POJOKSATU.id, PENDIDIKAN Kesehatan Reproduksi (PKR) kini tak lagi menjadi topik yang dihindari di madrasah. Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kementerian Agama resmi meluncurkan Buku Panduan Guru PKR Berperspektif Keislaman

Peluncuran buku ini menjadi upaya konkrit dalam membumikan Kurikulum Berbasis Cinta yang diinisiasi oleh Menteri Agama, KH Nasaruddin Umar. Sebuah kurikulum yang tidak hanya mendidik akal, tetapi juga merawat tubuh dan jiwa.

“Ini adalah wujud nyata dari cinta—cinta kepada diri, ilmu, dan sesama,” ujar Direktur GTK Madrasah, Thobib Al Asyhar, dilansir dari laman Pendis Kemenag, Jumat, 11 Juli 2025.

Baca Juga: Minta Irwan Mussry Nasehati Maia Estianty untuk Stop Bahas Masa Lalu, Ahmad Dhani : Kalau Tidak, Saya Akan Keluarkan Bukti Lebih Parah

Menurut Thobib, anak-anak perlu tumbuh dengan kesadaran terhadap tubuhnya sendiri dan penghormatan kepada orang lain—sebagaimana diajarkan dalam Islam.

Ia juga menekankan pentingnya menyampaikan materi PKR secara ilmiah, namun tetap berpijak pada nilai-nilai keislaman. Sebab, isu kesehatan reproduksi selama ini masih kerap dianggap tabu, khususnya di lingkungan pendidikan berbasis agama.

Selama ini, banyak guru madrasah mengalami kebingungan saat menyampaikan materi PKR karena khawatir menabrak norma agama atau budaya lokal. Kini, kegamangan itu dijawab melalui hadirnya buku panduan ini.

Baca Juga: Simak, Aturan Baru Tunjangan Profesi Guru Non ASN Kemenag 2025, Ini Syarat Lengkap dan Ketentuan Penghentiannya

“Buku ini dirancang bukan untuk dibaca lalu disimpan di rak, tapi untuk digunakan di kelas. Panduannya ilmiah sekaligus islami, dan bisa langsung diterapkan,” tegas Thobib.

Buku panduan ini juga mendukung pelaksanaan Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 73 Tahun 2022 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di lingkungan pendidikan Kemenag. Buku ini menjadi salah satu instrumen penting untuk membangun ekosistem pendidikan yang aman, sehat, dan ramah anak.

Panduan ini terdiri dari dua volume. Di dalamnya dibahas konsep kesehatan reproduksi, strategi pengajaran, hingga pendekatan islami yang kontekstual. Penyusunannya melibatkan para pakar lintas bidang, mulai dari akademisi, guru madrasah, hingga tokoh agama.

Baca Juga: Profil Denny JA, Pendiri LSI Diangkat Jadi Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi

“Ini bukan produk instan. Disusun dengan cermat, dikaji mendalam, dan melibatkan mereka yang memang memahami realitas lapangan,” tambah Thobib.

Peluncuran buku ini juga dikemas dalam bentuk Workshop Konsolidasi, yang menjadi ruang dengar bagi para guru. Dalam forum tersebut, GTK Madrasah membuka pintu selebar-lebarnya terhadap kritik dan saran dari lapangan.

“Kami ingin buku ini hidup di kelas-kelas madrasah dan pesantren. Maka, masukan dari para guru sangat penting bagi penyempurnaan panduan ini ke depan,” ujarnya.

Klik, follow & subscribe website & medsos kami untuk mendapatkan informasi terbaru;

VERSI ANDROID 

VERSI iOS 

LINK SALURAN WHATSAPP 

Fanpage Edugov 

Baca Juga: Regulasi Baru Kemenag : Tunjangan Profesi Guru PAI Non ASN Naik Jadi Rp2 Juta, Pencairan Kekurangan Rp500 Ribu Dirapel sejak Januari 2025

Dengan hadirnya panduan PKR ini, Kemenag menyampaikan pesan yang kuat: pendidikan kesehatan reproduksi bukanlah sesuatu yang tabu—tetapi bagian dari ibadah, serta amanah keilmuan yang perlu diajarkan dengan cinta dan penuh tanggung jawab. ***