POJOKSATU.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akhirnya memberikan penjelasan resmi untuk meluruskan isu yang ramai beredar mengenai fenomena “El Niño Godzilla” yang disebut-sebut akan memicu kemarau ekstrem di Indonesia pada 2026.
Klarifikasi ini disampaikan untuk meredam kekhawatiran masyarakat yang mulai meningkat akibat istilah tersebut.
BMKG menjelaskan bahwa musim kemarau pada 2026 memang diprediksi akan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Baca Juga: Rahasia Kesehatan dari Dapur, Ini 8 Manfaat Minum Kunyit yang Jarang Disadari
Meski demikian, situasi tersebut tidak akan mencapai tingkat ekstrem seperti yang banyak beredar dalam berbagai informasi di publik.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, Fachri Radjab, menegaskan bahwa istilah “Godzilla” tidak pernah digunakan dalam kajian ilmiah resmi BMKG.
Menurutnya, istilah tersebut tidak tepat secara ilmiah dan cenderung melebih-lebihkan kondisi yang sebenarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa meskipun kondisi tahun ini perlu diwaspadai, masyarakat tidak perlu meresponsnya dengan kepanikan berlebihan.
Fachri menekankan bahwa situasi yang dimaksud hanyalah kondisi yang lebih kering dari rata-rata, bukan kemarau paling parah dalam beberapa dekade terakhir.
Baca Juga: UGM Buka Jalur PBUB dan PBUTM 2026, Ini Dokumen Lengkap yang Harus Disiapkan
"Perlu digarisbawahi bahwa ini berarti lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau paling parah dalam 30 tahun,” ujarnya.
Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal dari biasanya, yakni mulai April hingga September 2026 dengan durasi yang berpotensi lebih panjang.
Curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia juga diprediksi berada di bawah rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir.
Kondisi ini tidak lepas dari pengaruh fenomena El Niño yang diperkirakan mulai berkembang pada akhir April hingga awal Mei 2026.
Namun demikian, BMKG menegaskan bahwa El Niño bukanlah penyebab utama musim kemarau, melainkan faktor yang memperkuat intensitasnya.
Sebagai negara tropis, Indonesia pada dasarnya memang mengalami musim kemarau setiap tahun.
Akan tetapi, ketika periode kemarau bertepatan dengan El Niño, curah hujan biasanya mengalami penurunan yang signifikan sehingga meningkatkan potensi kekeringan.
Saat ini, kondisi El Niño masih tergolong lemah.
Namun, BMKG memperkirakan fenomena tersebut berpotensi meningkat menjadi kategori moderat pada kuartal ketiga 2026, khususnya pada periode Agustus hingga Oktober.
Walaupun tidak akan sekuat peristiwa El Niño 1997–1998 maupun El Niño 2015–2016, dampak dari kemarau kering tetap harus diantisipasi sejak dini.
Penurunan curah hujan berisiko menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah, meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan, serta mengganggu produktivitas sektor pertanian dan perkebunan.
Dari aspek kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia turut mengingatkan bahwa berkurangnya curah hujan dapat memperburuk kualitas udara karena minimnya proses pembersihan alami oleh hujan.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa kenaikan suhu serta perubahan kondisi lingkungan juga dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit berbasis vektor.
"Peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyebaran penyakit yang ditularkan melalui vektor seperti demam berdarah dan malaria, karena genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk," kata dia.
Selain itu, menurunnya kualitas sanitasi dan ketersediaan air bersih juga berpotensi memicu peningkatan kasus penyakit seperti diare, tifus, kolera, hingga leptospirosis.
Untuk mengurangi dampak tersebut, masyarakat diimbau agar rutin memantau kualitas udara, membatasi aktivitas di luar ruangan saat tingkat polusi tinggi, serta menggunakan masker bila diperlukan.
Penggunaan penyaring udara di dalam ruangan juga dianjurkan, termasuk menghindari sumber polusi seperti asap rokok.
Di sisi lain, pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi lintas sektor.
Badan Pangan Nasional memastikan cadangan pangan tetap tersedia guna menjaga stabilitas pasokan dan harga di tengah potensi gangguan produksi.
Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan sekitar 400 unit pompa air untuk membantu petani menjaga ketersediaan air selama musim kemarau.
Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sempat menggunakan istilah “Godzilla” untuk menggambarkan potensi El Niño yang kuat.
Namun, BMKG kembali menegaskan bahwa istilah tersebut bukan bagian dari terminologi ilmiah resmi dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Secara sederhana, istilah “El Niño Godzilla” hanyalah sebutan populer di media untuk menggambarkan El Niño dengan intensitas sangat kuat, bukan fenomena baru yang berbeda secara ilmiah.
BMKG pun mengingatkan agar masyarakat dapat menyikapi informasi terkait cuaca dan iklim secara bijak dan proporsional.
Kewaspadaan tetap diperlukan, namun tidak perlu bereaksi secara berlebihan terhadap isu yang belum tentu akurat.***




