POJOKSATU.id – IPB University kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan keluarga di Indonesia melalui penyelenggaraan Training of Trainers (ToT) Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) 2026.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 29 Juni 2026 ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kapasitas para fasilitator agar mampu mendampingi masyarakat sekaligus menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.

Pelatihan tersebut dibuka oleh Wakil Kepala Lembaga Bidang Inovasi, Alih Teknologi, dan Pemberdayaan Masyarakat (LPA2I) IPB University, Dr. Roza Yusfiandayani.

Baca Juga: Jangan Terburu-buru, Revisi UU Hak Cipta Diminta Utamakan Transparansi dan Kepastian Hukum

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi fasilitator menjadi fondasi penting agar program pemberdayaan keluarga dapat berjalan berkelanjutan dan mampu melahirkan inovasi sesuai kebutuhan masyarakat.

"Melalui Training of Trainers ini, para peserta dipersiapkan menjadi fasilitator yang mampu mendampingi masyarakat secara berkelanjutan.

Selain memahami konsep keluarga berkualitas, mereka juga didorong mengembangkan inovasi lokal sesuai karakteristik wilayah masing-masing," ujar Dr. Roza.

Baca Juga: IDI Tegaskan Dokter Icha Lakukan Tugas Sesuai SOP, Sudah Konsul Spesialis Ular Berbisa

Program Terus Berkembang Sejak 2023
Sekolah Keluarga Berkualitas pertama kali dilaksanakan pada 2023 dengan melibatkan 75 peserta dari Kelurahan Balumbangjaya, Kelurahan Loji, dan Desa Benteng.

Sejak saat itu, program ini terus mengalami perkembangan, baik dari sisi cakupan wilayah maupun jumlah peserta.

Pada 2025, pelaksanaan dilakukan secara hybrid dengan melibatkan 56 fasilitator luring, 130 fasilitator daring yang berasal dari 17 provinsi, sekitar 1.800 keluarga binaan, serta 58 Fasilitator Ketahanan Keluarga Pemerintah Daerah Bekasi.

Baca Juga: Dugaan Love Scamming, Sekdis Ruly Bersama Lelaki Lain Sebelum Tewas di Juanda, Suami Diabetes

Memasuki penyelenggaraan tahun 2026, antusiasme peserta kembali meningkat.

Sebanyak 339 orang mendaftar sebagai fasilitator secara daring, sementara 50 fasilitator berasal dari perwakilan desa dan kelurahan lingkar kampus yang menjadi mitra Sekolah Keluarga Berkualitas.

Pelaksanaan tatap muka dipusatkan di Agribusiness and Technology Park (ATP) IPB University dengan melibatkan Desa Cikarawang, Desa Dramaga, Desa Ciherang, Kelurahan Semplak, serta Kelurahan Curug Mekar.

Bekali Fasilitator dengan Pengelolaan Keuangan Keluarga
Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, peserta mendapatkan berbagai materi mengenai pembangunan keluarga berkualitas.

Baca Juga: Sejarah Universitas Subang, Berawal dari Universitas Kutawaringin hingga Jadi Kampus Berwawasan Global

Salah satu sesi pembuka disampaikan oleh Dr. Irni Rahmayani Johan yang membahas tema Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga.

Menurut Dr. Irni, pengelolaan keuangan rumah tangga tidak hanya berkaitan dengan pemasukan dan pengeluaran, tetapi juga memiliki pengaruh besar terhadap keharmonisan keluarga hingga tumbuh kembang anak.

"Kondisi ekonomi rumah tangga merupakan satu penyebab konflik dalam keluarga yang dapat berujung pada perceraian.

Setiap keluarga sebenarnya memiliki sumber daya yang dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Baca Juga: Pemerintah Kembalikan Dana Rp281 Triliun ke Himbara, Siapkan Tambahan Rp100 Triliun untuk Jaga Likuiditas Bank

Namun, kemampuan mengelola keuangan memerlukan kedisiplinan dan pemahaman yang tepat dalam menentukan prioritas pengeluaran," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan merupakan dasar utama dalam mengelola keuangan keluarga.

"Mengelola keuangan keluarga pada prinsipnya adalah melatih diri membedakan antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants)," tambahnya.

Susun Perencanaan Keuangan hingga Prioritas Gizi Anak
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mempelajari tahapan penyusunan perencanaan keuangan keluarga, mulai dari menetapkan tujuan keuangan, mengidentifikasi sumber pendapatan, mencatat seluruh pengeluaran, mengevaluasi keseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran, hingga menyusun anggaran rumah tangga secara sistematis.

Baca Juga: PMII Garut Siapkan Kader Berdaya Saing, Muspimcab I Hasilkan Sejumlah Rekomendasi Strategis

Selain itu, peserta didorong untuk membiasakan menyisihkan sebagian pendapatan sebagai tabungan maupun investasi guna membangun ketahanan ekonomi keluarga dalam jangka panjang.

Materi juga menekankan pentingnya menyusun skala prioritas pengeluaran dengan mendahulukan kebutuhan pokok, seperti pangan, pendidikan anak, cicilan, serta tabungan.

Tidak kalah penting, alokasi anggaran untuk pemenuhan gizi anak menjadi perhatian utama karena berperan dalam mendukung tumbuh kembang, mencegah stunting, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Melalui pelatihan ini, para fasilitator diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh sekaligus menyebarluaskan pemahaman mengenai pengelolaan keluarga berkualitas kepada masyarakat.

Penguatan kapasitas fasilitator menjadi salah satu langkah nyata agar semakin banyak keluarga Indonesia memiliki ketahanan ekonomi, hubungan yang harmonis, dan kualitas hidup yang terus meningkat. ***