POJOKSATU.id — Labor Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang kembali menorehkan prestasi membanggakan.

Mereka meraih Juara I pada ajang Festival Sastra Mursal Esten (FSME) X tingkat internasional yang diselenggarakan Departemen Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Padang, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Produser Labor KPI, Agung Cikal, menjelaskan bahwa karya film yang mereka ikutsertakan merupakan adaptasi sastra sesuai tema lomba yaitu Sastra untuk Bumi, Manusia, dan Masa Depan.

Baca Juga: Astagfirullah, Kekerasan Seksual Masih Dianggap Normal di Kampus, Regulasi Sudah Ada tapi Budaya Bungkam Menguat

“Pelaksanaan lombanya dilakukan secara luring pada 24-25 Oktober, dan pengumumannya pada 25 Oktober 2025,” jelas Agung.

Ia mengaku haru sekaligus bangga karena ini menjadi karya terakhir yang ia persembahkan untuk Labor KPI sebelum wisuda.

“Alhamdulillah juara 1 dan tentu hal ini sangat berkesan sebelum wisuda,” ungkapnya.

Baca Juga: Wagub Banten Ajak Tanamkan Nilai Iman dan Tolong-Menolong Sejak Dini Lewat Manasik Haji Santri

Film yang diangkat berjudul Sebuah Senja untuk Pacarku, trilogi Alina, yang terinspirasi dari cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku karya Seno Gumira Ajidarma.

“Perlombaan FSME harus mengadaptasi dari karya sastra seperti cerpen, puisi, novel dan lainnya. Maka dari itu kami memilih cerpen Sepotong Senja untuk Pacarku,” ujarnya.

Agung menyebutkan, proses adaptasi cerpen menjadi sebuah film memberikan tantangan tersendiri.

Baca Juga: Pendirian Kampus Institut Seni di Blora Dimatangkan, Pemkab Datangi ISI Solo, Mau Buka Prodi Apa?

“Sengaja kami angkat judul ini karena tantangan dalam adaptasi lebih menggugah ketimbang membuat alur sendiri.

Bagi yang pernah baca cerpennya pasti merasa aneh dan absurd,” ucapnya.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa naskah film tidak sepenuhnya meniru cerita asli.

“Kami ingin bereksperimen dalam menulis naskah dan membuatnya menjadi film versi kami,” katanya.

Baca Juga: Dadiah Minangkabau Dijajaki Jadi Terapi Alzheimer oleh Mahasiswa UNAND

Proses pra-produksi berlangsung selama satu minggu yang mencakup penulisan naskah, bedah naskah, hingga persiapan alat.

Setelah itu, produksi dilakukan selama empat hari.

“Dalam penulisan naskah, saya berulang kali membaca dan menonton film adaptasi cerpen yang sejenis.

Mungkin film kami sangat jauh berbeda dari cerpennya,” pungkasnya.

Baca Juga: Pengkinian Luaran Penelitian untuk Dosen Penerima BOPTN 2024, Segera Lakukan Sebelum Tenggat 30 November 2025

Film ini juga membawa pesan tentang ketulusan cinta. “Sudut pandangnya ada tiga, pertama dari tokoh utama, kedua dari masyarakat,” jelasnya.

Agung mengaku memperoleh dukungan peralatan syuting dari kampus, namun kebutuhan produksi lainnya tetap menggunakan biaya pribadi.

Meski begitu, hal tersebut tak mengurangi semangat mereka untuk menghasilkan karya terbaik.

Baca Juga: Jumlah Pesantren Muhammadiyah Paling Banyak di Indonesia

“Semoga festival ini terus berlanjut dan mampu menambah wawasan mahasiswa. Ajang ini semoga bisa membangkitkan semangat berkarya,” tutupnya. ***