POJOKSATU.ID - Potret kelam dunia pendidikan di wilayah terpencil Indonesia, dari Kabupaten Pandeglang, Banten, yang letaknya tidak terlalu jauh dari ibu kota negara.
Ratusan pelajar SD dan SMP di Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu.
Harus bertaruh nyawa setiap hari demi bisa sampai ke sekolah.
Baca Juga: Program Unggulan Pemerintah Dorong Peningkatan Gizi Anak Bangsa
Aksi nekat menyeberangi sungai dengan arus yang cukup deras menjadi satu-satunya pilihan mereka.
Jembatan gantung yang merupakan akses utama warga dan pelajar telah hanyut terbawa arus banjir sejak lama.
Kehilangan jembatan gantung itu memaksa anak-anak menggulung celana hingga selutut, berjalan perlahan di tengah aliran sungai yang dalam dan berlumpur.
Baca Juga: Bank BJB Resmikan KCP Samarang Garut, Bupati Dorong Sektor Pertanian Sebagai Komoditas
Beberapa pelajar bahkan harus saling berpegangan tangan untuk menghindari risiko terjatuh dan terseret arus deras.
Salah satu warga setempat di Desa Rancapinang mengatakan kondisi ini sudah berlangsung hampir satu tahun dan jika air sungai sedang tinggi atau terjadi hujan deras.
Anak-anak terpaksa tidak bisa berangkat sekolah, ancaman keselamatan ini sangat berbahaya, aktivitas menyeberangi sungai demi sekolah adalah hal yang sangat berisiko.
Baca Juga: Cara Bikin Kejutan Seseorang Ada di Depan Rumahmu, Mudah Kok
Juga memberikan contoh sikap rasa semangat menamba ilmu.
Janji Pembangunan yang Tak Kunjung Terealisasi
Warga Kampung Cegog mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Pandeglang sempat menjanjikan pembangunan kembali jembatan tersebut.
Namun, hingga saat ini, realisasi pembangunan jembatan permanen tak kunjung selesai.
Informasi terbaru dari Pemerintah Provinsi Banten menyebutkan bahwa pembangunan jembatan permanen di Kampung Cegog sedang dikerjakan.
Dan sudah mencapai progres 90 persen, perkiraan selesai di bulan November 2025.
Baca Juga: Bank BJB Resmikan KCP Samarang Garut, Bupati Dorong Sektor Pertanian Sebagai Komoditas
Namun, selama pembangunan belum selesai, warga dan siswa terpaksa tetap harus menyeberangi sungai yang berisiko, bahkan jembatan kayu sementara sempat hanyut diterjang air bandang.
Dampak Lebih Luas pada Perekonomian Lokal
Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas pendidikan anak-anak, tetapi juga menjadi kendala serius bagi perputaran roda ekonomi masyarakat setempat.
Baca Juga: Cara Bikin Kejutan Seseorang Ada di Depan Rumahmu, Mudah Kok
Jembatan ini merupakan akses utama warga Kampung Cegog untuk bepergian ke pasar atau kebun.
Kepala Desa Rancapinang berharap pemerintah segera memperbaiki jembatan tersebut, sebab jika air meluap, aktivitas warga akan terhenti dan beberapa kampung menjadi rawan terisolasi.
Permintaan membangun jembatan sementara juga sempat disampaikan oleh warga dan kepala desa untuk mengurangi risiko keselamatan anak-anak saat menuju sekolah.***




