tercatat mengangkat ribuan tenaga honorer menjadi PPPK, sebuah upaya yang diharapkan mengatasi ketidakpastian status para pekerja yang telah lama mengabdi.
Simbol Perubahan Kebijakan Honorer di Indonesia
Kisah Ahmad mencerminkan perubahan besar dalam kebijakan pengelolaan tenaga honorer.
Pemerintah kini lebih aktif mengakomodasi mereka melalui skema PPPK, meski sebagian dalam status paruh waktu.
Baca Juga: Titiek Soeharto Minta Publik Jangan Suuzan, Padahal Bukti Suap Hutan Menggunung!
Ahmad dan rekan-rekannya adalah bukti bahwa pemerintah daerah mulai menepati janji memberi ruang bagi honorer lama untuk mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari ASN.
Hal ini tidak hanya memberi stabilitas finansial, tetapi juga penghargaan atas dedikasi mereka selama puluhan tahun.
Makna dan Pelajaran dari Perjalanan Ahmad
Perjalanan 31 tahun Ahmad mengajarkan bahwa:
1. Pengabdian panjang akhirnya mendapat pengakuan layak.
2. Kebijakan PPPK memberikan peluang nyata bagi honorer senior.
3. Masalah upah kecil dan status tak jelas selama puluhan tahun adalah persoalan struktural yang perlahan mulai diperbaiki pemerintah.
Baca Juga: Kades Sampalan Turun Tangan Bantu Remaja yang Lama Tinggalkan Sekolah
4. Ribuan honorer di daerah lain bisa menjadikan kisah Ahmad sebagai harapan bahwa pintu kesempatan masih terbuka.
5. Perjalanan hidupnya bukan sekadar cerita inspiratif, tetapi juga representasi perjuangan puluhan ribu honorer pendidikan di seluruh Indonesia.
Kisah Ahmad Soleh Syafi’i menjadi sebuah gambaran haru dan inspiratif tentang ketekunan.
Serta pengabdian panjang seorang penjaga sekolah yang akhirnya mendapat penghargaan yang layak.
Baca Juga: Skandal Chromebook Meledak! Kerugian Negara Rp 2,1 Triliun Seret Nama Nadiem ke Pengadilan
Pengangkatannya sebagai PPPK paruh waktu di Magelang menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah.
Mulai berpihak pada honorer lama, memberikan kepastian status dan masa depan yang lebih jelas.
Bagi banyak honorer lain, kisah Ahmad adalah bukti bahwa perjuangan panjang tidak pernah sia-sia.***




