POJOKSATU.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah pengangguran di Indonesia masih mencapai 7,22 juta orang hingga Mei 2026.
Di tengah bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) justru kembali menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa tantangan dunia kerja tidak hanya terletak pada penciptaan lapangan pekerjaan, tetapi juga pada kesesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri yang terus berubah.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 155,41 juta orang hingga Mei 2026.
Angka tersebut meningkat sekitar 497 ribu orang dibandingkan Februari 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 148,19 juta orang telah bekerja atau bertambah sekitar 522 ribu orang, sedangkan 7,22 juta orang lainnya masih berada dalam kategori pengangguran.
"Angkatan kerja yang tidak terserap pasar kerja adalah pengangguran, yaitu sebanyak 7,22 juta orang atau turun sekitar 24 ribu orang dibandingkan Februari 2026," ujar M. Edy Mahmud dalam konferensi pers, Rabu, 5 Agustus 2026.
Lulusan SMK Masih Menempati Posisi Tertinggi
Berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan, lulusan SMK kembali menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi, yakni 7,68 persen.
Posisi berikutnya ditempati lulusan:
-
SMA sebesar 6,17 persen.
-
Diploma IV, S1, S2, dan S3 sebesar 6,09 persen.
-
Jenjang pendidikan lainnya berada di bawah angka tersebut.
-
Sementara lulusan SD ke bawah menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran paling rendah, yaitu 2,31 persen.
Data tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi belum otomatis menjamin seseorang lebih mudah memperoleh pekerjaan.
Sebaliknya, lulusan SMK yang sejak awal dipersiapkan memasuki dunia kerja masih menghadapi tantangan besar untuk terserap oleh pasar tenaga kerja.
Fenomena ini menjadi pekerjaan rumah bagi dunia pendidikan vokasi. Selama beberapa tahun terakhir pemerintah terus mendorong penguatan konsep link and match antara SMK dengan dunia usaha dan dunia industri agar kompetensi lulusan semakin sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja.
Pengangguran Laki-laki Lebih Tinggi
BPS juga mencatat adanya perbedaan tingkat pengangguran berdasarkan jenis kelamin.
Pengangguran laki-laki mencapai 4,85 persen, lebih tinggi dibandingkan perempuan yang sebesar 4,32 persen.
Sementara jika dilihat berdasarkan wilayah tempat tinggal, masyarakat perkotaan masih menghadapi tingkat pengangguran yang lebih tinggi dibandingkan wilayah perdesaan.
Tingkat pengangguran di wilayah perkotaan tercatat sebesar 5,54 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 3,15 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingginya aktivitas ekonomi di kota belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan jumlah pencari kerja yang terus meningkat setiap tahunnya.
Masih Banyak yang Bekerja Paruh Waktu
Di balik meningkatnya jumlah penduduk yang bekerja, BPS juga mencatat bahwa tidak seluruh pekerja memiliki pekerjaan penuh.
Baca Juga: Jangan Sampai Tertipu! Ini Cara Memastikan Sertifikat Tanah Asli Sebelum Membeli
Dari 148,19 juta orang yang bekerja, sebanyak 98,983 juta orang merupakan pekerja penuh.
Sementara itu:
-
38,41 juta orang bekerja paruh waktu.
-
10,78 juta orang tergolong setengah menganggur.
Kelompok setengah menganggur adalah mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu, namun masih mencari atau bersedia menerima tambahan pekerjaan agar memperoleh jam kerja maupun pendapatan yang lebih baik.
Tantangan Pendidikan dan Dunia Kerja
Data BPS tersebut menjadi sinyal bahwa persoalan ketenagakerjaan di Indonesia bukan hanya menyangkut jumlah lapangan pekerjaan, tetapi juga kualitas serta relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
Baca Juga: Cek Sekarang! Bantuan Beras 30 Kg Agustus 2026 untuk 33,24 Juta KPM, Ini Syarat dan Jadwalnya
Bagi pendidikan vokasi, tingginya tingkat pengangguran lulusan SMK menjadi evaluasi penting agar proses pembelajaran semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi, digitalisasi, serta kebutuhan dunia usaha.
Di sisi lain, penguatan kemitraan antara sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, dan pelaku industri menjadi kunci untuk mempersempit kesenjangan antara lulusan dengan peluang kerja yang tersedia.
Angka 7,22 juta orang ini menjadi tantangan besar yang membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar lulusan pendidikan Indonesia tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga kompetensi yang benar-benar dibutuhkan di dunia kerja. ***




