POJOKSATU.id - Kesenjangan literasi antara perkotaan dan pedesaan menjadi benang merah penting dalam wacana pendidikan di Indonesia.

Meski tingkat melek huruf menunjukkan angka tinggi secara nasional, fakta di lapangan menunjukkan bahwa akses dan kualitas literasi di pedesaan masih jauh tertinggal dibandingkan di perkotaan.

Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: siapa sesungguhnya yang tertinggal dalam sistem pendidikan saat ini?
Fakta Ketimpangan Pendidikan dan Literasi di Desa vs Kota
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pendidikan dan capaian literasi antara kota dan desa masih menunjukkan jurang yang lebar.

Baca Juga: PPG Calon Guru Segera Umumkan Hasil Substantif Siap Lanjut ke Tahap Wawancara?

Di pedesaan terdapat persentase penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak/belum pernah sekolah sebesar 5,11 persen.

Ada pula 12,39 persen penduduk desa yang tidak menyelesaikan pendidikan dasar SD.

Sementara di perkotaan, angka untuk kategori serupa jauh lebih rendah, hanya sekitar 1,93 persen untuk yang tidak pernah sekolah dan 6,62 persen untuk mereka yang tidak tamat SD.

Di sisi lain, pencapaian jenjang pendidikan menengah juga sangat timpang.

Penduduk perkotaan yang telah menamatkan pendidikan setara SMA atau lebih mencapai sekitar 49,16 persen.

Di pedesaan, jumlah ini hanya sekitar 27,98 persen. Sebaliknya, penduduk desa yang hanya tamat SD mendominasi sekitar 31,13 persen.

Baca Juga: Hutan Gundul Parah! WALHI Sebut 7 Perusahaan Penyebab Bencana Brutal di Sumatera

Penelitian empiris juga menunjukkan bahwa keterampilan literasi, bukan hanya melek huruf dasar, tetapi kemampuan memahami teks berbeda jauh antara siswa di perkotaan dan pedesaan.

Siswa sekolah dasar di pedesaan secara konsisten menunjukkan skor dan kemampuan literasi yang lebih rendah dibanding siswa di sekolah perkotaan.

Mengapa Kesenjangan Itu Terjadi, Faktor Struktural dan Kontekstual
Ada beberapa sebab utama di balik ketimpangan literasi dan pendidikan antara kota dan desa.

Pertama, distribusi kualitas dan kuantitas tenaga pendidik tidak merata.

Banyak sekolah di pedesaan kekurangan guru dengan kompetensi memadai, dan beban mengajar sering lebih berat.

Baca Juga: Kabar Baik! PPPK Paruh Waktu Ternate Bakal Terima Gaji 13 dan 14, Pemkot Siapkan Rp 69 Miliar

Hal ini mempengaruhi kualitas proses belajar yang berdampak pada literasi dan pemahaman siswa.

Kedua, fasilitas pendidikan dan sarana belajar di desa sering jauh lebih minim.

Buku, perpustakaan, materi bacaan, akses internet, dan sarana pendukung pembelajaran lain lebih susah dijangkau oleh siswa di pedesaan.

Kondisi ini mempersempit kesempatan mereka mengembangkan budaya baca dan literasi.

Ketiga, akses terhadap infrastruktur digital dan jaringan internet menjadi aspek yang makin relevan di era sekarang.

Di banyak wilayah pedesaan, infrastruktur internet dan teknologi informasi masih tertinggal.

Baca Juga: Masih Bingung Sertifikasi Guru Tunggal SMP Begini Prosedur dan Langkah yang Harus Ditempuh

Ketimpangan ini membuat peluang literasi digital dan akses informasi hampir tertutup bagi siswa di desa.

Keempat, faktor ekonomi dan sosial berperan signifikan. Rumah tangga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah cenderung memberikan prioritas lebih rendah terhadap pendidikan lanjutan atau pembelian buku.

Anak-anak dari keluarga seperti ini sering harus membantu ekonomi rumah, sehingga waktu dan kesempatan belajar, termasuk membaca terbatas.

Dampak Bagi Orang di Desa dan Masa Depan Pendidikan Nasional
Kesenjangan literasi dan pendidikan ini membawa dampak nyata dan jangka panjang.

Generasi muda dari daerah pedesaan berpotensi tertinggal baik dalam hal kemampuan literasi dasar, berpikir kritis, maupun kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Baca Juga: MK Tolak Gugatan! Masa Jabatan Ketum Parpol Tak Dibatasi, Publik Sebut Jalan Tol Dinasti Politik

Ketika literasi tidak merata, peluang akses ke informasi, pengetahuan, dan keterampilan akan berbeda.

Siswa dari pedesaan bisa tertinggal jauh dibanding rekan mereka di perkotaan.

Hal ini menimbulkan ketidaksetaraan kesempatan, yang pada akhirnya dapat memperlebar kesenjangan sosial-ekonomi serta mobilitas sosial.

Pada tingkat nasional, apabila kondisi ini terus terjadi, akan sulit bagi Indonesia mewujudkan visi pemerataan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia secara merata.

Potensi intelektual dan bakat dari wilayah pedesaan bisa terbuang sia-sia hanya karena keterbatasan akses dan literasi.

Upaya dan Solusi, Mendorong Literasi Merata antara Desa dan Kota
Beberapa penelitian dan inisiatif menunjukkan arah solusi yang bisa diambil untuk mengecilkan kesenjangan literasi.

Baca Juga: LPTK Tidak Muncul di SIMPKB Begini Cara Mengeceknya Lewat Inspect Browser

Program pendidikan inklusif yang menargetkan sekolah di wilayah pedesaan dengan peningkatan sarana, fasilitas, dan distribusi guru yang adil dianggap krusial.

Pendekatan ini mampu membantu mengurangi disparitas pendidikan antara kota dan desa.

Penekanan pada literasi di sekolah dasar dan membangun budaya baca, melalui perpustakaan sekolah, klub baca, pelibatan orang tua, dan akses bahan bacaan menjadi fondasi penting.

Sikap literasi harus dibentuk sejak dini agar anak-anak di pedesaan dapat mengejar ketertinggalan secara bertahap.

Pemanfaatan teknologi dan infrastruktur digital juga bisa mendukung literasi di desa.

Perluasan akses internet, penyediaan buku digital atau media bacaan daring, serta pelatihan literasi digital bisa membuka pintu akses informasi dan pengetahuan lebih luas.

Baca Juga: Kenaikan Pangkat ASN 12 Kali Setahun, BKN Buka Alasan dan Dampak Besarnya

Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci.

Perhatian terhadap daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) harus ditingkatkan.

Dengan kebijakan yang sinergis, ketimpangan literasi bisa dikurangi secara nyata.

Harapan Pendidikan dan Literasi untuk Semua, Tanpa Membeda-bedakan Alamat
Perbedaan antara kota dan desa dalam hal literasi dan pendidikan bukan hanya soal geografis. Ia mencerminkan ketidaksetaraan akses, kesempatan, dan masa depan.

Indonesia membutuhkan komitmen serius untuk menjadikan literasi dan pendidikan sebagai hak setiap warga tanpa memandang lokasi.

Penting untuk memastikan bahwa anak di desa memiliki akses yang sama ke buku, guru berkualitas, teknologi, dan fasilitas pendidikan.

Dengan literasi merata, potensi besar dari seluruh pelosok Nusantara bisa muncul.

Generasi muda dari desa pun memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, mengejar pengetahuan, meraih pendidikan tinggi, dan ikut membangun bangsa.

Mimpi tentang masa depan Indonesia yang inklusif dan berkeadilan dalam pendidikan hanya bisa terwujud jika kesenjangan literasi antara perkotaan dan pedesaan segera menjadi prioritas utama bersama.***