POJOKSATU.id - Kenaikan insentif guru honorer sebesar Rp100 ribu sempat menimbulkan perdebatan.

Sebagian menilai jumlahnya terlalu kecil, namun di sisi lain banyak guru honorer justru menyambutnya dengan syukur.

Fenomena ini menarik untuk dibahas karena menggambarkan kondisi riil para pendidik non-ASN yang selama bertahun-tahun bekerja dengan penghasilan minim.

Baca Juga: Revisi UU ASN! Guru Honorer Diutamakan Jadi PPPK Penuh, Status Honorer Dihapus Total Tahun 2026, Ini Penjelasannya


Pemerintah Naikkan Insentif Guru Honorer

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan bahwa insentif untuk guru honorer dinaikkan dari Rp300 ribu menjadi Rp400 ribu per bulan mulai 2026.

Meski nilainya tidak besar, kebijakan ini menjadi sinyal bahwa pemerintah mulai memperhatikan kembali kesejahteraan tenaga pendidik non-ASN.

Kebijakan ini juga disebut sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk memperbaiki pendapatan guru, termasuk melalui pelatihan, sertifikasi, hingga bantuan pendidikan bagi anak guru.

Baca Juga: Dua Juta Obat dan Alkes dari Malaysia Tiba di Aceh, Bantuan Medis Raksasa untuk Korban Banjir

Namun, nominal Rp100 ribu tetap dinilai belum cukup menjawab kebutuhan hidup yang semakin mahal.


Kisah Nyata Guru Honorer, “Kecil, Tapi Tetap Disyukuri”

Di lapangan, suara yang muncul tidak melulu keluhan.

Salah satunya datang dari Dewi Sri Wahyuni, guru honorer di Surabaya, yang mengatakan bahwa tambahan tersebut tetap memiliki arti.

Baca Juga: Dony Oskaria Minta Kapolda Bergerak! Pembalak Liar Diduga Biang Kerok Banjir Mematikan

“Senang pastinya kalau ada kenaikan insentif. Setidaknya guru honorer ini tetap diperhatikan, meskipun kenaikannya tidak signifikan,” ujar Dewi dikutip dari IDN Times Jatim, 29 November 2025.

Dewi menyebut bahwa gaji pokoknya hanya sekitar Rp800 ribu per bulan.

Dengan pendapatan serendah itu, tambahan insentif sekecil apa pun dapat membantu memenuhi kebutuhan harian.

Mulai dari transportasi hingga membeli perlengkapan mengajar.

Pernyataan Dewi menggambarkan realitas mayoritas guru honorer di Indonesia.

Baca Juga: Menelusuri Masa Depan Pendidikan bersama Guru Kemendikbudristek

Terus bertahan dengan gaji jauh di bawah standar, tetapi tetap menjalankan tugas mengajar dengan penuh ketulusan.


Mengapa Banyak Guru Tetap Bersyukur?

Meskipun nilai kenaikan dianggap kecil, ada beberapa alasan mengapa sebagian guru honorer tetap menyambutnya sebagai kabar baik:

1. Tanda Pemerintah Mulai Melihat Kondisi Mereka

Banyak guru honorer merasa selama bertahun-tahun keberadaan mereka kurang mendapat perhatian.

Baca Juga: Astra Financial dan Masa Depan Layanan Keuangan Terintegrasi untuk Generasi Muda Indonesia

Dengan adanya tambahan insentif, sekecil apa pun, mereka melihatnya sebagai bentuk pengakuan.

2. Setiap Tambahan Tetap Membantu

Dengan gaji pokok yang rendah, tambahan Rp100 ribu bisa menutup kebutuhan dasar.

Terutama bagi guru yang tidak memiliki pekerjaan sampingan.

Baca Juga: BI Kejutkan Publik! Rupiah Digital Mulai Diuji, Siap Jadi Satu-satunya Alat Bayar Sah di Indonesia

3. Harapan Akan Peningkatan Bertahap

Bagi sebagian guru, kenaikan ini dipandang sebagai pintu awal bagi perbaikan kesejahteraan yang lebih besar di masa mendatang.

4. Pengabdian yang Mengalahkan Besaran Insentif

Banyak guru honorer tetap bekerja bukan karena jumlah insentif, tetapi karena dorongan pengabdian.

Mereka tetap bersyukur karena memandang profesi mengajar sebagai panggilan hati.

Baca Juga: Guru Honorer Tetap Jadi Prioritas Rekrutmen ASN 2026, Pemerintah Fokus Percepat Penyetaraan ke PPPK


Kritik dan Realitas yang Tak Bisa Diabaikan

Meski banyak guru mengapresiasi langkah pemerintah, kritik tetap muncul.

Berbagai pihak menilai kenaikan Rp100 ribu hanya bersifat simbolis dan belum menjawab kebutuhan riil guru honorer.

Beban kerja yang berat, biaya hidup yang terus meningkat, serta ketidakpastian status kepegawaian menjadi tantangan besar.

Baca Juga: Akhirnya Terjawab! Guru Swasta Boleh Daftar PPPK, Tapi Ada Batasannya, Ini Syarat Yang Harus Dipenuhi

Bahkan organisasi guru di berbagai daerah mendesak agar kenaikan insentif tidak berhenti pada angka tersebut dan perlu dibarengi kebijakan yang lebih komprehensif.


Kecil Nominalnya, Besar Maknanya

Kenaikan insentif Rp100 ribu memang tidak serta-merta memperbaiki taraf hidup guru honorer.

Namun bagi banyak dari mereka, ini adalah tanda bahwa perjuangan mereka mulai mendapat perhatian.

Baca Juga: Viral! Mie Glowing ala Tawas, Industri Rumahan Bogor Ketahuan Edarkan Produk Berbahaya ke Pasar

Rasa syukur yang ditunjukkan para guru bukan berarti mereka tidak membutuhkan peningkatan lebih besar.

Melainkan bentuk penghargaan atas setiap langkah kecil menuju kesejahteraan yang lebih layak.***