POJOKSATU.id - Kusniati Masti, seorang guru berdedikasi dari Desa Cemara, Kecamatan Cantigi, Indramayu, Jawa Barat, masih harus terus berjuang memberantas buta huruf di daerah terpencil ini.

Tanpa tambahan penghasilan, begini kisah perjuangan guru pengabdi di Hari Guru Nasional 2024.

Kusniati memulai kariernya sebagai guru honorer di SMP Negeri 1 Gabuswetan pada Februari 2000 dan baru mendapatkan Nomor Induk Pegawai (NIP) sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) pada April 2006.

Sejak 2 Agustus 2016, ia dipindahkan oleh Pemerintah Daerah Indramayu untuk mengajar di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) SMP Negeri Satu Atap 2 Cantigi.

Sekolah yang berbagi gedung dengan SD Negeri Cemara Wetan ini memiliki keterbatasan fasilitas, di antaranya lapangan yang dipakai bergantian antara SD dan SMP. Meskipun demikian, Kusniati tidak pernah menyerah.

Di UPTD SMPN Satu Atap 2 Cantigi, jumlah guru hanya delapan orang, dengan Kusniati sebagai satu-satunya ASN yang tersisa.

Baca Juga: Hari Guru Nasional 2024, Agus Fatoni Minta Guru Terus Mengabdi Guna Cerdaskan Anak Bangsa

Menurutnya, di sekolah ini, satu guru terkadang harus merangkap dua mata pelajaran.

"Di UPTD SMPN Satu Atap 2 Cantigi itu, satu gurunya terkadang bisa merangkap dua pelajaran, misalnya guru matematika merangkap sebagai guru komputer," ujarnya.

Sekolah ini hanya memiliki tiga ruang kelas, satu laboratorium, dan ruang guru yang terbatas.

Perpustakaan pun hanya berupa arsip yang masih bergabung dengan ruang laboratorium.

Tempuh Jalan Rusak 37 Km

Pada 14 September 2024, Kusniati diberikan amanah sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah UPTD SMPN Satu Atap 2 Cantigi.

Ia segera menyadari pentingnya ruang laboratorium bagi siswa untuk mengembangkan pengetahuan praktis mereka.

Meski jumlah siswa yang belajar di sana hanya sekitar 80 hingga 90 orang setiap tahunnya, Kusniati tetap gigih memberikan yang terbaik.

Kusniati juga menghadapi tantangan berat setiap kali melakukan perjalanan menuju sekolah yang jaraknya mencapai 37 kilometer dari rumahnya.

Baca Juga: Hari Guru Nasional 2024, Bocoran Pengumuman Rencana Besar Peningkatan Kesejahteraan Guru dalam Pidato Mendikdasmen Abdul Mu'ti

Pada tahun 2016, jalan menuju sekolah masih berlumpur dan penuh batu, membutuhkan waktu 1,5 hingga 2 jam perjalanan.

Meskipun pemerintah daerah mulai memperbaiki jalan secara bertahap, perbaikan tersebut baru mencapai satu kilometer pada tahun 2024. Sisanya belum berubah, masih berlumpur dan penuh batu.

Kusniati sering mengganti ban motor karena jalanan yang rusak, dan perjuangannya semakin berat saat hujan turun. Namun, semangatnya untuk mengajar dan mengabdi pada anak-anak di desa terpencil ini tidak pernah pudar.

Masih Banyak Murid Buta Huruf

Tak hanya mengajar di dalam kelas, Kusniati juga berusaha membantu siswa-siswinya yang kesulitan membaca.

Setiap hari setelah jam sekolah, ia meluangkan waktu untuk membimbing mereka hingga waktu Maghrib.

"Setiap kelas, kelas 7-9, memiliki beberapa siswa yang tidak bisa membaca terkadang juga ada huruf yang belum diketahui," katanya.

Baca Juga: BERTEPATAN HARI GURU 25 November, Guru Supriyani DIVONIS PN Andoolo, PGAI Sumbar Gelar Aksi Solidaritas, Minta Presiden PRIORITASKAN Angkat Honorer

Kusniati tidak pernah memungut biaya tambahan untuk bimbingan ini, karena baginya, mengajar adalah bentuk pengabdian yang tulus untuk anak-anak di daerahnya.

Kusniati berharap pendidikan di daerah terpencil mendapatkan perhatian lebih agar anak-anak di daerah tersebut dapat memperoleh pendidikan berkualitas dan kesempatan untuk meraih cita-cita mereka. ***